Puisi Cinta Teruntuk Malam

Aku menulisnya tepat tengah malam. Bagiku… Tak ada yang lebih menyenangkan dibanding menulis dengan mata layu dan pundak yang lemah. Tengah malam saat yang tepat.

Untuk mendoakanmu, wahai malam yang kucinta.

Malam… Begitulah aku menyebutmu. Lelaki yang mampu membuatku bahagia semalam penuh hanya dengan kubayangkan dan kumimpikanmu. Malam yang sekejap namun mampu kuingat tiap detik keindahannya.

Di tengah malam kala mata ini terjaga… Hanya satu yang ingin aku sampaikan, wahai malamku, lelakiku, cintaku. Betapa hati ini sakit karena mampu melihatmu, namun tak dapat memiliki ragamu yang amat ingin kusentuh dengan kasih.

Sayang… Mungkin hatimu bukan untuk wanita sepertiku. Wanita congkak dengan sikap yang memuakkan. Wanita bergincu merah yang sangat menyukai bibirnya yang seksi dan patut dikecup. Wanita dengan tawa yang keras dengan semua gigi mencuat keluar saking terbahaknya. Wanita yang belum mampu menjaga dirinya.

Begitu pahit hidup wanita ini, asal kau tahu.

Betapa ia setiap malam membayangkan tiap inci raganya kau sentuh ringan hingga membuatnya bergidik menahan geli yang sangat. Betapa setiap hari, di siangnya yang terik ia membayangkan betapa nikmatnya berjalan bersamamu dengan berpegang tangan erat, dan kau menceritakan segala kebahagiaan yang membuatnya tertawa.

Namun tak apa….

Wanita ini hanya butuh waktu, malam.

Aku hanya butuh waktu untuk menerima segala bahagiamu, pun sedih resahmu. Aku hanya butuh waktu untuk kembali berkelana menatap malam baru yang lebih indah, dan akhirnya melupakanmu, jika diri ini menginginkannya.

Tak apa jika belum kudapatkanmu, wahai malamku, lelakiku, cintaku.

Di sini akan kubagi seberapa dalam kumencintaimu. Agar dunia tahu, betapa ingin kugapai dirimu. Agar dunia tahu betapa ingin kugoda dirimu dengat mengecupmu berkali-kali hingga warna gincu merah beradu dengan coklat kulitmu. Agar dunia tahu betapa ingin kupeluk dirimu saat hari tersulitmu. Agar dunia tahu bahwa aku sungguh mencintaimu.

Ada saat dimana kudiam membisu ketika menatapmu, dan kulihat bunga bermekaran seketika di dada. Membuatku sesak kegelian hingga aku berjinjit selayaknya anak kucing yang ingin kencing.

Kala kita bertatap mata, selalu humor dan tawa kuungkap semata untuk membuatmu kembali menatapku dan mencurahkan tawa bahagiamu. Kala bertatap mata, entah berapa kedipan yang kutunjukkan saking aku tertarik denganmu. Entah berapa helai rambut yang sudah kumainkan demi menggodamu, wahai lelaki yang kucinta. Itu hanya sedikit dari bahasa tubuhku, malam.

Jarak tak mampu menyembunyikan dentuman jantung yang begitu hebat ini, malamku. Jauh dekat, tetap kurasa sama. Jantungku berdetak kencang bagai motor balap yang melaju dengan kecepatan 200 kilometer per jam. Betapa cepatnya itu, mampukah kau bayangkan?

Lewat tengah malam, akan kuhantarkan rindu yang begitu memuncak untukmu, malam yang kucinta.

Lewat tengah malam, akan kutunjukkan pada-Nya, Tuhanku, seberapa cinta ini membuatku buta dan selalu haus bagai bayi yang selalu merindukan pelukan hangat ibunya.

Lewat tengah malam, kuberikan puisi cinta ini… Bukan semata-mata agar kau pertimbangkan rasa ini. Bukan. Lebih dari itu, malam.

Lebih dari engkau, malamku.

Inilah puisi cinta teruntuk dirimu, malam yang kucinta dan selalu kurindu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s