Perasaan Lelaki: Perempuan, Siapa Bisa Nebak?

tumblr_lef7zwCvCO1qc267jo1_500_large

Source: Here.

Postingan kali ini gue adaptasi langsung dari curahan hati gue ketika bercerita sama seorang lelaki brewokan dari kampung gue. Sebut saja Agen F. Bukan hanya gue yang bercerita di sini. Dia juga. Kami saling berbagi cerita di perjalanan kami yang lumayan panjang.

Lo, kalo lo teman dekat gue, pasti sangat paham dengan sifat gue yang satu ini. Suka bertanya (yang mungkin menurut kebanyakan orang) itu ngga penting. Dan yang paling tidak penting lagi ketika gue bertanya yang tidak penting adalah biasanya gue bertanya di sela keheningan gue dan teman gue berada. Tapi sejujurnya, pertanyaan yang gue ajukan adalah pertanyaan yang sangat ingin gue ketahui jawabannya. Pertanyaan yang kali ini gue cecer banget ke temen gue satu ini adalah mengenai perasaan lelaki. Kebetulan Agen F ini lelaki tulen.

Kebanyakan perempuan mungkin mengira, lelaki itu ngga punya perasaan. Suka PHP, suka mainin perasaan perempuan, ngga mengerti perempuan, mau menang sendiri, ngga peka, dan ngga ngga lainnya. Padahal?

Padahal mungkin persepsi kita (perempuan) yang demikian. Kita kaum perempuan terlalu banyak merasakan afeksi ketika dekat dengan lelaki karena lelaki mudah membuat dirinya nyaman dimanapun dan dengan siapapun. Tapi perempuan, senggol dikit bacok, kotor dikit jijik, dipegang dikit rasanya kayak kesamber petir (padahal belum pernah ngerasa disamber petir kan?). Ya itulah perempuan.

Percakapan pertama dibuka dengan cerita gue mengenai seorang lelaki yang akhir-akhir ini mengganggu pikiran gue (lagi). Gue cerita kalau gue punya teman lelaki yang dulu (menurut gue) kita dekat. Tapi dia main sama orang lain dan gue merasa ditinggalkan.

Setelah mengakhiri cerita, gue pun bertanya. “Terus kenapa dia (temen gue) begitu? Emang dia ngga nyaman sama aku dan lebih nyaman sama cewek itu?” dan langsung dijawab sama Agen F. “Bisa jadi. Tapi bisa jadi juga kamu memang yang ngga ada waktu buat dia. Tadi katanya kamu sibuk. Atau mungkin kamu yang terlalu baper. Cewek gini nih. Aku juga deket sama banyak cewek, kalo curhat tuh seringnya sama cewek, tapi seringnya juga mereka pada baper sama aku. Padahal aku ngga maksud ngasih harapan atau apa. Aku cuma, ya pengen cerita.”

Sibuk? Apakah sibuk bisa jadi alasan untuk teman melupakan temannya dan jalan sama orang lain tanpa ada basa basi ngajak jalan dulu ke temannya gitu? Menurut gue bukan alasan ya. Kalo gue jadi dia pun, sesibuk-sibuknya teman gue, ketika gue mau pergi, gue akan tanya teman gue bisa ikut apa engga, terus nyemangatin dia biar tetep semangat di sela-sela kesibukannya. Tapi ini ngga berlaku buat semuanya. Hanya teman terdekat gue aja. Dan gue langsung menyamakan pemikiran gue ini dengan yang mungkin dia pikirkan ke gue. Jadi gue bukan teman dekatnya? Entahlah.

Baper? 313% mungkin. Gue perempuan yang haus akan afeksi. Ketika ada orang apalagi lelaki yang kasih itu ke gue, yaa gimana gue ngga bawa perasaan? Ngga salah ya. Gue yakin semua mengerti.

Selanjutnya, Agen F nyaranin gini, “Makanya jangan baper. Coba cuek.” Ngomong gampang, Mas.

Terus gue cerita lagi, melanjutkan yang tadi. Gue tanya, “Kalau misalnya cewek bilang suka ke cowok, terus cowoknya bilang, “Aku ngga bisa sekarang. Tapi kalau kamu mau nunggu ya mangga” itu gimana? Cowok itu berarti ada rasa juga ke ceweknya?” Agen F jawab. “Bisa jadi. Tapi lebih jahat lagi kalau si cowok cuma ngasih harapan palsu.” Gue nanggepin, “Berarti bisa aja cowok itu bilang gitu karena dia ngga mau nyakitin teman ceweknya? Dia ngga mau kehilangan teman dekatnya? Tapi ada kemungkinan juga dia suka sama cewek itu….. Berarti dia…… Yaudah deh.”

Agen F jadi cerita mengenai hubungannya dengan teman cewek terdekatnya. Sebut saja cewek ini dengan Agen R. Mereka bilang itu adalah bukan pacaran. Tapi mereka udah semacam  pacaran. Sama-sama nge-tag. Mereka bebas dekat dengan siapapun, asal mereka harus selalu ingat kalo mereka udah punya satu sama lain. Komitmen ini berawal dari si Agen R yang ungkapin perasaannya duluan. Agen R yang memang sebelumnya udah dekat dengan Agen F sejak lama, kemudian cerita mengenai perasaan lebihnya. Awalnya Agen F kaget dan sangat ngga menyangka. Tapi akhirnya, Agen F juga mengalami perasaan yang sama karena Agen R selalu ada buat dia.

Di sini gue semacam megalami hentakan maha dahsyat untuk yang ke-sekian-kalinya. Kenapa gue ngga bisa jadi cewek kayak gitu yang bisa ungkapin perasaan ke orang yang dia suka? Kenapa gue selalu menyembunyikan perasaan gue dan cuma bisa cerita ke orang lain atau cerita di blog aja? Padahal siapa tau si cowok juga mengalami perasaan yang sama. Gue selalu takut untuk berbagi cerita ke orang yang gue suka. Entah. Apakah ini semacam syndrom kecemasan? Cemas ketika gue bilang suka dan ternyata cowok itu ngga suka sama gue, terus gue dijauhin. Mungkin.

Gue seketika mengingat kata-kata teman Forsi gue, sebut saja Agen G. Waktu itu gue juga cerita mengenai hal yang sama. Agen G menanggapi dengan santai, “Yaa. Gini sih. Sedekat-dekatnya lo sama siapapun, itu akan terkalahkan sama mereka yang selalu ada. Yang gue tangkap dari cerita lo, waktu dia dengan teman-temannya yang lain itu selalu tepat, jadi intensitas ketemu mereka pun sangat banyak dibanding lo dengan dia.” Inti yang gue dapet: gue ngga selalu ada. Mungkin gue hanya ada ketika dia ingin curhat. Ketika dia ingin senang-senang dia lupa, ingatnya sama teman yang lain. Ya ngga salah sih.

Cerita ini ditanggapi lagi oleh Agen F, “Nah. Kadang-kadang aku juga merasa gitu. Sakit sih. Tapi memang orang itu ada yang enak diajak main, ada yang enak diajak curhat. Mungkin Amel tipikal orang yang enak diajak curhat. Aku juga gitu, Mel. Temen main aku ya kadang beda dari temen curhat.” Berarti gue ngga enak diajak main? Gue ngebosenin ya? Ini bisa jadi mungkin. Terkadang gue kaku dan sulit menyesuaikan dengan teman-teman gue yang suka main, suka nonton konser, suka yang rame-rame. Ditambah lagi kalau gue udah badmood. Yaaaa gimana lagi. Ini gue.

Terus gimana sebenarnya perasaan lelaki ke perempuan terdekatnya? Apakah ada persahabatan yang terjalin antara lelaki dan perempuan yang selamanya gitu? Gue rasa akan selalu ada rasa “lebih”. Biasanya sih ceweknya duluan yang suka. Karena kelewat nyaman, biasanya.

Perasaan lelaki itu sangat sulit ditebak, menurut gue yang sangat tidak mengerti pikiran lelaki. Dia bisa dengan santainya cengengesan sama banyak perempuan tanpa perasaan ngga enak karena dia sadar bisa aja dia tiba-tiba suka sama perempuan itu. Kalo perempuan mah keliatan ya, nyaman engganya, suka engganya. Dia bisa dengan biasanya ngegandeng perempuan ketika nyebrang dan tunjukkin perasannya tanpa takut si perempuan menganggapnya lebih. Dia bisa dengan enaknya, dengan asiknya bikin janji ke perempuan ke mana aja, tanpa peduli perasaan perempuan yang sedihnya kebangetan ketika dia ngga bisa nepatin janjinya. Dekat dengan perempuan manapun bukan masalah buat lelaki.

Lelaki bisa sangat pengertian sama perempuan. Eh, tau-tau cuek. Itu yang seringkali perempuan tanyakan. Sebenarnya apa sih yang dirasakan lelaki ketika dia buat nyaman perempuan, terus besoknya dia lupa? Mungkin kebanyakan lelaki tidak menyadari kalau setiap perlakuan yang ia berikan ke perempuan yang ia anggap biasa aja, tapi engga biasa aja buat perempuan. Seperti yang gue bilang, perempuan itu haus akan afeksi. Ketika perempuan sudah nyaman sama lelaki, ya ia akan nempel terus. Berbeda mungkin dari lelaki yang logikanya lebih jalan. “Masa cuma digituin doang baper? Cuma diajak makan sekali, nganggepnya kita ada perasaan apa-apa. Jadi serba salah.” Mungkin ini yang dipikirkan lelaki.

Kalau kasusnya, cewek yang bilang duluan, gimana? Apa yang dirasakan lelaki? Mungkin menyesal (kalo ternyata perlakuan yang dia kasih bukan “itu” maksudnya) karena sudah membuat si perempuan salah sangka. Atau bisa jadi, ia juga bingung akan perasaannya sendiri? “Bener ngga nih gue suka sama dia? Atau gue hanya merasa dia enak diajak cerita, dia selalu ada, dia perhatian, dia selalu bisa gue ajak debat, dia cerdas………” 

Perasaan memang ngga bisa dimainin. Ketika kita sudah jatuh hati dengan seseorang, ya jatuh hati. Mutlak, ngga ada pertimbangan-pertimbangan lain yang memberatkan selain, “Gue pantes ngga ya buat dia? Dia juga suka sama gue ngga ya?” dan yang gue dapet dari sini adalah, hubungan intrapersonal yang dalam ya diawali dengan “bilang”. Bilang, “Aku suka kamu.” atau “Aku nyaman sama kamu.” atau “Aku ingin hubungan kita jelas.”

dan perasaan (lelaki maupun perempuan), siapa yang tau kalau ngga ada yang bilang?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s