Kala Rintik Hujan di Atas Bukit

Kala senja menyapa membuka kembali luka yang belum lama tertutup.

Entah karena lemahnya hati atau karena kisah yang terlampau berat yang terus membawa air ke dasar.
Kala senja menyapa, terpikir rasa yang bergelut di dada mengharap masa lalu kembali datang.

Bukan, bukan masa lalu yang menyesakkan, tapi masa lalu yang seakan-akan membuat diri melambung ketika mengingatnya.
Masa lalu di mana sedih pun takkan menjadi duka yang menyayat siapapun yang merasakannya.
Masa lalu kala rintik hujan bahkan menjadi alasan untuk memberi kasih satu sama lain.

Kala rintik hujan di atas bukit, aku bermimpi untuk bertemu sang idaman yang selalu ingin kupeluk dan kugenggam hingga ujung panah mengambil salah satu dari kami.
Kala rintik hujan di atas bukit, aku membayangkan betapa nikmatnya mengecap hal manis yang tercipta akan tulusnya kasih sayang.
Kala rintik hujan di atas bukit, aku berharap dapat merasakan hangat peluknya yang dulu takkan pernah mau kulepas.

Aku merindukan semua kenangan manis di sana.
Kenangan yang memabukkan yang membuat siapapun yang merasakannya tidak dapat lepas darinya.
Kenangan yang beberapa hari lalu baru kutinggalkan untuk menggapai apa yang ingin kudapatkan.

Kala rintik hujan di atas bukit, kumohon berhentilah memojokkanku dengan beribu hujatan rindu yang tak dapat diimbangi dengan satu genggam tanggung jawab.
Kala rintik hujan di atas bukit, mohon bawa aku ke alam di mana rasa percaya dan rela menerima menghujaniku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s