Analisis Kejombloan

Postingan kali ini akan membahas seputar kejombloan yang gue alami. Memang ngenes sih karena kata “kejombloan” yang gue pakai agak tidak manusiawi seakan jomblo adalah sesuatu yang tidak indah yang perlu dianalisis kenapa sampai ada yang namanya jomblo.

Well, gue sampai detik ini memang masih jomblo. Jomblo? Ada yang ngga tau jomblo? L ngga tau jomblo? L ngga pernah ngerasa jomblo? Oke fix bodo amat gue ngga peduli *naonsih._. Intinya, gue adalah cewek jomblo yang banyak usaha sih sebenernya. Sejujurnya, jomblo bukan suatu yang ngga biasa gue jalani. Kejombloan sudah sangat biasa gue jalani. Tanpa cowok yang selalu bilang, “Selamat malam sayangku, selamat tidur, love you,” gue sudah biasa. Seperti suatu habit yang sampai saat ini masih gue pertahankan. Bukan karena gue selalu nolak cowok yang deketin gue atau bukan karena gue selalu mutusin pacar gue, bukan. Ngga lain ngga bukan adalah karena… karena ngga ada cowok yang nembak gue aja.

Sejujurnya, gue sempat merasa buruk dikarenakan kejombloan gue yang tak berujung ini. Bayangkan! Dari dulu (jaman SMA) sampai sekarang, dari dua sahabat cewek gue punya pacar sampai putus lalu mereka punya pacar lagi, gue masih jomblo aja. Ngga ada perubahan yang signifikan. Dan kali ini gue akan menganalisis apa yang menyebabkan gue jomblo selama ini.

  1. Nampaknya gue terlalu besar. You know what I mean. Tadi gue timbang berat badan di jatos sebelum donor, berat gue 45++ sekian. Sungguh berat tubuh ini. Sejujurnya sih, berat segini bukanlah sesuatu yang harus dipermasalahkan. Apalah arti badan langsing kalau ngga bahagia? Mending gendut walaupun ngga bahagia. Seenggaknya badan subur itu identik dengan orang yang bahagia selalu. Bukan itu yang gue maksud. Tapi lelaki jaman sekarang, yang gue lihat sih, sangat melihat seorang perempuan dari bodynya. Dari fisik. Ngga dipungkiri, ngga munafik, memang yang badannya langsing dan mukanya cantik memang idaman. Enak dilihat. Ini sudah semacam stereotype yang beredar di kalangan gue. Dan gue ngga memungkiri, memang yang demikian itu mungkin berpengaruh pada kejombloan gue.
  2. Apa gue terlalu flirting? Flirting yang dimaksud disini bukan yang ketika gue nge-grepe-grepe cowo gitu gitu ya. Flirting yang gue maksud adalah ketika gue selalu ngegodain temen-temen dengan bahasa tubuh gue yang ngelawak, atau gaya bicara gue yang kadang desah-desahan. Tapi itu purely karena gue ingin ngelucu aja, bukan untuk menarik perhatian. Tapi sedikit untuk menarik perhatian gitu juga sih hahaahaa. Mungkin ini yang menyebabkan cowok-cowok rada lllfeel dengan gue. Gue tuh ngga bisa tampil anggun cantik sedikiitt aja.
  3. Terlalu sibuk? Bisa jadi! Gue orang yang selalu mencari kesibukan sih sebenarnya hingga gue ngga punya (lebih tepatnya ngga menyempatkan waktu) untuk mengurus diri gue sendiri. Untuk sedikit berolahraga, gue ngga bisa. Apalagi ke salon. Bahkan untuk tidak tidur malam, gue ngga bisa. Pokoknya, gue selalu saja terkungung oleh tanggung jawab gue sebagai seorang aktivis. Belajar kapan hoooyy!!
  4. Tidak terlampau smart. Gue bukan orang yang cemerlang mengenai akademik. Aduh IPK gue memalukan. Bikin malu emak babeh gue pokoknya. Gue juga orang yang skip dan plin plan, seringnya. Gue sekalinya bego, keterlaluan! Sekalinya ngga nyambung, parah! Gue juga orang yang kalo bingung dan ngga ngerti itu ketahuan baget siah begonya. Jadi gue ngga pernah bisa sok pinter, apalah itu namanya.
  5. Gue terlalu ceplas ceplos dan tidak memiliki manner. Gue itu bukan orang yang pandai memuji seseorang. Tapi bukan berarti gue pandai menjelek-jelekkan orang juga, sih bukan. Tapi seringnya begitu HE. Gue orang yang ngga bisa diam dan ngga tahu malu, terkadang. Ketawa gue juga sangat tidak bermanner. Kalau makan juga gue ngga bisa pelan. Itu sih smacam habit mungkin yaaa. Dan mungkin ini juga yang membuat lelaki malas meladeni gue.
  6. Gue aja belum yakin dengan diri sendiri, gimana bisa seseorang yakin dengan gue? Hal ini…. Gue sangat menyadarinya. Betapa gue selalu galau dan tampil tanpa arah. Gue kerapkali tidak yakin dengan suatu hal dan itu kelihatan. Ini pertanyaan yang menusuk sih. Tapi yaaa jujur ini yang gue rasakan. Psangan kita itu proyeksi diri kita bukan?
  7. Gue tidak pandai mengurus diri sendiri. Bangun selalu kesiangan. Makan ngga bener, telat lagi. Olahraga ngga pernah. Selalu mengeluh jaran berpikir positif. Kamar berantakan. Bagaimana gue bisa mengurus orang lain sedangkan diri gue sendiri masih perlu diurus?
  8. Kelewat BAPER!

Hingga saat ini, analisis gue sih sampai sini aja. Gue berusaha berpikir positif sih sejujurnya. Karena menurut gue, huznudzonnya siihh…. Gue belum dikasih pacar karena memang gue disuruh untuk menjaga otak gue dulu. As you know…. Gue itu orangnya porno banget! Gue masih belum bisa menghilangkan pikiran-pikiran negatif yang bermunculan di otak gue.

Mungkin juga… Gue disuruh menjaga hati gue dulu dan menghilangkan segala prasangka buruk yang kerapkali mengintai hati gue yang kotor ini. Kerapkali gue berprasangka dan itu tidak dewasa.

Gue juga merasakan kalau…. Mungkin gue jomblo bukan karena gue ngga asik diajak pacaran atau karena kekurangan-kekurangan yang gue sebut di atas tapi… Karena gue masih terlalu istimewa buat para lelaki. #EAAAKK agak ngaco sih maaf oleng, Kapten!

Gue istimewa lagi. Gue diciptakan untuk lelaki yang juga istimewa. Kata ini selalu gue ingat, “Wanita itu bak berlian yang diincar semua lelaki.” kata ini dari guru agama gue SMA dulu. Dan gue yakin, siapapun dia, pastinya sedang menunggu berliannya siap untuk dimiliki.

Dan sampai pada satu kesimpulan. Ngga ada yang salah dari diri gue yang jomblo, begitupun kalian, ladies! Perempuan berumur seperti kita (menuju 20 tahun) memang terkadang pusing dan ingin selalu mengikuti trend pasaran, yaitu pacaran ala anak muda. Tapi percayalah kata-kata Afgan satu ini, “jodoh pasti bertemu.” 🙂

Advertisements

2 thoughts on “Analisis Kejombloan

  1. Andari Jamalina Pratami says:

    analisis kejombloan amel bisa jadi bukan analisis kejombloan secara umum.
    coba buat analisis kejombloan untuk semua orang. wkwkwkwk

    overall yang gue liat itu sisi negatifnya. gimana ternyata kalo sisi positif lo yang justru bisa memepertahankan status kejombloan lo?atau emang jomblo itu negatif jadi alasannya pun negatif? *mikir* wkwkwk

    • christamelia says:

      iya ini emang untuk gue sih sist. habisnya kalau berlaku umum nampaknya belum kuasa menganalisisnya hahaha. engga sih… tapi gue rasa kelebihan gue ngga terlalu berdampak…. egatauding mungkin lo bisa mereview kelebihan gue dalam bentuk tulisan, jadi gue bisa, “oooh iya juga sih kelebihan gue emang bla bla.” karena kalo gue nilai kelebihan gue sendiri gue ngga berani hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s