Tunggu Aku di Rumah

Kala sunyi bergemuruh menyisakan sesak teramat. Tak kupungkiri hati yang lara menahan sesak dengan keterbatasan dunia.

Pa… Anakmu di rantau merindukan suasana temaram damai di kampung. Begitu merindukan kala bersujud di surau kecil nan penuh kenangan. Kenangan di masa kecil yang tiap solat selalu membawa kipas takut kepanasan karena pengap ruangan. Kala dimana masih bolong-bolong tiap rakaatnya.

Ma… Anakmu di rantau merindukan suasana jelang berbuka yang walaupun tidak hangat, tapi begitu menyenangkan. Berpanas debu campur wangi rempah yang menusuk, walau sempit namun tetap kurindu kala menyajikan menu utama untuk semua makan, walau akhirnya kita makan tidak melulu bersama.

Begitu menyesakkan suara lelaki dari masjid, pa, ma. Sunyi, sepi, namun memekakan. Bukan, bukan yang membuat muak. Tapi diri ini bersedih. Begitu banyak waktu yang terlewat demi sebuah catatan bersejarah, dimana pengalaman dan cerita satu persatu diukir pasti.

Tiada hari tanpa kumerasa serindu bulan yang merindukan cahaya matahari yang membuatnya mampu bersinar di relung malam. Tiada hari tanpa getar bak bisikan gaib yang selalu berkata, “Hai… Pilih dan akan ku berikan kau uang.” Siapa yang tidak ingin?

Kala dendang lelaki entah siapa, mungkin sekitar umur tiga puluhan yang begitu memecah kesunyian tanpa angin sepoy yang mengantukkan, sesak begitu menyiksa. Kala panas melanda, entah karena saking banyaknya iblis di tubuh, aku merintih, mungkin dapat disebut pengesalan. Namun yang dapat kupastikan….

Tunggu raga ini di rumah!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s