Bungkam Datang Lagi

Selalu ada masa dimana diam paling menyenangkan. Kadang menjawab, kadang tidak. Tergantung.

Selalu ada masa dimana perut serasa bergejolak membuat mual dan kaku, bak semua isinya ingin keluar seluruhnya. Tak menyisakan suatu apapun, hingga mual tak lagi terasa.

Selalu ada masa dimana relung jiwa merana, tak ingin diganggu ketenangannya. Jika tidak, jangan salahkan mata yang tajam mengindimidasi, ataupun lidah yang tajam menyakiti, juga perilaku agresi yang membuat semua heran.

Bungkam datang lagi.

Entah dari mana, ia selalu mengusik membuat hati tergelitik ngeri. Sampai kapan lara menggerogoti dan diam menyelimuti semua kerumitan hati?

Dunia memang laksana hati yang punya, bukan orang lain. Jadi biarlah hati ini sembuh dengan sendirinya.

Tapi bungkam itu datang lagi.

Kala pikiran rumit menggelinjang menapak hari nan sendu, membuat bungkam tak mau pergi.

Kapan sembuh?

Tak tahu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s