Anti Bias

Malam semakin larut. Mengisyaratkan satu hal: Senyap. Anti masih duduk termenung di atas ranjang di kamar apartemennya. Ranjang yang menjadi saksi malam pertama antara ia dan kekasihnya. Betapa malam itu ia menyempurnakan hasrat bercintanya dengan seorang lelaki yang sangat ia cintai. Tapi, dimanakah cinta kini berada? Atau memang tidak ada yang namanya cinta?

Apa sebutannya selama ini? Bercinta tiap malam, bangun keesokan harinya dengan badan telanjang, menyiapkan sarapan kesukaan kekasihnya, memasak makan malam, menemaninya saat sedang suntuk dengan laporan keuangan yang memusingkan, belanja tiap bulan, pertengkaran kecil yang berujung pelukan dan ciuman di kening. Tidak bisakah itu semua disebut cinta?

Teringat kejadian pekan lalu.

“Akhir-akhir ini kamu aneh, yang.” tanya Anti mesra sambil memeluk punggung kekasihnya erat.

Lelaki itu hanya diam sambil mengeratkan sabuk di celanannya. Anti berputar. Kali ini ia tepat di hadapan kekasihnya. Ia tertawa kecil. “Sampai sekarang belum bisa juga pakai dasi.” ia lepas perlahan dasi yang melingkari leher sang pujangga yang selalu ia rindukan, lalu ia kaitkan kembali dengan rapi. “Gini kan ganteng.”

Lelaki itu fokus pada jam tangan Rolex berwarna silver yang menunjukkan pukul 08:05. “Aku pergi.”

Anti berlari kecil menuju meja makan. Dibawanya satu kotak kecil berisi sosis dan telur gulung kesukaan kekasihnya, “Ini. Udah kukira kamu ngga mau sarapan bareng lagi.”

Kekasihnya berlalu sambil membawa kotak makanan. Anti hanya terdiam. Menghembuskan napas beratnya.

***

Namanya Bintang Seno. Bias, begitu ia kerap disapa. Katanya, Bintang merupakan nama kekanakan yang terdengar aneh untuk lelaki dewasa. Itulah mengapa ia lebih suka dipanggil Bias, sejak dulu. Ia cukup tampan, dengan hidung yang pas. Tidak terlalu mancung. Terlihat imut. Tingginya dua jengkal lebih tinggi dariku yang memiliki tinggi 168 cm. Cukup tinggi. Badannya tegap dan macho, meski tak begitu terlihat otot-ototnya. Katanya, kalo terlalu berotot takut dikira gay.

Bias bukan lelaki biasa. Idaman. Di usianya yang baru 31 tahun, ia sudah menjadi Pimpinan Cabang salah satu Bank Swasta di Jakarta. Walau usiaku lebih muda enam tahun darinya, terkadang sikapku lebih dewasa. Hanya terkadang. Bias yang lebih sering mengalah dibanding aku yang keras kepala.

Dengannya, aku belajar menjadi wanita dewasa yang toleran. Dulu, di usiaku yang baru awal 20-an bahkan sering terlibat pertengkaran dengan teman karena sifatku yang tak mau mengalah. Ia yang membuatku menjadi singa yang penurut dan tergila-gila padanya. Aku amat mencintainya.

Ia membuatku menyerahkan segala cinta yang kupunya. Bahkan keperawananku. Ia tak pernah memaksa. Justru aku yang memberi lampu hijau agar ia melakukannya. Lagi. Aku tergila-gila padanya. Aku tak pernah tahan akan sentuhan-sentuhan jemari dan ciumannya yang perlahan yang membuatku terlarut di dalamnya hingga kulupa dimana letak kesadaran berada. Aku terbuai.

Perlakuannya padaku sangatlah manis. Ia menggenggam jemariku erat ketika kami berjalan bersama; tiba-tiba datang ke apartemen dengan membawa bahan makanan lalu memasaknya untuk kami makan bersama; mengecup bibirku di pagi hari ketika kami bangun bersama; memelukku dari belakang di sela-sela kegiatan yang aku lakukan entah menulis, memasak, membaca buku, atau apapun; membuatku marah karena tingkah usilnya lalu seketika ia memeluk dan mencium keningku, “Kamu imut kalau lagi ngambek,” katanya.

Aku merindukannya. Sangat merindukannya.

***

Ia wanita yang sangat manis. Ia tak secantik Emma Watson, tak seseksi Angelina Jolie, tak selembut Citra Kirana dalam perannya di sinetron Tukang Bubur Naik Haji, dan tak sepintar Cinta Laura yang berhasil meraih dua gelar sarjana sekaligus dengan predikat cumlaude. Ia wanita yang istimewa yang mampu meluluhkan hati ini pada pandangan pertama.

“Iya, kan saya sudah kirim berkasnya satu bulan yang lalu, mbak. Tapi sampai sekarang belum diurus. Seminggu yang lalu mbak bilang datang minggu ini. Terus sekarang mbak bilang suruh datang minggu depan gitu? Mbak, saya kuliah di Bandung. Ngga mungkin bolak balik ke sini terus. Mohon dipercepat, mbak.” omelnya pada customer service di bank kami lalu pergi dengan wajah berlekuk. Ia nampak sangat lucu.

“Mana berkas perempuan tadi, Dir?”

Dari sana aku memulai. Entah sihir apa yang dikeluarkannya, aku jatuh cinta padanya saat pertama kali aku melihatnya. Kami pun berkenalan. Pun entah berapa lama kami dekat, aku tak menghitungnya. Kala itu aku tak ragu untuk berkata, “Pacaran yuk.”

Ia tak langsung menjawab. Satu bulan ia bak hilang dari peradaban. Setiap minggu ketika aku mengunjungi kostnya di Bandung, ia selalu tak ada. Entah kemana. Aku tahu berapa banyak deringan ketika aku menelponnya dan selalu berakhir dengan jawaban, “nomor yang anda kujungi tidak dapat menerima panggilan…..” atau, “nomor yang anda kunjungi sedang tidak aktif…..”

Aku pun berhenti menghubunginya. Beberapa hari kemudian ia mengirimku sms.

Yuk pacaran.

***

“Aku sudah semakin dewasa, sudah matang, Anti.” Jelas Bias sambil melonggarkan dasinya. “Aku ingin kita sama-sama membangun keluarga.”

“Kayak gini aja ngga cukup?” Balas Anti.

“Kayak gini? Apa kata orang, Anti?”

Bukan hanya malam ini pertengkaran antara mereka berdua. Lagi. Pernikahan. Entah rasa apa yang menjalar di benak wanita ini ketika mendengar kata pernikahan. Membayangkannya pun sulit. Entah. Sejak lama ia membenci pernikahan. Pernikahan baginya adalah penghianatan. Seperti apa yang dilakukan ayahnya dulu kepada ibunya dan Anti kecil.

Ayahnya yang membuatnya tak percaya akan pernikahan. Lelaki yang meninggalkannya inilah yang membuatnya percaya bahwa selalu ada penghianatan. Dimana-mana.

“Pergi.” Jawabnya nyaris tak terdengar.

“Sampai kapan mau begini, Anti?”

“Apa yang kamu inginkan dari pernikahan? Punya anak yang bikin tubuh istri kamu bengkak hingga kamu punya alasan untuk ninggalin dia? Betapa liciknya lelaki.” Tubuhnya gemetar. Air mata turun perlahan. “Atau punya alasan untuk pulang ke rumah tiap kali bosan karena ketemu asisten yang cantik di kantor?” Kali ini matanya menatap lelaki di depannya.

Bias terdiam. Meresapi kata-kata Anti. Ia membuka mulutnya perlahan. “Apa aku selama ini Anti? Partner seks yang hanya ingin kamu pakai tanpa kamu tau perasaan aku yang sebenarnya? Perasaan bersalah aku ketika meniduri perempuan yang aku cintai tanpa status pernikahan yang jelas?”

“Sekarang aku tahu. Di matamu aku hanya teman tidur.” Anti menghapus air matanya. Tersenyum lebar. Menakutkan.

“Kamu butuh waktu untuk berpikir. Aku pulang.”

“Aku takut. Aku takut kamu ninggalin aku, Bias.” Wanita ini mulai menangis sejadinya, membuat langkah Bias terhenti. “Aku takut kamu seperti lelaki keparat itu! Dia sudah menghancurkan hidup aku dan ibuku, Bias. Dia tak termaafkan.”

Bias berbalik. “Aku bukan lelaki itu, Anti. Lihat. Kami berbeda. Aku cinta kamu, Anti.” Ia memeluk tubuh kekasihnya yang meringkuk di lantai. Tubuhnya dingin. Gemetar. “Lihat, aku ngga ninggalin kamu kan, Yang? Justru aku minta kita menikah karena aku ngga ingin ninggalin kamu. Aku ngga ingin kehilangan kamu.”

“Dia juga bilang begitu, Bias. Bajingan itu juga bilang itu ke ibu.”

“Harus berapa kali aku bilang. Aku bukan bajingan itu.” Bias melepas pelukannya. “Seharusnya aku pergi daritadi.” Ia beranjak. Membuka pintu lalu menutupnya, dan pergi.

***

Tidak bisakah semua ini disebut cinta? Mengapa harus ada pernikahan? Pernikahan hanya kekacauan. Pernikahan hanya penghianatan.

Aku menyusuri koridor ini lagi. Entah sudah berapa ratus kali aku ke tempat ini. 17 tahun sudah ibu dirawat di sini. Di kompleks wanita dewasa dengan beberapa pasien lainnya. Kali ini ibu sedang menggambar dengan selembar kertas koran dan crayon yang entah darimana ia dapatkan.

“Ibu gambar apa?” Tanyaku pelan. Ibu masih asyik dengan gambarnya. Gambar coretan menggumpal seperti benang kusut, kulihat. Kupegang tangannya. Ia kaget dan menghindar, mundur hingga menghadap tembok, lalu tersenyum meneruskan gambarnya lagi.

“Ada lelaki yang ingin menikahi Anti, bu.” Aku menatap kosong, bukan ke arah ibu. “Dia baiik banget. Ganteng, pintar, kaya. Sempurna deh, bu. Anti ingin bersama dia terus, bu.” Aku mulai terisak. Diam. Sesak. Hingga aku tak mampu lagi menahan air mata. Aku menangis sejadinya.

“Gimana bu? Ibu bahagia disini?” Susah payah aku menahan sesak. “Bu….. Ibu bahagia?” Kutatap ibuku dalam-dalam. Ia menoleh. Menatapku. “Buuuu, bagaimana mungkin ibu bahagia dengan keadaan seperti ini? Bagaimana mungkin Anti hidup dengan baik sedangkan ibu terpenjara di sini bu? Bagaimana mungkin Anti bahagia dan ibu tidak?”

Ibu diam. Menatap dengan mata sendunya. Menitihkan air mata. Dan mengamuk. “Hhhhhh! Pergi! Hhhhh. Pergiiiii!!!!” Ia membanting apapun yang dilihatnya ke arahku. Aku tak apa. Begini lebih baik, bu. Lebih baik ibu marah karena kebahagiaanku bukan?

Lenganku membiru terkena lemparan kotak musik yang aku berikan lima tahun lalu kepada ibu. Dan aku tersenyum. Marahlah, bu. Marahlah. Ibu pantas untuk marah dan benci aku yang bahkan masih bisa tertawa di saat ibu tak mampu. Marahlah, bu.

Perawat berdatangan. Sesuatu mengenai kepalaku. Aku terpejam.

Aku bermimpi kembali ke masa 20 tahun silam. Ada ayah, ibu dan aku yang sedang bermain di taman. Usiaku 5 tahun. Dan aku putri. Selalu dimanjakan. Ibu memotong apel sambil tersenyum melihatku kejar-kejaran dengan ayah. Ayah menangkapku dan menggelitik perutku, membuatku tertawa hingga ingin muntah. Bolehkah aku kembali ke masa ini dan tak pernah kembali lagi ke masa setelahnya?

Aku terbangun dan mendapati Bias sedang menangis di hadapanku. Ia memegang tanganku erat.

***

“Halo, Anti. Kenapa baru diangkat? Kamu di—” Kata-kataku terputus. “Baik, saya kesana.”

Apa yang selama ini kamu sembunyikan dariku, Anti? Kenapa kamu selama ini? Pasien rumah sakit jiwa? Kenapa ibumu Anti? Bagaimana bisa selama ini kamu sembunyikan hal ini?

“Kamu bangun? Kepalamu memar sedikit.” Kubantu wanita satu-satunya di pikiranku ini untuk duduk. “Mau pulang sekarang?”

Anti tersenyum tanpa berkata-kata. Lalu ia menyeretku ke depan pintu kamar nomor 15. “Itu ibu.” Ia tertawa kecil ke arah wanita yang terlihat berumur sudah hampir setengah abad. Wanita itu tertidur di ranjang kecil di ruangan berjeruji. Namun tawa itu seketika memudar. Ada bercak kepedihan di sana. Di matanya yang membengkak. “Sudah 17 tahun ibu di sini.” Ia melanjutkan. “Lelaki itu yang membuat ibu begini.” Ia mulai terisak. Lelaki itu? Aku yakin ayahnya.

Kupegang bahu kirinya. Kurangkul hangat. “Kalau kamu belum siap cerita, aku ngerti kok, Yang. Kita pulang yuk.”

“Lelaki itu pergi dengan wanita lain. Ibu tahu. Bertahun-tahun lelaki itu selingkuh. Membawa selingkuhannya ke rumah, menidurinya di kasur tempat ia dan ibu tidur. Ibu sabar. Selalu sabar. Ibu diam. Tak pernah marah. Selalu diam. Ibu tak pernah memberontak.” Air matanya mengalir deras, membuatku ikut merasakan dadanya yang panas. “Kupikir dulu ibu bodoh. Tapi ternyata apa, Bias? Ibu melindungi aku. Ibu begitu takut dengan kekuasaan lelaki gila itu. Ibu diancam. Disiksa batinnya bertahun-tahun, Bias.” Air matanya tumpah. Ia meninju dadaku pelan, tanpa tenaga. Aku memeluknya.

Isaknya berhenti setelah cukup lama kami berdiri di depan kamar ini. “Antar aku pulang.” Katanya tanpa menatapku.

Aku mengangguk, “Yuk.” kemudian memegang tanganya sambil berjalan menuju tempat parkir rumah sakit jiwa ini.

Dari ruangan nomor 15 itu menuju pintu keluar kompleks ruangan, terdapat 5 ruangan lain dan semuanya terisi. Nomor 16, yang paling dekat dengan kamar ibu Anti,  penghuninya adalah ibu berumur sekitar 30 tahun yang sedang menatap jendela dengan tatapan kosong. Kamar nomor 17 dan 18 penghuninya sedang tidur meringkuk ditutupi selimut.

Kamar nomor 19, entah sedang apa, ibu satu ini nampaknya sedang asyik bermain. Bersembunyi, lalu melihat sekitar, lalu menutup mukanya dan bersembunyi lagi seperti sedang bermain petak umpat. Terakhir kamar nomor 20, “Abang sini bang, godain eneng, hihihi.” Katanya kepadaku. Aku terus berjalan.

***

Perasaan bersalah itulah yang menggerogoti raga Anti hingga ia merasa tak pantas bahagia. Ia bersalah telah membiarkan ibunya selama ini bertahan. Andai ia lebih awal mengetahui kebejatan sang Ayah, mungkin ia bisa menyelamatkan ibunya. Namun apa yang bisa dilakukan anak berusia 8 tahun?

“Dulu ibu bilang,” Anti membuka percakapan. “kalau Ayah sayaaang banget sama ibu. Itu yang selalu ibu katakan. Waktu aku tanya kenapa ibu sering tidur di kamar tamu atau di kamarku, ibu jawab….” Ia berhenti sesaat. “Ibu jawab kalau Ayah tidurnya ngorok. Ibu ngga suka. Aku percaya. Maklum anak umur delapan tahun. Bodoh ya?”

Bias tak menjawab, hanya menyetir sambil memandang lurus jalan malam hari di Jakarta.

“Waktu aku tanya siapa wanita yang ayah bawa, ibu selalu buru-buru bawa aku ke kamar. Bacain cerita, atau tiba-tiba ngajak aku gambar. Aku tanya lagi, ibu cuma bilang, itu tante. Bukan siapa-siapa. Dan aku fokus ke kegiatan kami.” Ia memegang dadanya dan menarik napas panjang, menahannya, lalu menghembuskannya. “Dan itu terjadi bertahun-tahun. Bodoh kan?”

Bias masih belum tahu harus berkata apa.

“Waktu aku tahu, aku mulai memberontak. Rumah semakin kacau. Lelaki itu semakin ngga terkontrol. Memecut kami dengan sabuk,” Anti meringkuk memeluk tubuhnya seakan ia dapat merasakan kejadian itu lagi, setelah sekian lama.

Mobil melambat perlahan, lalu berhenti. Bias memandangi kekasihnya. Menyesal. Bagaimana mungkin ia baru sadar akan kebohongan kekasihnya selama ini yang selalu mengatakan hal baik tentang keluarganya?

“Maafkan aku, Anti.” Hanya itu kata yang mampu keluar. “Aku tak pernah sadar betapa sakitnya kamu.” Lelaki ini menangis dalam diam. Namun begitu dalam hingga rahangnya mengeras menahan teriakan yang ingin keluar.

“Bertahun-tahun kami hidup dalam penghianatan, Bias.” Anti berkata pelan, hingga hampir tak terdengar. Ia begitu mengingat masa itu. Masa dimana ia dan ibunya dilucuti pakaiannya, lalu dipecut dengan sabuk, atau dilempari dengan benda apapun yang berhasil diraih ayahnya. Hingga ia lupa ia pernah bahagia memiliki ayah yang ia anggap sempurna.

Anti masih sangat mengingat hari dimana ibunya mulai diam. Tak menangis bahkan ketika dipukuli. Ibunya hanya diam. Tak menangis sedikitpun. Lalu ayahnya pergi dengan wanita lain dan tak pernah kembali.

Setelah itu, ibunya masuk rumah sakit jiwa dan Anti juga. Anti hanya dirawat selama dua bulan, karena trauma. Namun ibunya, sudah benar-benar berbeda. Ibunya tak dapat kembali seperti sedia kala. Anti pun harus belajar hidup mandiri bersama kakek dan nenek, orang tua ibunya. Semua saudara pergi. Tidak peduli akan ia dan ibunya. Ada yang peduli. Ah, bukan. Tapi mengasihani. Bahkan pernah ia menyarankan Anti untuk dimasukkan ke Panti Asuhan.

Mesin mobil kembali menyala. Mereka melanjutkan perjalanan.

***

Tiga tahun kemudian….

“Bu, pegang ini.” Aku menggenggam tangan ibu, dan menggerakkannya menyusuri perutku yang membuncit. “Nih, cucu ibu lagi gerak-gerak. Ibu merasakannya kan?” Ibu mengangguk takjub. Ia tersenyum lebar. Aku menatap Bias yang sedang merapikan pakaian ibuku.

Ini ulang tahun pernikahan pertama kami. Kami memutuskan untuk merayakannya bersama ibu yang masih dirawat di rumah sakit. Keadaan ibu semakin membaik. Ia mulai menerimaku, dan mengingat namaku. Ibu juga sangat menyukai Bias. Bias selalu memperlakukan ibu bak orang normal. Bias menerimaku, juga ibuku

Setelah kejadian tiga tahun yang lalu, Bias tak pernah lagi memaksaku untuk menikahinya. Ia malah rajin menjenguk ibu. Membantunya mandi, memakai baju, makan. Terkadang kami melakukannya bersama.

Walau kami sempat ditentang orang tuanya, namun Bias yang sabar akhirnya meluluhkan hati orang tuanya juga. Dan aku menjadi menantu idaman, karena aku menantu satu-satunya juga, sih.

“Heh, senyum-senyum sendiri.” Kata Bias mengagetkanku. Aku tertawa kecil.

***

Hari itu tiba. Hari pernikahan kami, yang sudah kami perjuangkan selama tiga tahun. Setelah kejadian malam itu, malam dimana aku mengerti apa yang sebenarnya mengganjal di hati Anti, akhirnya kami memutuskan untuk selalu bersama. Aku tak pernah memintanya untuk segera menikah. Aku tak ingin menjadikan ini beban baginya. Biarlah aku yang bersabar.

Menghadapi orang tuaku lebih sulit dibanding menghadapi ibu Anti. Orang tuaku sangat menentang kami. Mereka bahkan pernah mengusirku. Namun Anti membuat mereka berubah. Entah bagaimana, Anti membuat orang tuaku akhirnya memahami kami dan merestui kami.

Hari itu pun tiba, saat kami berada dipelaminan dan menyalami kurang lebih 100 tamu undangan. Hanya keluarga dan teman dekat kami saja yang kami undang, demi menjaga privacy ibu Anti. Ya. Ibunya ada di pernikahan kami.

Anti sangat cantik dengan kebaya putihnya. Begitulah, tampang istriku sejak dulu hingga hari ini, dan seterusnya. Kini ia tengah mengandung anak pertama kami. Bias Junior, aku kerap menyapanya. Namun Anti mengelak. Anti Junior, katanya. Kami tidak sepaham kali ini. Aku menginginkan anak lelaki, ia menginginkan anak perempuan.

Hidup mengajarkanku untuk selalu berjuang dan menerima. Berjuang untuk mendapatkan apa yang diinginkan, dan menerima apapun konsekuensi yang didapat. Dan Anti mengajarkanku cara menyayangi yang sebenarnya. Tanpa imbalan. Tanpa menggaruk keuntungan sedikitpun.

Orang tua kami, bapak; ibuku dan ibu Anti selalu mengajarkan bagaimana kesabaran itu bekerja ampuh. Kami dilatih untuk menjadi orang yang tegar dan teguh pendirian. Kami semakin jatuh hati dan ingin memperjuangkanya.

Hingga saat ini…. Ia adalah istriku, wanita yang aku cintai. Sampai maut memisahkan.

***

Ia adalah suamiku, yang tak ingin kulepas. Tak akan. Ia lelaki yang paling aku cintai di dunia ini. Ialah ayah dari Anti Junior, dan adik-adiknya nanti.


TAMAT

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s