Daydreaming

Daydreaming  (‘melamun’ in indonesian) is a fantasy especially in pleasure, a story about plans of life that not happened in real world, a condition when your fantasy or imagination are surrounded over your mind.

Daydreaming, adalah sebuah fantasi atau imajinasi yang lo buat sendiri di dalam pikiran lo. Pernah kan lagi diem di kamar tiba-tiba lo mikir, ‘pendamping hidup gue nanti lagi apa ya? doi kayak gimana ya? nanti punya anak berapa ya?’ pernah? Gue sih pernah. Sering. Atau, contoh lagi nih. Lo lagi di kelas dengerin dosen ngajar, lo membayangkan diri lo lagi berkelana di padang pasir, terus ketemu goblin, dia minta bekal lo terus lo kasih eehh mendadak dia berubah jadi peri cantik. Pernah? Itulah saat-saat dimana lo sedang mengalami daydreaming.

Menurut gue, terkadang melamun itu perlu. Asal ngga kebanyakan, ngga terus-terusan. Karena kalo hidup lo isinya melamun terus, bisa jadi lo mengalami Maladaptive Daydreaming. Mau tau apa? Sok googling. heheuhuuu. Terkadang memang gue ngga menawarkan solusi.

Menurut gue sih daydreaming itu perlu. Daydreaming dibutuhkan untuk kita merancang masa depan, mau gimana ke depannya, bagusnya gimana. Asaaalll. Kita tulis dan kita wujudkan! Bagi gue yang suka bermimpi sih, hal ini yang biasa gue lakukan, dan itu perlu. Walaupun terkadang gue ngga yakin bisa merealisasikanya atau engga, yaaa namanya juga daydreaming. Hahahahaa..

Paan sih tulisan w ngga penting ya? :” hiks

Ternyata eh ternyata, setelah gue banyak mencari sumber, gue menemukan bahwa: Benar, daydreaming ada manfaatnya. Ngga selamanya melamun itu buruk dan bikin kesurupan.

Menurut salah satu sumber yang gue baca, studi baru yang dipublish dalam Psychological Science by researchers from the University of Wisconsin and the Max Planck Institute for Human Cognitive and Brain Science, menunjukkan bahwa pikiran yang berkelana (wandering mind) berkorelasi positif dengan kemampuan working memory. Daydreaming di sini tidak berfokus hanya pada ketidaksadaran kita pada dunia nyata, tapi bagaimana kita memiliki pengalaman berimajinasi itu sendiri.

Ada fakta menarik dari penelitian ini! Kenapa orang yang melamun cenderung memiliki kapasitas working memory yang besar? Jawabannya adalah: “Karena ada ruang kerja mental ekstra yang dilakukan, seperi menjumlahkan dua angka sekaligus,” menurut Daniel Levinson, seorang psikolog di University of Wisconsin-Madison (Beliau juga meneliti mengenai daydreaming. Asumsi gue, beliau juga peneliti yang sama sesuai penelitian di atas, tapi gue belum memastikan. Pendapat ini gue ambil dari sumber yang berbeda.).

Menurut sang peneliti Jonathan Smallwood, “What this study seems to suggest is that, when circumstances for the task aren’t very difficult, people who have additional working memory resources deploy them to think about things other than what they’re doing,”

Yang studi ini tunjukkan adalah ketika keadaan untuk tugas tidak terlalu sulit, orang yang memiliki extra working memory menggunakannya untuk memikirkan hal lain selain apa yang dilakukan. Jadi, pikiran daydreamer ini berkelana karena sesungguhnya mereka memiliki kapasitas yang berlebih pada working memory-nya yang sayang jika hanya digunakan untuk mengerjakan tugas.

Itulah mengapa orang yang suka melamun dan tugasnya selalu beres bisa dikatakan multitasking.

Daydreamer atau orang yang mengalami daydreaming biasa menggunakannya sebagai cara untuk sejenak melarikan diri dari masalah di dunia nyata, mengatasi situasi frustrasi atau hanya sekedar memenuhi keinginan yang terselubung. Hampir semua orang mengalami hal ini. Dalam intensitas yang berbeda-beda tentunya. Ada yang sedikit melamun, karena tidak sempat, ada juga yang kerjaannya melamun sepanjang hari dikarenakan kurang kerjaan, atau mungkin mengalami Maladaptive Daydreaming seperti yang gue jelaskan sebelumnya.

Kalau lo udah bingung membedakan gambaran mental atau yang hanya di pikiran lo dan itu tidak nyata dengan kenyataan, itu bisa disebut halusinasi, bukan lagi daydreaming. Jadi, seorang daydreaming masih dapat membedakan mana yang nyata mana yang engga.

Daydreaming, masih menurut sumber yang gue dapat, ngga berbahaya. Selama tadi, lo maih bisa bedain mana yang ada di pikiran lo dan mana yang nyata dan ketika lamunan lo ngga membuat lo melupakan hal-hal yang seharusnya ngga lo lupakan seperti tugas, plan masa depan lo, pacar, gitu-gitu deh.

So, selama ngga mengganggu, lamunan lo sah-sah aja. Kalo ada yang bilang, “His! Jangan ngelamun ntar kesurupan!”, mungkin doi hidup di jaman 60an, jaman di mana hal-hal mistis masih berpengaruh a.k.a jaman simbah kita masih muda.

Sources: 

http://www.smithsonianmag.com/science-nature/the-benefits-of-daydreaming-170189213/?no-ist

http://psychology.jrank.org/pages/163/Daydreaming.html

http://www.republika.co.id/berita/gaya-hidup/info-sehat/12/03/18/m12xkr-sering-keasyikan-melamun-pertanda-otak-cerdas

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s