Jealous? It’s Okay, kok.

Cemburu memang biasa dialami oleh semua orang. Cemburu sama pacar, cemburu sama teman, cemburu sama adik, atau cemburu sama apapun deh. Gue, dan lo yang sekarang lagi baca, gue yakin pernah merasakan rasa ini. Sebelum kita ulas lebih jauh mengenai perasaan (yang menurut gue) cukup menyebalkan ini, kita bahas dulu yuk, sebenarnya apa itu cemburu.

Definisi cemburu yang pertama merupakan pendapat dari teman gue sebut saja ia Agen N. Menurutnya, cemburu adalah perasaan ketika (1) pasangan dekat dengan orang lain yang melebihi batas wajar dan (2) orang lain yang punya hak yang sama untuk mendapatkan sesuatu tapi kita ngga dapat dan orang lain dapat.

Lalu definisi kedua, masih gue dapatkan dari teman gue sebut saja Agen A. Menurutnya, cemburu adalah ketika lo menginginkan apa yang orang lain punya sedangkan lo ga bisa memiliki itu. Cemburu ada karena rasa ingin memiliki.

Definisi ketiga dari temen gue (lagi) sebut saja dia agen M. Menurutnya, cemburu itu sebel karena kita ingin memiliki apa yang kita ngga punya atau mungkin kalo lo terlalu sayang, pas ngga diperhatiin, lo cemburu sama yang jadi pusat perhatian.

Dari ketiga definisi teman gue di atas, gue simpulkan dan sedikit gue tambahkan opini gue, bahwa cemburu merupakan sebuah perasaan yang menyiksa, menyebalkan, yang kita rasakan ketika kita tidak memiliki sesuatu yang kita miliki. Cemburu karena ngga dapat perhatian dari orang lain sedangkan orang lain itu memberi perhatian kepada teman lo yang lain misalnya. Itu berarti lo ngerasa ngga dapet perhatian kan? Iya, namanya lo ngga punya apa yang lo inginkan, yaitu perhatian dari orang tersebut.

Apakah cemburu hanya sebatas perasaan yang dialami orang ke orang terkasihnya? Biasanya iya. Buat apa cemburu sama orang yang ngga berarti buat kita? Atau ganti kata-katanya deh. Buat apa cemburu sama orang yang kita anggap biasa aja?

Menurut kebanyakan teori yang ada, faktor yang paling menentukan dari kecemburuan adalah bahwa seseorang memerlukan segitiga sosial yang terjadi ketika seseorang merasakan bahwa orang lain (nyata atau imajiner) merupakan ancaman dalam hubungan interpersonal (Parrott & Smith, 1993; Mathes, 1991; Salovey & Rothman,1991; Putih & Mullen, 1989). Segitiga sosial sendiri gue belum tau pasti apa artinya. Beberapa sumber yang gue baca, segitiga sosial menjelaskan mengenai hubungan antara tiga komponen sosial. Cemburu juga bisa diartikan sebagai penyebab penolakan, perpisahan, dan rasa takut yang melibatkan hubungan intrapersonal (Parrott, 1991; Mathes, Adams, & Davies, 1985).

Nah. Pernyataan di atas nampaknya cukup menjawab pertanyaan gue mengenai kepada siapa biasanya kita cemburu. Cemburu memang ngga lepas dari hubungan yang terjalin antara orang satu dengan lainnya. Setelah gue analisis lebih dalam, bisa jadi ini akibat dari “rasa memiliki” yang sebelumnya dijabarkan dalam definisi salah satu teman gue. Atau bisa jadi juga karena ada peran “perasaan” ketika kita menjalin suatu hubungan.

Hubungan intrapersonal sendiri bukan hanya sebatas dua orang dekat atau biasa disebut “pacaran” semata. Hubungan intrapersanonal bisa terjadi dalam bentuk hubungan apapun seperti sahabatan, peers, hubungan anak dengan orang tua, juga hubungan yang jaman sekarang lagi ngetrend di kalangan anak muda “HTS” a.k.a “Hubungan Tanpa Status” a.k.a friendzone.

“Wajar nggak sih cemburu sama temen sendiri?” atau “wajar ngga sih cemburu kalo liat temen jalan sama orang lain terus kita dicuekin?” atau “wajar ngga sih kita marah sama orang yang kita rasa udah ngerebut temen kita?”

Jawabanya adalah : WAJAR.

Seringkali kita (biasanya perempuan karena perempuan adalah mahluk emosional), merasakan perasaan demikian ketika teman yang biasanya menemani hari-harinya tiba-tiba berpaling. Makhluk Tuhan paling seksi ini adalah makhluk yang paling rentan baper. Main bareng sedikit, nyaman sedikit sama orang (mau cewek atau cowok), ujung-ujungnya ngga bisa lepas. Ujung-ujungnya perasaan yang main.

“Cieee, ngezumba sama siapatuuuh ngga ngajak-ngajak, niiihh.”

atau

“Cieeee yang abis nonton rame-rame.”

Mungkin kalau perempuan bisa lebih mengerti makna kata “cie” yang sesungguhnya dengan membalas,

“Yaaahh. Maafin buuuu, habis dikira gue lo sibuk.”

atau

“Yaahhh maafiiiiinn, gue pikir lu udah ada janji sama si Boneng.”

Makanya kan persahabatan di antara perempuan biasanya langgeng dan selalu diisi oleh komunikasi yang intens. Beda dengan tanggapan yang akan kalian terima, wahai ladies ketika kalian bersahabat dengan lelaki.

“Iyanih. Sukses gue ngebakar lemak. Ngezumba sama dia asik loh.”

atau

“Iyanih seru banget! Pokoknya lo harus nonton tuh filmnya. Di bioskop ada sampe minggu depan kok.

Dan setelah itu, si cewek mulai jaga jarak. Iya ngga? Awalnya sih marah, bete, kesel, sedih, pokoknya semua perasaan campur aduk ngga jelas. Setelah itu kalian wahai perempuan berpikir, “apa gue ngga asik ya?” atau “yaudahlah dia kan cowok wajar main sama siapa aja.”  tapi tetep, ujung-ujungnya galau, dan seringkali memutuskan untuk menjauh.

Peneliti berpendapat, bahwa cemburu melibatkan beberapa komponen emosi seperti marah, takut, sedih yang biasanya semua emosi ini dialami bersamaan (Sharpsteen, 1991). Jadi ketika kita tiba-tiba bete, marah ke teman kita, takut kehilangan dia karena dia main sama orang lain, bisa dikatakan itu namanya “cemburu”.

Namun beberapa peneliti juga berpendapat bahwa cemburu bukan sekedar emosi marah, takut juga kesedihan. Cemburu menurut fungsinya berkembang sebagai emosi khusus untuk memotivasi perilaku mencegah (baik psikologis maupun fisik) putusnya hubungan atau segala yang mengancam suatu hubungan dengan kata lain untuk melindungi suatu hubungan (Harris, 2003a).

Jadi sebenarnya cemburu bukan berarti ngga baik, atau semacam sifat yang menyebalkan aja seperti definisi yang telah gue berikan di awal. Cemburu ternyata perlu dalam sebuah hubungan agar hubungan yang terjalin ngga putus gitu aja. Cemburu bukan perasaan kekanak-kanakan yang harus dihindari. Justru cemburu merupakan semacam mekanisme pertahanan yang harus ada ketika kita ingin langgeng dalam suatu hubungan. Lewat cemburu kita nunjukin bahwa doi, seseorang yang kita sayang, memiliki peran lebih dalam hidup kita.

Asal……….

Cemburunya jangan kebangetan. Cemburu yang kebangetan bisa bikin kamu terllihat aneh dan ngga wajar. Apalagi ketika yang kamu cemburuin ternyata menganggap hal yang kamu cemburuin itu ngga perlu seperti cemburu pas temen kamu jalan sama adiknya, “kok kamu jalan sama adik kamu ngga ngajak aku sih?” Jawaban yang paling mungkin adalah “Lah mbak? Ini adikku kok aku mau jalan aja ditanya kenapa? Ya karena dia adik saya lah mbak.”  atau jawaban yang agak sopan karena ingin menjaga perasaan, “Lohh. Aku pikir kamu ngga suka alo diajak jalan sama adik aku. Lagian aku udah ngga ketemu sama dia lama bla bla bla….”  atau jawaban yang menyakitkan, “Emang lo siapa?”  dan cemburu selain ke adik temen lo mungkin, ketika lo bilang, “Kok kamu makan sama pacar kamu ngga ngajak-ngajak aku sih?”  wah kalo ini namanya ngajak ribut nih.

Cemburu sama adik teman itu kan ngga beralasan. Mau sedekat apapun kita sama kakaknya, hubungan antara doi dan adiknya ngga akan putus. Justru kita sebagai teman seharusnya mendukung hubungan bersaudara seperti ini. Itung-itung kalo doi adalah gebetan lo, ketika lo juga dekat dan dapat memberi kebebasan antara doi dan adiknya menghabiskan waktu bersama, lo selangkah lebih maju, gais!

Kalo cemburu karena doi jalan sama pacarnya sih…. Ya jelas artinya lo udah pasang kuda-kuda mau ngajak perang. Jangan pernah sekali-kali nunjukkin rasa cemburu yang berlebihan kalo doi udah tau tempat dimana doi dapat menyimpan hatinya dengan aman.

Terus, gimana kalo kejadiannya gini : kita cemburu sama orang yang kita anggap dekat karena dia dekat dengan teman dekatnya? (klik untuk buka kisahnya)

Jawabannya adalah: WAJAR.

Lewat yang sudah gue ketik di atas, bisa disimpulkan ketika kita cemburu artinya kita merasa “ada yang harus dipertahankan”. Kita ingin selalu dekat dengan doi. Kedekatan itulah yang ingin dipertahankan. Kalau cemburu lo sama kayak kisah di atas, it’s okay. Itu membuktikan bahwa doi berarti buat lo dan lo ingin tetap mempertahankan kedekatan lo dengannya.

Jealousy is complicated. We never imagine how hurt this feeling bahkan ketika kita sedang dilandanya. Terkadang seringkali, penyebab cemburu memang sungguh abstrak. Ngga masuk logika. Itulah indahnya ciptaan Tuhan. Manusia dengan beribu perasaan rumit di dalam hatinya.

Cemburu bukanlah suatu alasan untuk merusak suatu hubungan, justru sebaliknya. Kalau lo ada di posisi di mana temen lo cemburu sama temen lo yang lain, harap maklum. Itu berarti temen lo menganggap lo spesial. Begitu pula kalau lo di posisi “si orang yang (dianggap) merebut” (yang dicemburuin), lo harus lebih bijak. Jangan pernah jadikan “menjauh” sebagai alasan untuk lo menyerah akan apa yang udah lo dan doi bangun, apalagi kalau lo menjadikan menjauh sebagai alih-alih elo lah yang paling tersakiti selama ini. Teruslah berjalan bahkan ketika lo tau akan jatuh. Pada akhirnya, alam pun akan menjawab: yang selalu ada lah pemenangnya.

Berakhir pada satu kesimpulan: Jealous? It’s OK.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s