Welcome 2015!

Welcome 2015! No more sadness yeah!

Di atas merupakan harapan terbesar gue di tahun 2015. Nampaknya harus diganti.

Welcome 2015! Welcome happiness yeah!

Nah. Yang ini lebih pas. Ingat pelajaran Kognitif yang disitu dikatakan bahwa kita akan lebih sulit mencerna kata yang mengandung kata “tidak” atau “no” atau kata yang mengandung kata negatif? Ya. Jadi harapan gue ketika mengubah kalimat di atas adalah di otak gue yang berputar bukan kata sadness tapi happiness. Gue siap menyambut kebahagiaan di tahun 2015, bukan sepenuhnya menghindari kesedihan. Kan sesuai dengan resolusi pertama gue di tahun 2015 ini yaitu “Always makes ownself HAPPY!”.

Kata tidak ini menjadi sangat penting. Mengingat di tahun 2014 mungkin gue salah dalam menuliskan harapan. Seperti:

1. “No procatinator anymore”, yang seharusya gue ganti menjadi “harus tepat waktu!”, lalu

2. “No nasi, no noodle”, yang seharusnya gue ganti jadi “makan sayuran wajib”, lalu

3. “Jangan boros”, yang seharusnya gue ganti jadi “hemat”,

4. dan jangan jangan lainnya.

Dari semua harapan yang gue tulis, hampir semuanya berhasil terlaksana. Hampir. Nyatanya belum. Gue masih sering mengerjakan tugas H-jam dikumpulin, belajar untuk ujian juga masih selalu dengan SKS (Sistem Kebut Semalam), bangun jam 8 padahal jam 9 ngampus. Gitu deh. 2014 hidup gue masih sepenuhnya berantakan. Walau program diet yang “No nasi, no noodle” itu sempat berjalan 2 minggu, tapi setelahnya yaaa begitulah. Napsu makan gue setelah ngga menyantap nasi selama 2 minggu menggila seketika gue makan nasi kembali.

Intinya sih, mungkin gue belum sepenuhnya termotivasi dengan tulisan-tulisan yang gue tempel di tembok itu. Atau mungkin bisa jadi karena penggunaan kata “tidak” yang menjadi permasalahan juga dalam diri terdalam gue. Jadi, apa salahnya ganti resolusi di tahun 2015 dengan menghilangkan kata tidak? Yeah I’ll do it.

Sedikit tentang 2014.

Rasa 2014 boleh dibilang nano-nano. Awal tahun, gue bahagia setengah mati karena “for the first time of my life, I’ve been dating with my (ex)boyfriend”. Bayangkan. Ini adalah pengalaman pertama kalinya. Cukup mengesankan sih, namun berakhir dengan sangat mengecewakan. Yang mau tau sepenggal kisahnya, mangga baca “Kangen, terus ngelantur” .

Lalu setelah putus dari (EXtraordinary)boyfriend itu gue disibukkan oleh PSM yang membuat gue lupa waktu. Makan sekali sehari dan baru sadar setelah mual terasa. Gue pun terlihat kurusan loh beneran deh rekor! Hihiiii. Terus setelah bahagia dengan berhasil bertahan hampir 3 bulan dengan suasana latihan yang menyiksa, gue dirundung kesedihan lagi karena belum ditakdirkan untuk mengikuti konser tahunan PSM Unpad. Tapi ada hikmahnya loh. Gue jadi dekeeettt banget sama papa setelah cerita kesedihan ini ke beliau.

Setelah move on dari perasaan sedih karena belum ditakdirkan untuk mengikuti konser tahunan PSM Unpad, gue menemukan fakta mengejutkan mengenai teman gue yang (dulunya) gue anggap dekat (sekarang gue malu mengakui statement ini mengingat sebenarnya kita ngga pernah dekat sedikitpun) kalo mereka dekat dengan orang lain. Dan menemukan fakta bahwa memang ada keterikatan diantara mereka, yaa gimana ya. Gitu deh.

Perasaan kehilangan dan dikhianati ini seperti benang. Tarik ulur. Kadang dua orang ini membuat gue nyaman dengan segala keluh kesah yang mereka bagi ke gue, namun seringkali mereka (mungkin) melupakan gue atau mengingat gue namun ngga sedalam ke kedua teman dekat mereka itu (menurut gue, dan ini tidak mengada-ngada). Hal inilah yang membuat gue bertanya-tanya, “siapa gue buat mereka?” dan mereka belum menjawabnya hingga sekarang.

Perasaan tidak bahagia karena keadaan di atas masih sedikit ada hingga sekarang. Tapi gue udah janji, gue akan buat diri gue bahagia. So, there’s no reasons again to cry because of them, right?

Selama setahun lebih mengenal mereka memang gue akui cukup menguras tenaga gue lahir dan batin. Gue hampir ngga pernah bisa menyembunyikan rasa bego yang gue rasain ketika that two guys bareng sama their women dan itu terus-terusan. Mengganggu banget sampai-sampai membuat gue buta. Gue jadi ngga bergairah untuk siaran (kalau ada mereka), gue ngga konsen belajar, gue galau berkepanjangan, gitu-gitu deh.

IP gue semester 2 pun turun drastis. Bukan hanya karena mereka sih. Di semester dua (awal tahun 2014) banyak sekali cobaan yang menggangu gue, seperti PSM, BEM, (ex)boyfriend yang kampret, RadioMU, kegiatan kepanitian-kepanitiaan, dan mereka. Faktor terbesarnya sih dari diri gue yang masih susah membagi waktu dan susah fokus juga menggampangkan segala hal. Sifat jelek golongan darah B memang, “terlalu santai” dan “terlalu overconfidence“. Bayangkan. Sudah terlalu, over lagi.

Itulah sedikit kesalahan gue di tahun 2014 yang masih gue ingat dengan jelas. Walaupun gue sadar bahwa ada banget hal-hal positif yang gue dapatkan di 2014, seperti temen gue tambah banyak (dari BEM, RadioMU, PSM, kepanitiaan, relasi FRKB, daaann dari mana mana deh), terus upgrading kemampuan kepemimpinan gue juga mengingat di BEM, RadioMU juga PSM apalagi kepanitiaan-kepanitiaan yang gue ikuti gue diajarkan untuk menjadi orang yang tangguh dan orang yang disukai yang tentu akan berguna untuk mengembangkan kemampuan leadership gue. Sampailah pada pencapaian tertinggi gue di akhir tahun 2014, gue menjabat sebagai Co. General Manager di Radio Mahasiswa Unpad.

Itulah yang akhirnya meningkatkan self-esteem gue bahwa ternyata, gue masih dianggap ada dan dibutuhkan loh. Akan sangat salah ketika gue tidak menghargai diri gue sendiri bukan? Self-efficacy yang gue miliki juga meningkat seketika. Gue makin merasa mampu di bidang yang gue geluti sekarang (di RadioMU ya haha).

Ke depannya, akan gue pastikan bahwa hal bodoh seperti galau berlebihan, malas berlebihan, nunda tugas dan nunda belajar berlebihan, akan berkurang. Gue ngga menjanjikan akan tidak ada yang demikian ya. Hanya berkurang. Untuk berubah memang dibutuhan waktu yang ngga sedikit bukan?

Namun hal yang bisa gue janjikan untuk diri gue sendiri adalah “gue akan semakin bangga menjadi diri gue yang begini, akan menyanyangi dan menghargai diri gue dengan selalu bahagia apapun yang terjadi, dan gue sudah siap menyambut kebahagiaan itu di 2015!”

Ngga nyangka. H-8 bulan menuju kepala dua. Gue semakin dewasa, dan ngga akan balik lagi ke masa dimana gue masih netek sama emak gue. Malah pasti dalam beberapa tahun ke depan gue yang akan nyusuin anak gue kan? haha. Terkadang hidup memang lucu. Itulah mengapa kita harus bahagia. Tidak lain tidak bukan adalah untuk menikmati hidup itu sendiri.

Yeah! Gue siap! Welcome 2015! Welcome happiness!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s