Agen Hidup

Gue adalah orang yang sangat menghargai hidup. Caranya? Membuat diri sendiri bahagia. Lewat? Segala kegiatan yang “ingin” gue ikuti. Apapun yang gue suka, akan gue lakukan sekalipun itu aneh dan (mungkin) ngga ada manfaatnya. Yap. Gue memang sangat flesibel selayaknya orang dengan golongan darah B lainnya.

Gue sangat suka berteman. Menurut gue, teman selayaknya penghargaan di mana lewat penghargaan tersebut kita menjadi lebih hidup. Bermakna. Diakui. Terlihat. Dirasakan keberadaannya. Gue orang yang mudah terbuka dan percaya. Sifat ini sebenarnya yang ingin gue kurangi. Terlalu terbuka dan percaya itu gue rasa terkadang menimbulkan impact yang negatif untuk diri gue. Karena gue mudah terbuka dan percaya, gue jadi berharap teman gue begitu juga ke gue. Lalu ketika teman gue belum bisa demikian, gue jadi merasa tiada guna. Gue jadi merasa “gue ini apa?”. Terus sakit sendiri hanya untuk hal kecil begini. Memang ngga ke semua orang sih, gue merasa begini. Hanya ke orang yang kepadanya gue bisa dengan nyaman berkeluh kesah. Tapi bukan berarti ke orang yang ngga bisa membuat gue nyaman, langsung gue tinggal gitu aja yaaa. Engga gitu.

Gue menerima siapapun yang ingin berkeluh kesah ke gue. Malah gue seneng. Gue merasa dipercaya. Gue merasa ada. Diakui. Sifat yang selalu ingin jadi pusat perhatian dan ngga bisa hidup tanpa dianggap mungkin sudah mendarah daging. Bukan ingin menunjukkan kalau gue berkuasa dan bisa mengendalikan semua orang, tapi teman adalah sumber kekuatan gue di sini (perantauan) selain keluarga gue nan jauh di sana (re: Pemalang).

Gue termasuk perempuan yang sangat menginginkan hubungan jangka panjang. Ketika gue sudah mendapatkan mereka yang klop, gue akan sebisa mungkin menghabiskan sebagian hidup gue untuk mereka. Karena gue menyadari, tanpa teman-teman terdekat gue, gue hanyalah buntelan gas tanpa arti yang ketika ditusuk langsung melayang-layang ngga jelas di udara.

Bersama teman-teman gue, gue bak merasakan hidup yang sebenarnya. Gue terbantu dengan hadirnya mereka yang bisa ngingetin gue kalau di kelas ngga BOLEH tidur, ngingetin materi buat UAS, dengerin gue ketika gue galau, nemenin gue belanja, daaan banyak lagi.

Teman dekat. Gue menyebut mereka : AGEN.

Awalnya, gue menyebut mereka agen karena iseng aja, ngga berarti apa-apa. Tapi gue sadar, segala sesuatu harus ada dasarnya. Agen bagi gue di sini adalah “perantara”. Mereka perantara yang menjembatani antara gue dengan kesadaran gue. Mereka yang berperan dalam keseharian kisah-kisah pilu gue. Mereka yang tau segala kebodokan gue, kebegoan dan ketololan gue. Mereka yang akhirnya berhasil menyadarkan gue, kalau hidup ngga melulu sulit. Mereka teman dekat gue. Bukan karena mereka yang menentukan. Tapi gue. Gue yang memilih mereka.

Gue akan memperkenalkan mereka.

Meski gue belum terlalu mengenal Agen-agen di atas, tapi gue berharap merekalah yang bisa mengandalkan gue, dan merekalah yang bisa gue andalkan. Karena yang gue dapat dari pertemanan sesungguhnya adalah: saling membutuhkan.

Iya. Kali ini memang gue ingin pamer kepada dunia. Kalau gue punya mereka. Agen Hidup.

Advertisements

2 thoughts on “Agen Hidup

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s