Terus, gimana kalo kejadiannya gini : kita cemburu sama orang yang kita anggap dekat karena dia dekat dengan teman dekatnya?

Kalau hanya lewat pertanyaan yang singkat seperti di atas mungkin agak membingungkan apa maksudnya. Pertemanan seperti apa yang dijalin sehingga harus cemburu sama orang lain yang dekat dengan doi. Well, ini adalah masalah yang gue alami dengan beberapa teman gue di salah satu komunitas yang gue dan mereka ada di dalamnya. Gue merasa gue ditinggalkan oleh teman yang gue anggap dekat. Mereka bukan perempuan. Yaps. Gue merasa dekat dengan lelaki yang gue anggap kakak gue sendiri. Mungkin anggapan ini terlalu berlebihan melihat mereka hanya menganggap gue sebagai teman biasa. Gue juga sih yang kelewat nyaman. Merasa sedikit afeksi, langsung berlebihan gitu. Memang perempuan ckck. Untuk cerita lebih jelasnya mengenai gue dengan pertemanan yang rumit ini, lo bisa kepoin blog gue ini di postingan-postingan sebelumnya.

Cemburu sama teman dekatnya teman dekat kita. Kita merasa ditinggalkan karena teman dekat kita (yang sudah kita anggap dekat) dekat dengan teman dekatnya yang lain. Ah pakai inisial aja biar lebih kebayang. Gue punya teman (yang gue anggap dekat) namanya Koko dan Kaka. Tapi Koko dan Kaka ini punya teman lain yang JAUH lebih dekat dibanding gue, sebut saja namanya Kiki dan Keke. Gue cemburu ketika Koko dan Kaka jalan bareng sama Kiki dan Keke. Mereka sering meluangkan waktu bersama, foto bersama, makan bersama, kejutan ulang tahun masing-masing, dan banyak lagi.

Alasan gue cemburu dan realitanya:

  1. Gue merasa dekat dengan Koko dan Kaka. Bersama mereka gue bisa nyaman. Mereka memberikan apa yang selama ini gue butuhkan. Afeksi. Realitanya: Kita ngga pernah dekat sedikitpun sekalipun. Hanya sebatas teman cerita. Buktinya, ngga pernah ada seorangpun yang pernah mengira bahkan membayangkan gue dan mereka dekat. Yang orang-orang tau selama ini ya Koko dan Kaka dekatnya dengan Kiki dan Keke. Gue juga pernah bertanya kepada salah satu dari dua pria ini, “Kamu anggep aku apa?” dan dia berbelit-belit lalu ujung-ujungnya pertanyaan gue ngga dijawab. Dia malah nanya balik, “Menurut Amel?” Ya mana gue tau, gue bukan Mama Loren yang bisa baca isi hati orang. Tapi gue akhirnya menemukan jawaban yang (mungkin) pasti: gue bukan siapa-siapa. Sekedar teman.
  2. Ketika mereka jalan bareng, selalu ada bukti. Oke mungkin ngga selalu. Tapi ini yang seringkali membuat sifat kekanakan gue (yang bukan karena polos seperti anak-anak biasanya, lebih tepatnya bego) akhirnya muncul. Seringkali gue merasa ngga dianggap spesial. Pernah suatu kali gue jalan sama mereka, terus salah satunya upload instagram foto kami dengan caption tempat dan waktu. Gue merasa agak biasa aja karena ketika dia upload foto dia dan ketiga lainnya, caption di dalamnya bisa so sweet banget mengindikasikan bahwa mereka memang dekat dan dia ingin mereka tetap demikian. Realitanya: Memang kenyataannya demikian. Buktinya bisa dilihat di instagram mereka atau di path atau media sosial mereka lainnya.
  3. Gue merasa ketika gue sedang berada di dalam mereka berempat atau mereka dengan salah satu di antara teman dekat mereka itu, mereka ngga pernah melibatkan gue. Realita: Mungkin ngga selalu demikian. Terkadang gue juga yang menjauh untuk menjaga mood karena ini bukan kali pertama gue merasa demikian. Kali pertama adalah ketika makan bareng gue dengan Koko, Kaka dan Keke. Awalnya gue ngga mau ikut. Tapi karena gue yang “selalu” ingin terlihat biasa bak tiada terjadi suatu apapun, akhirnya memaksa diri gue untuk berusaha bertahan. Disana mereka ketawa-tiwi membicarakan seseorang. Gue ingat dengan jelas ketika gue tanya dengan sumringah dan berusaha terlihat sekepo mungkin, “Apa siiih? Ceritain doooongg.” dan salah satu dari mereka langsung bilang, “Pokoknya ceritanya panjang Meeel.” Hellooowww? Emang kalo panjang ngga bisa diceritain? Gue hanya langsung diam dan makan makanan gue. Untung ada penyelamat ketika itu. Senior kami. Akhirnya kami ngobrolin hal yang semua mengerti. Bayangkan rasanya berada di antara orang-orang yang membicarakan apa yang kita ngga tahu di depan kita. Bego? Roaming, kata halusnya.
  4. Gue merasa ngga sreg dengan Kiki dan Keke. Mereka (menurut gue) terlalu merasa memiliki satu sama lain. Jadi mereka terlihat lebih protektif dan tak pernah ingin terpisah. Itu yang terkadang membuat gue merasa selalu ingin bilang “hih” (hih yang sama ketika kita melihat sesuatu yang menjijikan) ketika melihat mereka. Rasa ini nampaknya sudah mendarah daging sejak dulu. Gue teringat ketika tiba-tiba gue penasaran pengen kepoin instagram Kaka dan melihat foto mereka berempat di foto studio saat kita sesama komunitas foto bersama dengan caption “new family”. Saat itu gue minta difotoin sama Koko berdua, dan langsung direbut oleh Keke berlagak suara imut, “Ngga boleh, sini foto sama aku aja.” akhirnya mereka foto, gue pergi. Pokoknya kalo udah ada Keke dan mereka, gue udah males dah. Mending gue pergi cari kesibukan lain.

Semakin gue mengerti dan memahami apa yang ada di depan gue, tentunya ini lewat proses yang panjang. Nangis ampek mata bengkak, galau berkepanjangan ampek ngga semangat, cerita sana sini ibarat orang putus asa yang sedang mencari jalan terang, sampai akhirnya gue mengingat apa yang dulu pernah sangat gue percayai (sempat gue lupakan. makasih udah ngingetin): Berteman hanya formalitas. Kita kenal karena kita berada dalam satu lingkungan yang menuntut kita untuk saling mengenal. Ngga ada teman sejati, yang ada teman yang kita butuhkan.

Sesungguhnya… Mungkin yang sebenarnya….

  1. Afeksi yang gue rasakan memang nyata. Mungkin yang mereka (Koko dan Kaka) rasakan memanglah hanya sesuatu yang sebenarnya kepada siapapun mereka berikan. Candaan, cerita, jalan, makan bareng. Itu juga mereka lakuin kok ke siapapun. Jadi kenapa harus ada perasaan afeksi berlebih? Individual differences. Gue ngga bisa cuek seperti kebanyakan orang. Gue ngga bisa ngga baper layaknya orang lain yang bisa cuek. Well, sesungguhnya gue telah mencoba untuk tidak lagi demikian. Tapi perempuan adalah makhluk Tuhan paling emosional, jadi gimana lagi dong? Setelah gue banyak berpikir dan meresapi segala yang gue lihat dan gue dengar, segala nasihat dan masukan,akhirnya gue mengambil suatu kesimpulan : Mereka memperlakukan semua temannya demikian. Sama seperti apa yang mereka lakukan ke gue. Mereka memang baik ke semua orang. Kesimpulan inilah yang membuat gue (sekarang) malu sendiri. Bagaimana mungkin gue setolol itu dengan merasakan afeksi yang berlebihan? Manusia. Perempuan. Wajar.
  2. Mereka adalah kaum lelaki pecinta media sosial alias sosialita. Jadi upload foto di instagram, update path, memang sudah kebiasaan mereka. Soal caption yang menurut gue “ngga spesial”, bukan berarti demikian. Bisa jadi mereka ngga mampu berkata-kata saking senengnya jalan sama gue. Bisa jadi juga mereka selalu menikmati setiap perjalanannya dengan gue, sehingga yang namanya update di media sosial itu menjadi tidak perlu. Atau….. Bisa jadi waktu gue jalan sama mereka, memang mereka lagi ngga aktif paket internetnya. Terdengar klasik.
  3. Untuk poin ketiga, biarlah gue menyalahkan diri gue sendiri karena afeksi berlebih yang tolol ini begitu menguras tenaga bahkan mood gue. Kenyataannya mungkin mereka ngga “nyuekin” gue. Guenya aja yang udah jelek duluan mukanya (saking betenya), dan membuat mereka bingung harus ngapain dan akhirnya memutuskan untuk diemin gue sesaat. Seharusnya memang gue yang lebih aktif untuk berbicara dan mengangkat topik. Kalo mereka ngga nyapa, harusnya gue yang yapa duluan. Begitu pula kalau mereka ngga cerita ke gue, harusnya gue yang membuat mereka nyaman untuk membagi ceritanya ke gue.
  4. Poin keempat. Satu kalimat yang terbesit di benak gue untuk membuat segalanya menjadi jelas: Gue yang ngga pernah mencoba untuk dekat dengan mereka (Kiki dan Keke) . Selalu terlintas pertanyaan, “kenapa harus gue? kenapa ngga mereka yang deketin gue? ngajak gue main, ngajak jalan?” dan jawaban yang pasti dari dalam diri gue, “Pada akhirnya pun di dunia ini kita hanya sendiri dan ngga boleh mengandalkan orang lain. Pada akhirnya pun kita hanya berlabuh pada satu hati, pertemanan sejati, sahabat sejati, cinta sejati, “pasangan kita kelak”. Kenapa harus gue? Karena dengan begitu gue belajar untuk mengandalkan diri gue, bukan orang lain.”

Empat poin di atas sesungguhnya hanyalah spekulasi belaka. Untuk jelasnya gue ngga tau apa yang mereka pikirkan. Gue hanya melihat dari sudut pandang gue sebagai “orang yang ngga mau egois” karena menyalahkan orang lain. Kesalahan terbesar adalah dari diri gue sendiri yang terlalu dramatis, melankolis. Ingat. Perempuan adalah makhluk Tuhan paling emosional. Ia bisa hangat, lalu tiba-tiba dingin.  Selagi hangat, tetaplah bersamanya. Ketika meninggalkannya, jangan harap kehangatan itu kembali.

Gue bukan jahat. Gue bukan ingin balas dendam. Sempat terlintas memang ingin balas dendam dengan mencoba dekat se-dekat-dekatnya dengan teman-teman gue yang lain lalu pamer ke mereka. Alhasil, gue membuat beribu muka. Sok baik, selalu ceria, selalu bahagia, ready untuk diajak jalan kesana-sini, rajin. Ujung-ujungnya kembali pada satu prinsip: Lo bisa kasih apa? Itu yang gue kasih ke elo. 

Dari bercerita dengan teman curhat baru, sebut saja Agen P, gue mendapat lagi satu nilai berharga: Jangan pernah hitung apa yang udah lo kasih dan apa yang udah mereka kasih. Itu yang dilakukan teman kepada temannya.

Bercerita dengan Agen P memang banyak membuat perasaan ini lega. Kami sama-sama memegang prinsip: Jadilah wonderwoman yang ngga pernah berdiri pakai kaki orang lain.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s