Pengamen Kecil dan Kecrekannya

Tadi sore ketika di bus umum. Seperti biasa, bis ngetem menunggu penumpang. Aku masih memikirkan, membayangkan tentang rumah. Memikirkan makanan enak, memikirkan tidur di kasur yang empuk, pokoknya memikirkan segala kenikmatan ketika di rumah.

Bis pun mulai penuh. Ketika hendak berjalan, datanglah seorang anak kecil sekitar 8 tahun dengan baju kedodoran dan muka dekilnya, ia pun langsung bernyanyi dan memainkan kecrekannya.

Aku pun berfikir. Memikirkan apa cita-cita anak itu kelak. Tentu ia ingin melanjutkan sekolah, kuliah dan bekerja yang layak. Mungkin juga ia bermimpi menjadi dokter, pilot, atau hal lain yang pastinya lebih tinggi dari hanya sekedar menjadi seorang pengamen.

Tapi dengan apa yang ia kerjakan, rasanya sulit untuk itu. Ditambah mungkin orang tua yang tak lagi peduli dengan mereka.

Kudengar suaranya yang tak merdu menyanyikan bait demi bait yang kupikir itu adalah karangannya sendiri. Kulihat postur tubuhnya dari belakang, sangat kurus, dekil, dan baju yang ia kenakan begitu besar hingga membuatnya seperti terkurung dalam baju itu. Kulihat lagi ke bawah, dia masih mengenakan celana sekolahnya. Yang mungkin itu adalah celana kebanggaannya. Kulihat terus sampai kakinya, tanpa alas. Sungguh aku berfikir, aku yang sudah besarpun tak kuat jika berjalan di aspal panas tanpa alas, apalagi dia? Seorang pengamen kecil yang bisa saja berjalan jauh ke tempat-tempat lain, di hari dan cuaca yang panas, tanpa alas kaki.

Dia pun berjalan meminta uang ke belakang bus. Kulihat wajahnya. Dekil, hitam, dan ada sedikit panu di pipinya. Sangat terlihat urat-urat pilu di wajahnya. Matanya pun layu bak orang yang tak pernah merasakan tidur yang nyenyak.

Uang 500 perak pun sangat berharga untuknya, yang mungkin bagi kita sudah tak berarti..

Ia pun turun. Kulihat dari luar jendela. 5 pengamen kecil dekil, sedang berebut 1 bungkus kecil roti. Mereka terlihat begitu senang ketika mendapatkan makanan. Makanan yang mungkin tak bisa selalu mereka makan. Makanan yang biasa menurut kita, terlihat begitu mewah untuk mereka.

Ketika roti mulai habis, mereka sang pengamen kecilpun mulai menggerakkan tangannya dan memainkan kecrekan sembari menyanyi mengelilingi orang di sekitar halte lagi.

Itu yang sering kulihat disana. Pengamen kecil dan kecrekannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s