Teringat

Aku masih terduduk di atas kasur sambil menikmati suara hujan yang begitu memikat. Terkadang menipu, memang. Bisa sangat rintik, lalu tiba-tiba deras, lalu seketika berhenti. Itulah yang membuatku terpikat terlalu dalam. Ketiba-tibaan yang tak terprediksi. Seperti wanita lain yang menyukai kejutan, demikian aku.

Ditemani suara ayam-ayam yang beradu di pekarangan, juga suara dedaunan yang bergesekkan, ditambah suara hujan yang terdengar bak dentuman piano yang bahkan kusendiri tak mengerti not macam apa yang dimainkan. Namun begitu indah dan merdu.

Mengapa hujan selalu terdengar sendu? Sendu yang mengantarkan kita pada kenangan. Manis maupun menyakitkan. Akupun teringat manakala aku dan kamu bercerita akan kepedihan masing-masing. Saat kamu tiba-tiba bercerita mengenai keluargamu yang memancingku turut bercerita mengenai keluargaku. Kita saling membuka luka. Ingat? Walaupun tak sepenuhnya kuresapi, namun ceritamu cukup membuatku bergetar. Percayakah kamu padaku?

Ah. Kejadian itu sudah lama berlalu. Sudah hampir kulupakan juga. Memang hujan luar biasa membius. Selalu mengingatkan kita pada hal yang bahkan tak ingin kita ingat.

Langit di luar mendadak cerah. Baru sebentar aku rasakan riak hujan ketika beradu membentur tanah, langit kembali ke keadaan semula. Bahkan jauh lebih hangat. Ah… Hari sudah semakin sore. Membuatku lupa akan kesedihan yang terasa. Aku sudah lebih bahagia tanpamu, kok. Selamat menjalani hari-hari indah di depan!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s