Semakin Berat

Gue bingung. Gue merasa segala keputusan yang gue buat selalu salah. Gue ngerasa menjadi manusia paling menyedihkan. Bagaimana engga? Gue merasa ngga nyaman dengan diri gue dan ini menyebabkan gue mengalami banyak keganjilan dalam hidup gue sekarang.

Gue jadi males makan. Sebelumnya ngga pernah gue gini. Ini adalah rekor terhebat gue, “ngga makan dua hari”. Bukan karena gue diet atau ngga laper. Gue laper, laper banget. Tapi gue ngga tergerak untuk beli makanan. Walau sakit perut mulai terasa, gue engga minat. Sangat engga minat. Dalam diri gue, dalam pikiran gue seakan memberontak. “Engga, engga. Gue ngga mau makan”.

Gue males beberes kamar. Walau hal ini bukanlah hal yang aneh, alias gue memang terbiasa untuk jarang membereskan kamar, tapi kali ini. Rasanya lain. Gue yang biasanya ketika lihat kecoa keluar dari kamar mandi lalu langsung tergerak untuk nyikat kamar mandi dan mengepel lantai serta membereskan meja gue terus nyuci semua peralatan makan gue, sekarang engga. Gue jadi super jorok luar biasa. Gue ingin gerak, tapi di dalem sini seperti ada yang bilang, “jangan Mel jangan beres-beres”. Semacam pemberontakan dari dalam. Dan gue tahu kenapa.

Terus, gue jadi ngga tergugah untuk bersosialisasi. Gue males ketemu orang-orang. Gue males bahkan untuk menatap orang-orang. Gue kehilangan rasa percaya diri gue yang sebelumnya sangat tinggi. Gue ngga berminat untuk ketawa, bahkan untuk menanggapi teman-teman gue. Gue ngga ingin ketemu siapa-siapa, bahkan teman terdekat gue. Gue merasa bahkan mereka ngga bisa membantu gue. Mereka malah semakin membuat gue senewen dengan saran-saran mereka. Bukan karena aran mereka murahan atau ngga layak. Saran mereka gue sadari sangat keren, bagus dan memang benar. Tapi dalam diri gue, lagi-lagi bilang, “engga Mel, engga bener. Jangan dengerin Mel, jangan.”.

Gue pun tadi meninggalkan kegiatan yang sangat penting. Foto angkatan. BUkan karena gue ngga mau, bukan. Bukan karena gue apatis dan ngga ingin foto bersama teman-teman gue, bukan. Gue ngga mau ada kenangan mengenai diri gue sekarang. Dengan pribadi gue yang berbeda. Dengan diri gue yang sedang linglung dan mengalami kebingungan luar biasa. Gue bukan gue yang dulu. Gue ngerasa aneh. Gue ngerasa ngga bisa menjalani ini semua, dengan diri gue yang sekarang.

Betapa gue ingin mengenakan dress pendek yang menurut gue lucu. Betapa gue ingin mainin rambut gue dan ngibasin rambut gue di depan semua orang. Betapa gue ingin memperlihatkan paha gue, lengan gue dengan gelang-gelang yang selalu gue pakai. Betapa gue ingin nyepol rambut gue hingga pundak gue terlihat. Betapa gue ingin mengenakan baju dengan kerah lebar dan rendah sehingga tali kutang dan tangtop gue terlihat. Betapa gue ingin bebas mengeksplor busana yang gue kenakan senyaman mungkin, walau ada yang bilang itu terlalu seksi, seperti pakai handuk, tapi gue ingin. Betapa gue ingin memakai lipstik merah dan ingin menunjukkan ke semua orang kalau gue ini berani. Gue ingin melakukan itu.

Gue. Hal yang sebelumnya ngga pernah gue bayangkan ketika gue memutuskan untuk berkerudung, sekarang semua jadi terasa jelas di depa mata, Gue ingin selalu mengeluh, gue ingin selalu menangis, gue ingin selalu memaki diri gue sendiri. Gue ingin selalu membalikkan waktu.

Gue ngga yakin dengan pilihan gue, justru setelah gue memilih. Gue ini apa? Orang yang ngga taat? Orang yang ngga patuh? Anak yang ngga sayang orang tua? Teman yang ngga tahu diri? Seakan itu yang teman-teman gue katakan ke gue ketika gue bercerita. Mereka bilang jangan. Mereka bilang, “Mel, keep istiqamah”. Dan itu sungguh beban. Sungguh beban yang sebelumnya ngga pernah gue bayangkan. Beban berat yang gue ngga pernah tahu sebelumnya ketika gue belum memutuskan.

Gue mengerti akan arti agama, mungkin belum Betapa agama gue menuntun umatnya untuk selalu baik. Betapa aturan-aturannya sesungguhnya baik dan ngga berat. Tapi kenapa gue merasa berat?  Kenapa gue merasa semua ini beban? Kenapa gue merasa gue ngga bisa bebas? Kenapa gue merasa gue ngga percaya diri?

Gue ngga terlihat jelek. Gue ngga terlihat payah. Semua orang memuji gue. Dan beban bertambah ketika, teman-teman baru melihat gue dan mereka bilang, “Subhanallah Ameeel. Semoga istiqamah ya.” Atau, “Ameel? Seriusan? Istiqamah ngga nih?”. Itu membuat gue semakin merasa terjerat. Terjerat dengan keputusan gue sendiri.

Gue sungguh ingin mengulang waktu dan ngga melakukan ini. Gue sungguh tidak mengerti mengapa pagi itu gue bermimpi dan akhirnya bangun dengan keputusan yang sekarang memuakkan bagi gue. Gue benci dengan diri gue. Kenapa Allah kasih gue mimpi itu, lalu buat gue yakin, lalu buat gue aneh dan merasa ngga yakin lagi?

Gue benci diri gue sendiri. Gue ingin memutar waktu. Gue ingin menghilang.Gue ingin tampil seperti dulu. Gue tau konsekuensinya. Lingkungan gue yang seluruhnya mendukung, apa kata mereka? Apa kata mereka yang udah ngasih gue hadiah dan doa agar gue selalu bertahan? Gue ngga sanggup membuat mereka kecewa. Tapi gue juga ngga sanggup untuk tiap hari menahan tangis dan sakit di dada.

Entah. Seringkali gue merasa kalau gue akan berakhir. Sepenuhnya berakhir.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s