Ganjil Terlampau Dalam

Sebulan yang lalu, mungkin gue maih berpikir gaya rambut mana yang ingin gue perlihatkan kepada dunia. Gue mulai melihat-lihat web terkait sambil berfantasi dengan diri gue sendiri ketika mengenakan gaya tersebut. Gue bahkan mencoba sedikit tutorial gaya rambut sesuai gambar.

Entah bagaimana jadinya, secepat itu gue berubah. Menjadi Amel yang berpikir visioner ke akhirat. Memikirkan Papa yang mungkin sangat terluka ketika gue belum menjadi perempuan yang baik yang menutup auratnya. Menjadi Amel yang berpikir, pasti suami gue akan tidak malu kala pergi keluar dengan istri yang menutup auratnya. Menjadi Amel yang tetiba diam, tak bergairah untuk tertawa terbahak. Menjadi Amel yang seutuhnya lebih baik, menurut orang sekitar.

Begitu mudah Tuhan membolak-balikan perasaan umatnya. Kala pagi itu, hari kamis ketika gue terbangun dengan dada yang sesak, gue tidak berpikir kemungkinan-kemungkinan dari dalam diri gue yang bisa jadi tergoda ketika mengenakan kerudung. Gue bisa saja pagi itu menyerah dengan keputusan gue dan akhirnya melepas kerudung yang gue pakai. Namun gue tidak melakukannya.

Dengan muka yang tertunduk dan jantung yang belum sepenuhnya tenang, gue terus berjalan. Alih-alih tidak ingin bertemu dengan siapapun, gue pun naik ojek sampai kampus. Di kampus sudah sepi. Gue pikir kelas sudah mulai. Sampai di parkiran, gue belum menemukan satu orang pun yang mengenali gue. Dan saat itulah, gue dapat menyerah dengan keputusan gue. Tapi gue engga. Berkali-kali ketika melewati mobil yang diparkir, gue melihat diri gue sambil bilang, “it’s ok mel. bismillaah..” hanya itu yang gue ucapkan sebanyak-banyaknya.

Hingga semua orang seantero Fapsi mengetahui gue yang berkerudung. Dan hari itu berjalan sukses. Gue mencoba mantap.

Beberapa hari setelahnya, gue mulai goyah. Gue ingat beberapa dress yang belum sempat gue perlihatkan kecocokannya dengan tubuh gue ke seluruh dunia. Gue menangis, bahkan ketika membuka lemari baju juga ketika bercermin (hal yang menjadi kebanggan gue). Setiap malam, kala perasaan berat berkecamuk. Gue seakan bertarung dengan diri sendiri dan dengan lingkungan. Di pikiran gue.

Gue ingin kembali ke hari sebelum hari pertama gue mengambil keputusan yang bahkan hingga sekarang gue tidak menyadarinya. Gue ingin kembali ke masa di mana gue percaya diri. Sangat. Gue ingin tidak peduli dengan perasaan teman-teman yang sudah sangat baik kepada gue.

Pernahkah kalian merasakan beban sedemikian hanya karena ingin fit dengan lingkungan? Gue pernah bercerita. Gue bukanlah orang yang mengerti agama. Gue bukanlah orang yang taat-taat amat. Mungkin justru tidak. Gue begitu tidak peduli dengan apapun yang gue lakukan yang tidak berhubungan dengan agama gue.

Gue merasa berat. Gue rasa semua beban telah tertumpuk di pundak gue. Gue jadi berpikir… Kerudung dan rok yang diberikan ke gue semacam sogokan agar gue tak sampai lepas kerudung lagi. Gue merasa pagi itu, kamis itu, gue disihir. Gue merasa salah.

Gue bercerita ke banyak orang yang sangat luar biasa. Mereka bukan berada di jalan gue yang seakan ingin menjauh dari kebenaran menurut agama. Mereka menambbah beban gue. Gue semaki tidak maju. Gue semakin ingin memaki.

Banyak petunjuk dari Tuhan Yang Maha baik, menurut gue. Dari mulai terjemahan ayat di twiter, update dakwah di line, bahkan update foto atau status teman-teman gue yang seakan ditunjukkan untuk gue. Gue semakin ingin menyerah dan tak bisa. Bagaimana mungkin gue sanggup mengecewakan banyak manusia? Manusia yang mendukung gue.

Sekali. Gue mencoba untuk tidak memakai kerudung kemarin, ketika hati gue membaik.

Gue merasa mendapat tatapan, “KOK?” dari keempat teman gue yang gue temui di mall. Dan bagaimana mungkin gue sanggup menerima tatapan demikian dari setiap orang yang gue kenal? Bagaimana mungkin?

Kebebasan gue, bak gue pertaruhkan di sini.

Allah… Sungguh aku ingin menyerah. Betapa aku ingin melenceng dari jalan Engkau. Betapa aku ingin berbuat maksiat dengan membiarkan orang menatapku kala kupakai rok pendek dan mengenakan gincu merah. Betapa aku ingin tampil seperti aku yang tanpa kerudung.

Allah… Bagaimana jika aku tak sanggup? Bagaimana jika aku tambah sakit ketika berkutat dengan pilihanku sendiri?

Allah… Bagaimana aku menjelaskan kepada dunia bahwa aku tak bisa? Bahwa aku tak yakin.

Apa gue harus bersyukur akan apa yang disebut teman gue hidayah ini? Apa gue harus menerima apa yang teman gue bilang cobaan ini? Apa gue harus ikhlas mengenakannya demi menyelamatkan orang tua gue?

Allah… Betapa aku menyesal dengan keputusan ini. Tapi aku mampu apa?

Allah… Betapa aku ingin bercerita kepada semuanya bahwa aku tak ingin begini. Betapa aku ingin yakin, lebih dari ini.

Allah… Mengapa Engkau begitu mudahnya membolak-balik keyakinan ini? Sungguh aku tak ingin menjadi yang paling tidak yakin di antara sekian banyak wanita yang baru mengenakan kerudung.

Allah… Betapa aku lelah mengeluarkan air mata tiap malam. Betapa aku lelah menahan sesak ketika melihat dress lucu di mall.

Allah… Bolehkah aku menyerah saja? Betapa rasa ini sangat ganjal. Maafkan aku ya Allah. Izinkan aku menyerah…..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s