Apakah Aku Menunggu?

Angin sepoy menyapu tubuh membuatnya semakin goyah dan merana. Bagaimana tidak?

Ditunggangi masa lalu yang memuakkan tentu saja, namun tak tahu mengapa masih saja raga ini bertahan.

Apakah aku masih jatuh cinta pada matahariku di kala siang? Apakah aku masih mendoakannya agar tetap ada di waktu malam? Apakah aku masih merindunya seperti purnama yang selalu merindukan cahayanya agar ia bisa terus terlihat?

Apakah aku masih jatuh cinta? Hingga kapan?

Tiupan angin kini dibarengiĀ bunyi mesin bis yang keras memekkakan telinga, juga bau asap yang sedikit-sedikit namun menusuk.

Apakah aku masih menunggu dan berharap? Padahal jelas aku yakin tak mungkin ia jatuh padaku. Pada yang lain mungkin, namun padaku? Ya mungkin. Mungkin tidak.

Apakah ia tahu bahwa aku menunggu dan aku yakin benar bahwa aku akan tertinggal seperti ini? Ya. Baru saja aku mengejar sebuah harapan. Untung sampai. Jika tidak? Mungkin aku akan lelah. Frustrasi.

Segala sesuatu butuh perjuangan. Apakah ini analogi cinta? Harus dikejar benar hingga dapat.

Tapi aku tak ingin mempermalukan diri dengan mengejar siapapun. Lima menit yang lalu baru saja aku mempermalukan diri ketika dengan bodohnya mengejar hal yang sudah aku hargai dengan selembar uang lima puluh ribu.

Apalagi mengejar matahari yang katanya sekarang semakin bersinar?

Memang pesimis. Tapi bukan. Aku hanya mencoba realistis untuk keluar dari mimpi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s