My Ramadhan’s Journal. Day 1 (checklist)

Hello guys! Lama tak bersua. Motivasi menulis gue lagi rendah, jujur aja. Bukan, bukan karena gue sibuk. Tapi gue sedang menekuni hobi lain yaitu: Stalkerin IG siapapun. Gue ngga ngerti ini hobi semacam apa. Yang jelas, ketika gue buka instagram, lalu buka menu search yang di dalamnya ada foto orang-orang random, dan ketika itu gue tergugah untuk membuka fotonya satu-persatu. 3 jam penuh bisa gue habiskan untuk melakukan hobi semacam itu tanpa mengusik hal lain, pun bahkan seharian penuh bisa, asal ada paket internet.

Well, selamat puasa 1436 H all readers, all my friends, family!

Di hari puasa pertama ini, gue hadapi dengan suka cita. Memang diawali dengan mood yang ngga baik sih karena gue mewek di hari pertama sahur. Gimana engga? Gue kesiangan hiksss. Sahur hanya minum air putih segelas kecil aja.

Sejujurnya, bukan karena ‘hanya’ minum air putih itu sih yang bikin gue menangis sedikit. Tapi gue rindu rumah. Sangat rindu. Biar gue ceritakan sedikit kronologisnya.

04:20 gue bangun dengan mata tercengang. Degdegan dada gue. Udah ada suara orang ngaji tuh dan gue ngga tau itu udah subuh apa belum. Lalu gue diam terbeku di tempat tidur.

04:27 gue memutuskan untuk segera masak air di magicom untuk selanjutnya masak mi instant. Lalu gue  minum air putih. Di hati, gue tau, gue yakin ngga akan keburu kalau masak. Tapi posisinya sih gue ngga tau kalau pagi itu udah imsak apa belum. Jadi gue usahain untuk sebisa mungkin makan.

04:28 gue tanya di grup line gue yang isinya gue dan “Agen Hidup” gue, yang langsung dibalas oleh Agen E “Udah, barusan diumumin.” Nah. Benar perkiraan gue.

Lemas. Gue langsung mencabut kabel magicom yang baru saja gue colok. Seketika gue badmood. Awalnya gue janjian sahur gitu sama Agen S yang satu kos dengan gue, tapi kamar kita berjauhan. Tapi gue kesiangan. Apa boleh kata, alarm dari jam 3 yang kencengnya sampe tetangga sebelah kamar gue denger, tak urung membangunkan gue yan selayaknya kerbau ini kalau sedang tidur.

Gue buka sms, ternyata mama dan papa sms jam setengah 4 nanya, “Mba udah bangun belum?” Terus gue mendadak kesal, dan malah bales (kasar sih) “AH papa sih ngga telpon. Mila kesiangan tau.”

Sent.

Beberapa detik kemudian gue menangis.

GOD! Gue pengen puasa di rumah yang tiap sahur dibanunin dan dimasakin. Gue pengen sahur di rumah yang di sela-sela nunggu imsak gue bisa sambil nonton TV. Gue pengen buka di rumah yang tanpa beli es buah pun mama biasa nyiapin. Gue pengen buka puasa pake masakan rumah yang rasa surgawi. *anyway gue belum pernah ngerasain surga sih*

Intinya. Emosi gue berjolak seketika. Gue sedih luar biasa seakan gue terjebak di neraka. *neraka gue juga belum pernah ngerasain sih. amit amit* Lalu seperti biasa… Bukan gue namanya kalau ngga suka flashback tiba-tiba sekaligus mengumpat. FAK. Gue teringat beberapa bulan yang lalu dimana gue meng’iya’kan tantangan besar yang luar biasa. Bergabung di panitia PMB Fapsi 2015 which is gue akan hampir full berada di Jatinangor selama puasa untuk latihan segala rupa.

Gue menyesal, NJING.

Kala itu, gue sudah meguatkan tekad gue untuk berkontribusi di kampus gue. Kampus gue yang sudah lama tak terjamah karena gue sibuk di luar. Gue rasa itu adalah sebuah kesempatan besar yang harus gue ambil karena gue habis ditolak salah satu kepanitiaan di luar kampus, yang mana gue sangat ingin masuk di dalamnya. Apa boleh buat.

Janur kuning sudah melengkung.

*mikir*

Wait. Beras sudah menjadi nasi, maksud gue. Karena gue ngga suka bubur, gue lebih memilih nasi dibanding kentang. #IfUKnowWhatIMEAN##

Gue sudah terlanjur bilang “YA” yang artinya senang ngga senang, suka ngga suka, ribet ngga ribet, lelah ngga lelah, gue harus tetap berjuang di dalamnya. Hingga akhir. Gue yakin gue bisa melakukannya dengan segala kekurangan dan keluh kesah yang gue punya.

Gue ingin pulang. Cuma itu. Seenggaknya gue mau kesini bawa lauk kering dan beras biar ngga kerepotan lagi kalau sahur pakai apa. Biar bisa hemat karena gue sedang benar-benar krisis keuangan. Dahsyat. Gue ngga punya uang untuk beli macem-macem sekarang. Dan hal itu sangat membuat gue bingung. Kembali ke sifat gue kala khilaf, mengumpat. Anjing. Andai gue ngga pernah mengeluarkan 2jt gue untuk hal semacam “DP artis”, dan ngga balik modal, malah defisit. Bayangkan kalau 2jt masih di rekening gue, gue ngga pusing untuk belanja makanan di griya. Nyatanya? Yasudahlah. Gue harus ikhlas. Ibarat uang adalah orang yang kita suka, kita harus merelakan dia pergi “kalau memang dia bukan jodoh kita.” Sesimpel itu gue coba berpikir. Nyatanya, ngga sesimpel itu juga sih. Rumit.

Sudah. Umpatan gue segitu aja. Gue haru menjaga agar mood gue baik ketika bertemu dengan anak-anak gue si machos. Dan benar. Gue bisa ngakak ketka bertemu mereka. Terima kasih, baby-babykuuhh!!

Nyatanya ketawa gue sampai situ saja. Main ke kos Agen E, sempat membuat gue frustasi sedikit dikarenakan Agen E dan Agen A sudah mulai belajar untuk ujian besok, sedangkan gue, hingga saat ini, pukul 23:41 masih menyempatka diri untuk nulis di blog. What the SANTAI GIRL yang sebenarnya NGGA SANTAI JUGA! Akhirnya gue memutuskan untuk pulang, dan nyicil nulis blog sambil “niatnya” belajar psikometri yang gue sesungguhnya ngga tau juga akan belajar apa.

Gue sudah niat untuk belajar. Bukti: Gue sudah membuka dropbox yang isinya materi mata kuliah yang diujikan besok. Apa daya. Bagai ada yang meniup mata gue dan mengelus kepala gue. Gue mengantuk dan tertidur hingga jam 5 sore. Gue selalu begini dan gue lelah dengan diri gue.

Lalu gue nyalakan magicom yang sudah diisi air untuk merebus mie instan (yang tadinya untuk sahur), sambil mandi. Baru kali ini setelah seian lama, GUE MANDI DUA KALI SEHARI CUY! Gue sangat bangga dengan diri gue seketika.

Lalu gue makan. Sebelum ngerebus mie, gue akai air mendidihnya buat bkin oatmeal yang super hambar dulu sih, biar perut gue ngga kaget. Ya. Gue masih punya rasa sayang sedikit sama tubuh gue.

Meski keimanan gue ke Allah belum beres seutuhnya, gue ingin merasakan nikmatnya shalat taraweh ngga di rumah. Gue pun janjian dengan Agen Ay untuk shalat taraweh di masjid IPDN dekat kos gue. Dia lama balasnya. Eh taunya malah buka puasa sama teman kita. Gue lihat di path. Semua orang, semua teman di path gue pamer kegiatan buka puasa hari pertamanya. Lagi-lagi gue merasa sendiri. Tahun lalu, awal puasa gue juga di sini, di asrama malah. Tapi rasa kesepian yang menghantui sekarang jauh lebih dalam dibanding tahun lalu.

But its ok. Gue akhirnya memutuskan untuk taraweh di Masjid Raya Unpad sama teman SMA gue. Katanya sih… Shalatnya diimamin sama Pak Rektor dan disiarin di RRI. Tapi yang gue rasakan sejujurnya bukan taraweh. Karena sepi, satu. Kebanyakan ceramah padahal shalatnya 11 rakaat aja, dua. Ya. Gue sedang merindukan rumah lagi.

Dan… Hari ini niatnya akan gue tutup dengan belajar untuk ujian besok. Sukses untuk gue dan teman seangkatan! Aamiin.

Gue ngga tahu sampai kapan gue akan bertahan dengan kesendirian. Di satu isi gue meyukainya, namun sesungguhnyadi sisi lain gue sangat benci sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s