Gue Temukan Jawabannya!

Kisah mengenai kehidupan pertemanan gue dengan dua orang pria itu memang cukup rumit. Mungkin gue sih yang membuat semua itu rumit. Tapi ya gimana, itu yang gue rasakan. Dan mereka juga udah tahu. Tapi mungkin, mereka masih bingung, akan mereka apakan gue. Akan gimana mereka ke gue? Jaga perasaan gue, atau gimana? Iya ngga?

Awalnya gue optimis. Optimis banget bahwa akan ada perubahan ketika gue cerita. Bahkan ketika mereka chat ke gue, mereka berhasil membuai gue dengan kata-kata manis yang tercipta dari ketikan jempol mereka. Eh. Malahan engga. Buktinya, gue ngerasa apa yang mereka lakukan ke gua sama aja. Bahkan makin canggung. Gue yang sudah berusaha semampu gue untuk tidak baper, akhirya baper. Gagal lagi gue. Dan gue rasa mereka akan begini seterusnya.

Yaudah. Akhirnya gue putuskan untuk menghindar lagi. Menghilang lagi.

Boleh kita flashback sedikit ke hari kemarin ketika gue menangis karena mereka (lagi)?

Oke. Jadi kemarin gue bener-bener galau. Gue kepikiran lagi soal kemarin saat kita sama-sama datang gathering. Bayangkan. Mood gue turun seketika ketika mereka (pria itu, teman dekatnya, dan sisa dua lagi anak organisasi yang sama dengan kami) gabung bersama dan gue ngga bisa. Mungkin penyakitnya di gue. Da gimana lagi? Gue memang begini. Gue pun benci dengan diri gue yang begini. Bener-bener benci.

Pagi ketika berangkat gathering kemarin gue masih bisa ketawa ketiwi dan masih bisa terbawa suasana yang asik bersama mereka. Siangnya setelah main game, engga demkian lagi. Mereka gabung berempat saat makan, dan gue lebih memilih bareng yang lain demi menjaga kedekatan dengan rakom lain. Gue mencoba untuk terlihat terbuka dengan rakom lain.

Lalu di alam sadar gue, gue berharap, pria itu -yang pagi hari sebelum kita ketemu gue sms “Amel mau ngomong. Penting. Tolong sediain waktu untuk kita ngomong berdua. makasih.” dan dibalas, “Oke nanti kita ngobrol ya.”- datengin gue dan membawa gue ke tempat di mana kita bisa cerita berdua. Dan engga. Dia malah dengan enaknya ketawa ketiwi. Ya ngga salah. Di sini sepenuhnya salah gue, karena gue ingin tahu seberapa dia dapat menjaga kata-kata manisnya. Ternyata hanya di chat line aja. Gue salah besar. Padahal sebenarnya yang ingin gue omongin bukan tentang masalah kami, tapi murni masalah organisasi. Tapi apa boleh buat, mood gue sudah hilang dan ngga ada alasan jelas untuk kita bedua memisahkan diri dari temen-temen yang lain.

Selesai gathering, gue pulang memisahkan diri dengan mereka dan diam-diam menangis di Geulis. Salahkah gue menangis lagi? Salahkah gue bersikap demikian? Gue memang ngga asik. Gue akui. Gue memang begini. Gue sadar.

Kemarin pagi, gue terbangun dengan sekelebat bayangan pria itu. Gue kembali sesak. Gue berusaha untuk mengeluarkannya tapi gue ngga bisa. Akhirnya gue telpon salah satu teman terbaik gue saat ini, dan gue nangis sejadinya. Gue bisa nangis! Gue nangis seketika menyadari bahwa gue mungkin akan kehilangan mereka berdua lagi karena salah satu dari mereka sudah baikan sama temannya, dan mungkin akan dekat lagi. Dan mungkin gue akan ditinggalkan lagi.

Sebentar kok gue nangisnya. Tapi bener-bener di situ gue mengeluarkan sisa-sisa kekuatan gue untuk berhenti mengeluarkan air mata brengsek itu. Dan akhirnya gue bener-bener berhenti.

Malamnya, gue kembali bercerita dengan teman-teman gue (anak-anak psikopad gelo) mengenai keresahan gue sedari pagi. Gue minta supaya mereka membantu gue melakukan semacam terapi agar gue bisa menangis sejadinya dan memulai hal yang baru dengan hati yang lega. Dan sialnya mereka malah ngga bikin gue nangis, yang ada gue malah ketawa-tawa. Dan disitu gue menyadari kalo gue punya mereka yang care sama gue dan selalu bisa bikin gue ketawa bahkan di saat gue ingin menangis. Love yu Mak, Mpok, Ay, Tae! :*

Empok dan Ay memang nampaknya adalah penyemangat terbaik dan perempuan dengan wawasan yang luas yang membuat gue berpikir. Mereka bilang yang intinya, “Mereka yang pergi ketika mereka ngga butuh lo, mungkin itu hanya di perasaan lo. Bisa jadi bukan karena mereka ngga mau bareng sama lo, tapi mungkin karena mereka ngga bisa membawa lo ke dalam grup mereka. Dan nyatanya, ketika kalian tanpa teman-teman mereka, kalian bisa tetap have fun kan? Ngga melulu kita bisa cocok dengan semua orang. Apalagi ketika lo sudah masuk ke dalam grup yang mereka di dalamnnya udah dekat. Lo ngga bisa maksain diri lo untuk masuk grup yang bukan elo, Mel.”

Dari kutipan di atas, gue menyadari. Memang ngga sepenuhnya itu salah mereka berdua. Mereka mungkin bingung gimana membawa gue ke dalam grupnya. Mereka mungkin bingung gimana cara menyatukan gue dengan kedua temenya yang mereka tahu kalau gue bersama kedua temannya itu, gue ngga akan nyambung. Ini asumsi kedua, yang mungkin bisa mematahkan asumsi teman gue, Maru dan Encik, yang dengan cerita sama mereka gue bisa menangis sedalam-dalamnya.

Asumsi pertama dari Maru dan Encik, “Mungkin dia mengorbankan Amel. Jadi si Yeye kan sifatya keras, ngga bisa diatur, sedangkan amel jauh lebih selow dan pengertian. Mungkin dia ngga sepenuhnya sih mengorbankan Amel. Tapi mereka cenderung mempertahankan Yeye. Ini kalo dilihat dari chat Amel sama dia. Atau mungkin, dia memang ingin balik lagi berempat sama grupnya itu lagi. Mungkin dia ngerasa kehancuran di grupnya karena perlakuannya ke Amel, jadi dia chat baik-baikin Amel karena dia udah ngerasa karmanya. Makanya dia bilang menyesal. Dia ingin tahu langsung ceritanya dari Amel, tapi mungkin dia bingung harus ngelakuin apa. Nih buktinya, dia hanya tanya-tanya, tapi dia ngga ngasih penjelasan apapun.”

Dan asumsi pertama ini terpatahkan seketika asumsi kedua gue dengar. Mungkin benar juga kata Empok dan Ay, bahwasanya mereka mungkin bukan anti dengan gue atau jahat sama gue. Mungkin ada suatu hal yang mengharuskan mereka untuk selalu berinteraksi bersama. Mungkin keadaan mereka lah yang mau ngga mau membuat mereka demikian. Dan gue ngga pantas menyalahkan karena ini murni dari perasaan gue yang terlalu melebihkan. kembali lagi ke apa yang selalu gue pertimbangkan ketika igin cerita sebenarnya ke mereka, hal yang selalu gue pertanyakan, “Siapa guebuat mereka?” Hanya sekerdar teman. Itu jawaban yang paling gue takutkan. Mungkin itu jawaban mreka ketika gue tanya demikian.

Sekarang gue semakin menyadari kalau gue ngga pantes menyiksa diri sendiri dengan memikirkan mereka yang belum tentu memikirkan gue. Gue akan mencoba merelakan hal ya…. yang memang sebenarnya sih ngga pernah gue miliki, untuk pergi. Miris banget kata-kata gue yang satu ini haha. Gue akan biarkan mereka, terserah apapun yang mereka lakuin bersama, gue akan mencoba untuk bersikap sewajarnya, ngga berlebihan apalagi sampai nangis dan sesak sendiri.

Gue pasti bisa, kok. Banyak orang-orang yang sayang sama gue, ngga seperti mereka yang mungkin ingat gue ketika mereka ada mau, dan pergi ketika mereka merasa ngga ada apa-apa lagi yang harusnya kita lakuin bersama. It’s okay. Gue akan baik-baik aja selama gue merasa begitu kan?

Sekarang gue sudah menemukan jawaban, dan gue sedang belajar untuk ngga ambil pusing dengan menyiksa diri gue. Gue akan berhenti memikirkan kalian. Jangan rindukan Amel ya! Jangan minta Amel balik kayak dulu, karena percuma 🙂

Amel pergi.

Loveyosomuch, Mpok, Mak, Ay, Tae, Maru dan Enciiikk!!! :*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s