Meringis (lagi dan lagi)

Kadang gue masih ngga mengerti kenapa diri ini susah lupa akan hal-hal yang berkaitan dengan emosi. Sulit sekali melupakan hal yang sudah bikin kita menangis sejadinya. Padahal jelas kita tahu itu menyakitkan. Ada sih teori yang menjelaskan ini. Gue belajar, dan gue lupa 😦 hiks

Kemarin gue semacam merasakan hentakan maha dasyat lagi ketika seseorang yang bersangkutan membaca postingan yang gue buat beberapa waktu lalu. Heran sih gue. Gue sudah susah payah ikhlas dan melupakan itu semua, dan tiba-tiba ada yang mengungkit. Mungkin dia baru baca, entah dari mana dia tahu postingan itu.

Gue ngga mau ambil pusing ribut-ribut ngga jelas dan akhirnya sampai pada keputusan menghapus postingan itu (gue pindahin ke wordpress kok tenang) HAHAHA. Gue kaget sih awalnya, dan hampir saja meledak. Tapi dengan kekuatan badak campuran gajah dan dugong yang gue punya, akhirnya semua tertahankan. Gue malah ketawa. Tapi seketika juga miris. Perlu diceritain isinya? Ngga perlu lah sakit hehehe *meringis*

Singkatnya, gue semakin menyadari bahwa gue memang ngga pernah dekat dengan siapapun di antara mereka. Siapapun sekalipun. Itu hanya afeksi yang gue rasakan mengingat mungkin gue memiliki keinginan berlebih untuk punya kakak laki-laki (sekali lagi gue meringis). Perasaan yang tercipta pun hanya sebatas kecemburan sosial yang sebenarnya ngga perlu.

Memang mereka dekat ya karena dekat, bukan karena ada yang merebut atau direbut. Gue ngga menyalahkan siapapun kecuali diri gue yang punya perasaan tolol ini kok. Semua orang ngga pernah tau kan gue dekat dengan beberapa dari mereka? Ya mungin memang ngga pernah, gue sadar. Hanya perasaan afeksi tolol yang berlebihan dari perempuan yang ngga kalah tololnya, gue. Memang nyatanya ngga ada buktinya sih, ngga seperti mereka yang punya grup di line, punya foto studio, selalu update ketika bersama. Iya gue lagi-lagi menyadari kalau gue bukan siapa-siapa.

Ngga ada yang membela gue kan? Semua pasti menyalahkan ketololan ini. Dan mungkin nantinya akan ada yang menganggap gue merebut beberapa dari mereka. Itu yang gue takutkan. Belum terjadi sih dan semoga ngga akan.

Dan ketidakpernahdekatan ini lagi-lagi membuat gue menangis. Kok bisa gue setolol dan sehina ini ya? Harga diri gue bagai diinjak-injak oleh diri sendiri loh ini. Ngga terima gue haha. Tapi mau gimana lagi? Memang yang gue rasakan demikian. Afeksi tolol yang berlebihan. Kenapa ya harus ngerasain macam afeksi gini sama mereka? Seperti ngga ada orang lain yang bisa merasakan hal yang sama ke gue aja.

Lalu gue cerita lagi sama Maru, teman terbaik gue saat ini dan harapannya seterusnya begini. Ini kutipan kata-katanya (yang dalam kurung itu tambahan dari gue),

“Aku juga sekarang berpikir, ternyata di dunia ini ngga ada yang namanya sahabat (kecuali dia yang butuh terus dateng, ngga butuh terus ngga ada). Aku rasa, menemukan sahabat itu butuh waktu dan proses (atau bahkan ngga akan pernah ketemu?) Di dalam kenyamanan pun ada resikonya (ya contohnya seperti afeksi yang gue rasakan, yang hanya gue saja yang merasakan. *Anjing! miris gue sumpah!). Kepercayaanku tentang sahabat mulai pudar ketika kita selalu berkorban buat orang yang udah kita anggap ada nilainya, eh orang itu malah nyaman sama yang lain (memang ngga bisa dipaksain sih, tapi seenggaknya kan orang bisa belajar peka).Pada saat kita butuh untuk bertukar pesan, curhat, dia ngga ada. Di saat kita sedih, dia malah pergi. Di saat bahagia aja dia datang.”

dan gue menanggapinya dengan bijak seakan gue paling bisa ikhlas ketika gue digituin. Ini gue hanya mencoba berdamai dengan hati gue sih.

“Iya bener. Walau kadang sulit untuk menerima, sulit untuk menahan sakit. Sulit banget. Kadang kita hanya melihat sesuatu dari perspektif kita, dan itu ngga salah. Sangat wajar, apalagi ketika ngga ada orang yang bisa kita ajak berbagi. Kita bingung mencari orang yang peduli. Padahal dia deket. Teman sejati itu kadang tak terlihat.”

Anying banjeeerrrrr aaaaaaaaaaaaaakkk

Bener banget apa yang udah kita perbincangin ini. Buat apa kita menangisi orang yang ngga pernah ada saat kita butuh. Mungkin sesekali pernah. Sekali. Seterusnya? Entahlah. Kita harus sayang sama diri sendiri bukan? Menangisi orang lain yang ngga peduli dengan kita itu untuk apa coba? Tiada manfaatnya.

Pegang sumpah gue. “GUE BERSUMPAH NGGA AKAN LAGI BERSIKAP KAYAK GINI. GUE BERSUMPAH AKAN MENGHORMATI DIRI GUE. GUE BERSUMPAH, MULAI DETIK INI DAN SETERUSNYA GUE AKAN BUAT DIRI GUE BAHAGIA. BAHAGIA.”

Yah. Hati gue sudah sekuat baja dan ngga akan retak. Terima kasih akan segala rasa sakit yang membuatku belajar bagaimana menjadi teman yang baik. Iya. Teman yang baik bukan seperti kalian bukan? Untuk aku ya, mungkin yang lain ngga merasa demikian. Mohon maaf barangkali ada yang tersinggung seperti malam kemarin.

Bytheway selamat ulang tahun, kak! Biar doaku untukmu hanya Allah yang tahu…….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s