Satu Titik Merindu Kalbu

Aku melihat sebuah kertas di kamar bertuliskan janji untuk lelaki dan wanita pujaanku. Di atas kertas berwarna hijau muda senada dengan warna dinding itu tergores sederet kata bermakna. Terukur.

Kuubah sudut pandang. Kulihat kertas yang juga berwarna hijau menempel di kertas berwarna merah di dinding yang berisikan mungkin lebih dari 50 kata yang dari sini tak jelas kulihat namun kutahu pasti isinya. Harapan. Di sebelah kertas itu, tertempel rapih kertas seukuran yang berwarna abu-abu. Juga harapan.

Begitu banyak harapan yang terlupa, aku gundah lagi.

Aku mendengar suara siraman air yang mungkin berasal dari salah satu kamar di bawah. Entah sedang mandi atau buang air, suara itu samar dan tidak konstan. Lalu berhenti setelah tiga menit.

Aku merasakan angin dingin menusuk dari luar pintu yang sengaja kubuka lebar. Selalu ini yang mengherankan. Bagaimana bisa ada angin sedingin ini di kala terik menyerbu?

Aku mencium bau bawang putih yang bercampur telur goreng, masih samar terasa, begitu membuat muak karena sudah dua hari bekas makanku tak kubersihkan. Layaknya perpaduan rasa malas dan kesengajaan serta tiada waktu, begitulah.

Kupandang lagi, kembali ke kertas hijau yang di dalamnya tergores dengan tegas dan penuh keyakinan, janji kepada lelakiku, wanitaku.

Satu titik aku merindu.

Satu titik aku merindu kalbu yang tak pernah sekotor sekarang, hari ini, saat ini.

Satu titik aku merindu kalbu yang dulu wujudnya selayaknya suasana hening mencekam namun sesungguhnya menenangkan.

Aku sedang di masa pencarian dan itu sulit.

Aku merindukan kesenangan dunia yang katanya kalau berlebih tidak baik. Aku merindukan sesosok manusia yang memberi afeksi di kala kepedihan yang teramat.

Aku merindukan kebebasan di mana tiada keterbatasan yang mengelilingi, membuat diri ini mudah bergerak dan berekspresi. Terkungkung bukan yang kumau, apalagi dalam pikiranku sendiri. Begitu bodoh bukan ketika manusia terjebak oleh keputusan yang ia rasionalisasikan sendiri? Tiada yang rasional, memang. Kecuali kita yang menganggapnya demikian. Segala sesuatu serva subjektif. Abstrak. Ideal tetap ada. Namun dibalik keberusahaan yang menekan.

Bolehkah aku sekali lagi merindukan kalbu? Memang abstrak jika bicara maksud hati dan keyakinan. Karena dua hal itu diri sendiri yang punya, bukan orang lain. Manusia hanya sederet keindahan yang tidak melulu indah. Bahkan lebih banyak yang memuakkan dan memekakkan telinga, hingga bisa membuat mati rasa.

Bolehkah aku sekali lagi merindukan kalbu? Meski tak melulu bahagia, namun kuingin tenang menyudahi seluruh duka.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s