Love Love Love Papa

“papaa.. Senta berangkat yahh..” kataku kepada papa sambil mencium tangannya.

Papa pun membalasnya dengan belaian lembut dan ciuman hangat di keningku. “hati-hati ya sayang.. Belajar yang bener..” kata papa sambil memelukku..

Ya.. Hanya papa yang bisa aku sayangi. Hanya papa yang selalu ada disampingku. Hanya ada papa. Hanya papa.. Aku pun berangkat dengan hati gembira. Hari ini hari pertamaku masuk sekolah baru. Yap! Aku pindah sekolah lagi. Karena tugas papa yang mengharuskan untuk berpindah-pindah, akhirnya aku selalu ikut papa. Awalnya papa ingin menitipkan aku kepada oma, tapi aku menolak. Aku ingin selalu berada didekat papa. Karena hanya ada papa. Papa yang merawatku dari kecil, tanpa ada campur tangan mama…


“Namaku Senta Yudha” kataku memperkenalkan diri dihadapan puluhan mata yang sedari tadi memperhatikanku. Yap! Guru dan teman-teman baruku. Masih terasa asing bagiku berada dikelas ini.

Aku. Senta Yudha. Sebenarnya itu adalah nama gabungan mama dan papaku. Mamaku bernama Senta, dan papaku bernama Yudha. Aku beruntung memiliki nama itu. Aku duduk dibangku sekolah kelas 3 SMA. Dan dalam semester pertama ini, aku sudah 3 kali pindah sekolah demi untuk selalu bersama papa. Papa yang aku sayangi. Papa yang selalu ada untukku.

“papaaa.. Senta pulang…” kataku dengan penuh gembira. Ya. Aku gembira karena sudah pulang sekolah dan bisa bertemu papa.

“papa gak ada.” kataku lemas ketika melihat sepucuk surat dimeja kerja papa.

“sayang.. Maafkan papa. Untuk malam ini papa gak bisa pulang. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan secepatnya. Papa sudah siapkan makanan untukmu dimeja makan. Love, papa.” begitulah isi surat dari papa.

huh.. Sendirian lagi. Sepi. Aku pun mulai memikirkan papa. Papa lagi apa? Udah makan belum ya? Aku terdiam. Mamaa.. Aku gak pernah tau siapa mama. Kata papa, mama itu ya aku. Aku mirip sekali dengan mama. Mama yang tak pernah ku lihat. Papa sangat mencintai mama. Hingga ia rela menduda dan rela membesarkanku seorang diri. Sungguh pekerjaan yang berat. Aku terdiam lagi. Mama? Aku ingin merasakan lembutnya belaianmu, ingin merasakan hangatnya pelukmu. Batinku. Aku tak merasakan apa-apa hingga aku tersadar akan pipiku yang sudah basah. Aku menangis.

Disaat papa bekerja, seharusnya mama yang menemaniku. Tapi kenapa? Kenapa tuhan? Kenapa engkau tak mengizinkan aku untuk melihat mamaku. Keluhku. “Kenapa tiba-tiba aku nangis gini? Gak. Aku gak boleh nangis. Kata papa aku harus kuat. Harus kuat seperti papa. Harus kuat!” kataku mantap.

Pagi harinya, papa belum juga pulang. Papa kemana? Biasanya papa udah ngabari aku kalo gak pulang. Batinku mulai cemas.

Dikelas aku tak konsentrasi. Melamun memikirkan papa, hingga aku ditegur guru. Saat istirahat pun aku habiskan untuk memikirkan papa. Hanya papa.

Sampai dirumah, ternyata papa belum pulang juga. Ya tuhann.. Papa kemana? Aku takut papa kenapa-napa. Doaku dalam-dalam. Papa belum pulang sejak kemarin sore. Kali ini aku benar-benar cemas.

Aku pun termenung sendiri dikamar. Air mataku terus berlomba-lomba untuk keluar dari mata sembabku. Dari tadi aku menangis. Aku sudah menghubungi papa. Gak diangkat. Aku ingin menghubungi tempat kerja baru papa, tapi aku tak tahu sama sekali. Kali ini aku benar-benar pasrah. Tuhaann.. Jagalah papa.. Doaku pada tuhan.

Kriiingg.. Kriiiinngg…..

Suara telepon berbunyi. Aku buru-buru mengangkat gagang telepon dan berharap kalau yang menelpon adalah papa.

“halo.. Dengan kediaman Bapak Yudha Wijaya.” kata orang yang suaranya tak ku kenal.

“iya benar. Ada apa?”

“maaf.. Dengan sangat menyesal saya kabarkan. Bahwa pak Yudha Wijaya telah tiada. Dia terkena penyakit jantung saat sedang bekerja. Saat ini jasadnya berada di RS. Mitra Ananda.”

deg.. Bagai badai yang menghempas jantungku, bagai lautan yang menghanyutkanku.. Papa.. Papa pergi.. Pergi untuk selamanya.. Aku gak mau papa pergi.. Aku mau sama papa.. Aku gak bisa hidup tanpa papa. Papa selalu ada untukku. Papa gak boleh pergi. Aku gak mau kehilangan papa. Aku mau tetap bersama papa.. Batinku mulai sesak.

Aku tak sanggup melihat jasad papa yang sudah terbujur kaku. Aku gak sanggup liat orang yang paling aku sayangi meninggal. Aku gak sanggup.

“paapaaaa…” teriakku histeris saat melihat jasad papa. Pucat. Tak ada lagi tanda-tanda kehidupan. Papa sudah benar-benar meninggal. Papa sudah benar-benar tiada. Tak ada lagi papa disampingku. Tak ada lagi orang yang aku sayangi.. Batinku sesak.

“beliau meninggal karena penyakit jantung, mbak. Mungkin karena kecapekan.” kata seseorang dibelakangku. “mbak yang sabar yah. Saya yakin, pak Yudha sangat menyayangi mbak.” hibur orang itu. Rupanya dia orang yang tadi menelpon. “sebelumnya pak Yudha sempat kritis. Tapi ia tak mau ada keluarganya yang tahu. Iya tak mau penyakitnya menjadi beban untuk anakknya.” tambah orang itu lagi. “dan ini, mbak. Ada titipan dari beliau sebelum beliau meninggal.” menyerahkan secarik kertas kepadaku. “saya sudah siapkan pesawat untuk jasadnya dan mbak berangkat ke jakarta.” tambahnya, dan kali ini orang itu pergi keluar kamar tempat papa terbaring kaku.

“papaa.. Kenapa papa tega tinggalin senta?? Kenapa pah?? Senta sayang papa..” isakku.

Tak ada jawaban. Ya. Karena papa memang telah pergi.. Pergi untuk selamanya..

***

Hari pemakaman tiba. Aku gak rela papa dimakamkan dan dipendam dalam tanah. Aku gak kuat melihatnya. Aku gak bisa liat orang yang aku sayangi pergi meninggalkanku. Aku sayang papa.

“sudah, nak. Ayuk kita pulang. Papa sudah bahagia disana. Kita harus ikhlas.” kata oma menghibur sambil menahan air matanya.

Aku dan keluarga pun meninggalkan papa. Hanya papa sendiri di liang lahat.

Aku duduk ditepi kasur. Masih dengan mataku yang sembab. Papa.. Aku menangis lagi. Teringat surat yang dititipkan orang tadi. Aku membukanya perlahan.

“putri kecil papa yang cantik,,”

aku pun kembali meneteskan air mata.

“ketika kamu membaca surat ini, mungkin papa telah tiada.”

air mataku kian deras membasahi pipiku.

“maafkan papa, sayang. Maafkan papa. Papa sudah tak sanggup menahan rasa sakit ini. Rasa sakit yang sekian lama telah papa rasa. Papa tidak mau kamu ikut merasakan rasa sakit yang papa derita.” rupanya papa memang telah lama mengidap penyakit jantung. Tapi kenapa papa gak pernah bilang? Tanyaku dalam hati. Aku pun mulai membaca surat itu lagi. “sayang.. Segala sesuatunya sudah tuhan tentukan. Juga kematian papa. Ini sudah takdir. Ingat. Kamu harus kuat! Anak papa adalah anak yang berhati baja! Tidak lemah! Janganlah kamu tangisi papa, nak. Papa ingin kamu mengikhlaskan papa.” mataku mulai sakit. Dadaku juga mulai sesak. Lalu aku melanjutkan membaca paragraf terakhir. “cantik, doakan papa dan mamamu, ya.. Papa dan mama akan terus bersamamu. Papa dan mama selalu menemani kamu. Dari sini kami akan melindungimu. Sekali lagi maafkan papa ya, sayang. Love, papa.”

 “papa dan mama akan terus bersamamu.. Selamanya…”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s