My Ramadhan’s Journal. Day 17 (checklist)

Hallo!

Seriously… Sumpah gue ngga nyangka sudah melewati lebih dari setengah bulan Ramadhan. Ya ampun. Gue belum melakukan apapun selama ini. Ya ampun. Gue benar-benar skip, seperti biasa. Gue benar-benar melewatkan ini semua. Bela-belain puasa di Nangor ngga bareng keluarga, letih latihan, ah…. gue melewatkan segala kesenangan saat puasa.

Well, you know…? Actually that’s not the point.

Gue tidak menyesal bekerja paruh waktu (mungkin jatuhnya banyak waktu) di kala ramadhan. Tapi yang gue skip adalah ibadah gue. Padahal, seperti yang semua orang tau, ibadah yang dilakukan di bulan ramadhan pahalanya berlimpah. Tapi gue ‘masa bodo’ aja, like usual.

GOD. Maafkan gue….

By the way… Selama puasa tahun 2015 ini gue sibuk. Kali ini gue ngaku aja deh. Sibuknya ngga tiap hari sih, buktinya dari jumat sore hingga jam 10 nanti gue ngangur. Minggu besok juga nganggur. Tapi yang sangat jelas membuat gue berbeda dengan teman gue lainnya yang sudah lebih dulu pulang kampung dan santai, gue belum.

Gue melewati banyak hal di Jatinangor, puasa ini. Hingga hari ke 17 ini. Tiap ada kesempatan (tiap ngga mager sih tepatnya), gue beli takjil di Nangor, yang suasananya mahasiswa kota abies. Mereka berlalu lalang mencari sesuap es pisang ijo, segigit gehu pedas atau gorengan, sepiring nasi gila, dan lain-lain. Makanan untuk buka lah pokonya.

Ngga sepi. Sama sekali ngga sepi. Ramenya itu bener-bener wah, gue ngga nyangka, banyak juga ternyata yang berjuang di perantauan saat libur-libur begini. Ngga nyangka. Ada yang skripsian, ada yang panitia PMB (kebanyakan karena ini), dan kepanitiaan-kepanitiaan atau sesuatu yang lain, bahkan kuliah. Kuliah lho, kuliah.

Benar-benar perjuangan. Gue ngga sendiri. Gue bukan satu-satunya manusia yang ingin pulang, saat ini juga ngga pake nanti.

Alasan kenapa gue ngga pulang, mungkin seluruh orang di dunia ini tau. Walaupun hanya 1 dari 25000 orang yang tahu. Yha. Intinya kebanyakan orang di dunia ini yang mengenal serta membaca blog, status line; fb; twitter; instagram dan path gue, pasti tahu mengapa. Ya. Benar. 100! Gue panitia ospek (PMB sih sebutannya) Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran tahun 2015. Wow. Ngga disingkat, pertanda gue benar-benar membanggakan ini.

Gue satu dari sekian banyak orang yang terpilih untuk mendapatkan kesempatan ini. As everybody knew, kesempatan untuk belajar (duluan) materi Psikodiagnotik II alias observasi, kesempatan untuk (banyak) latihan fisik (gue sampai sekarang masih berharap hal ini bisa membuat gue kurusan dikit), kesempatan untuk menjadi orang kritis dan sistematis yang bukan gue banget, dan yaa gue belajar disini.

Bahkan, gue belajar untuk mencintai ini semua. Rutinitas (ngga biasa) tanda kutip berlelah-lelahan lahir dan bathin, tidur pagi sampai siang lalu malam hingga pagi lagi latihan, ya, ini memang sudah seharusnya gue dan teman-teman PMB lain lakukan, sebagai panitia PMB. Gue, sebagai OVAL (Observasi dan Evaluasi, divisi PMB yang hanya ada di Fakultas Psikologi).

Gue mengerti esensi apa yang gue lakukan. Untuk membantu maba. Ya. Meski alasan ini cukup “abstrak” dan gimana ya gue membahasakannya, terlalu… terlalu seperti “malaikat yang baik” mungkin ya.. I mean, ya memang seharusnya inilah alasan gue. Kalau gue bilang gue masuk kepanitiaan ini karena gue ingin belajar observasi dan evaluasi, di kamar pun gue bisa belajar. Tinggal buka google, beres. Gue bisa belajar ilmu ini di mana aja.

Gue mendapatkan insight ini hari (ah gue lupa, selalu aja), pokoknya ketika gue akhirnya bertanya, “Untuk apa gue di sini?” Lalu gue memikirkan ini hingga gue ngga fokus ke pelatih. Gue mendengar suara Talak (Tata Laksana) latihan, —btw fyi, tahun lalu di PMB 2014 gue daftar di divisi ini– dan itu membuat gue lara hati. Engga, gue ngga menyesal akan pilihan ini atau karena pelatihannya, namun gue menyesal karena hingga saat kemarin, gue belum menemukan alasan tepat yang membuat gue berhenti mengeluh akan keputusan ini.

Ya. Sekarang gue sudah mendapatkannya. Membantu maba dengan sepenuh hati. Hal ini harus gue buktikan, ngga hanya gue ketik di blog ini aja.

Gue baru di sini. Beberapa pun baru. Ya. Belajar. Toh cepat atau lambat gue akan menerima materi ini. Itung-itung bekal buat matkul nanti lah. Oiya… Ngomong-ngomong soal akademik, gue harus banget ini mah lebih banyak belajar hikksss *seriusan pengen nageeess*

Skip lah masalah akademik.

Gue sudah nyaman di sini. Dengan teman-teman yang A6! Wah. Kita udah mulai sering ketawa-tawa gila loh, readers! Alur pemikiran yang (sumpah mati) membingungkan banget pun gue sedikit-sedikit sudah mulai memahaminya. Yang awalnya gue menganggap ini sulit pun, berat banget untuk gue jalani.. Yha, gue sudah menemukan caranya agar membuat ini semua enteng. Menikmatinya.

Gue ingin mengutip kata dari koor gue, baru tadi banget. Gini, “Jangan berdoa agar kita tidak mendapat beban yang memberatkan pundak kita, tapi berdoalah agar pundak kita kuat menerima semua beban.” OH MY….. Gue setuju banget.

Gue sudah membuktikan satu hal. Kita merasa berat, ya ketika kita menganggap itu semua berat. Coba kita menikmatinya. Toh segala beban dirasakan bersama yagak?

Wah. Sumpah gue suka banget dengan pemikiran gue kali ini. Cintailah sesuatu yang telah kamu pilih, bukan mencintai sesuatu yang idealnya ingin kamu pilih. Ngga ada. Ya. Gue belajar betapa cinta juga harus dipelajari, dan dirasakan benar-benar. Lewat PMB ini.

Gue menyadari, kerjasama sebagai team pun di sini begitu diperlukan. Kami pusing bersama tiap malam untuk brainstorming, kami kumpul berjam-jam hanya untuk membahas skill yang perlu dilatih, kami bertemu hanya untuk sekedar heart to heart (walau belum sepenuhnya saling curhat-curhatan, kadang nyepet aja), buka puasa bareng dengan kekakuan yang membuat lucu, foto bareng. Ya itu. Itu yang membuat kami semakin kohesif. Makin ada keeratan di antara kami. Gue sih semakin betah, dan semakin yakin akan siap untuk bantu maba #EAAA

Gue ingin berpesan satu, buat siapapun di dunia ini yang mengikuti masa orientasi di manapun dalam tanda kutip menjadi panitia, ingat hal ini, “Tiada balas dendam. Kita harus tulus membantu.” Ketika kita dipercaya untuk ambil bagian untuk mentreatment manusia satu ini, hal pertama yang harus kita lakukan adalah “Tulus”. Kalo engga? Jangan berharap akan dapat apa-apa, reader!

Testimony(et):

Ini entah foto kapan. Ngga ada gue :

Ini entah foto kapan. Ngga ada gue :”)

Ini habis lari gitu kita. Niatnya sh bekel buat latihan.

Ini habis lari gitu kita. Niatnya sh bekel buat latihan.

S__145702914

Bukber coy!

Mmmm... Ini sekitar jam 3 lebih gitu loh :

Mmmm… Ini sekitar jam 3 lebih gitu loh :”) Gue sebenarnya di antara lingkaran itu. Tapi lagi bobo he…

S__21307394

Kongkow ke-sekian

Jadi ceritanya kami berkoalisi untuk merebut ex-sekre radiomu ._.

Jadi ceritanya kami berkoalisi untuk merebut ex-sekre radiomu ._.

Menghayati peran sekali ya kita~~~

Menghayati peran sekali ya kita~~~

Gaya alis di angkat satu (?)

Gaya alis di angkat satu (?) Lalu gue ngga bsa dan menyerah ._.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s