Confusing Minds

Gue penasaran sejujurnya. Dari setelah gue merasa gue semakin dewasa dan menyadari bahwa gue butuh sosok lelaki yang dengannya gue bisa berbagi semuanya. Kenapa harus lelaki ya? Ya iya. Karena gue perempuan normal yang memiliki nafsu kepada lelaki. Well, I mean… Kita harus meneruskan keturunan kita kan? Kodratnya gitu juga kan?

Serius gue benar-benar mempertanyakan ini. Kok bisa orang pacaran? Apakah ini kebutuhan? Atau sekedar takdir yang membingungkan? Udah terjawab sih sebenarnya di atas. Tapi masih membingungkan sih, buat gue. Jujur.

Gue pernah mengalami masa berbunga-bunga banyak nan indah yang membuat gue melayang ke langit yang indah. Punya pacar. Lama loh, lumayan. Tujuh bulan. Tapi gue bingung sesungguhnya. Apakah ini pacaran beneran? Bisa jadi kan gue hanya mimpi ketemu lelaki yang tiba-tiba cium pipi gue di pertemuan kedua kita setelah kita pacaran hampir enam bulan? Bisa jadi mimpi kan?

Ya gitu. Gue sedikit bingung dengan dunia yang penuh drama percintaan. Kenapa ya orang bisa klik dengan orang lain? Lawan jenisnya. Hingga memutuskan untuk “jadian”. Sampai kapan pun gue akan bingung sih, pastinya.

Jadian itu sesimple bilang, “Aku suka sama kamu. Mau ngga jadi pacar aku?” terus nunggu jawaban. Kalo iya ya jadian, sedikit terikat. Harus ngabarin, saling gombal-gombalan, berantem, kasih kado, nunjukkin perhatian yang lebih. Kalo engga yaa… antara temenan dan yaudah gitu aja.

Gue ngga habis  pikir dengan orang yang jadian. Apakah bermesraan itu perlu? Wait wait. Gue ngga envy. Pengen sih pasti. Ini gue tanyakan ke diri gue sendiri juga sih. Apakah perlu hubungan diekspose lalu dijadikan konsumsi publik? Kadang gue merasa gemes dan geli itu beda tipis kalau melihat pasangan-pasangan yang begitu aktif ini.

Tapi gue mikir…

Kalau gue udah dapetin seseorang yang klik dengan gue juga pasti gue akan lebay. Pasti gue buat proyek dengan judul “Amelia and (nama pacar gue)’s Love Stories” yang isinya seputar percintaan gue dan dia. Ya. Gue lebih mudah mengungkapkan perasaan gue lewat jari yang menari. Ngetik di laptop, lalu dimasukin ke blog, seperti ini. Dikonsumsi orang juga kan, ujungnya.

Pernah gue masukin cerita gue ke blog ketika bertemu pacar gue itu. Mantan maksud gue. Ya. Dan selebay itu gue mendeskripsikan apa yang gue rasakan. Padahal kalo gue baca lagi juga enek sih. Gini doang kok senengnya bejibun? Ketemu doang kok, ngga ngapa-ngapain. But, gue menyadari, rasa sayang itu sesimple itu loh. Pacaran sesimple itu sebenarnya. Ketemu, makan bareng, pegangan tangan, ciuman (mungkin), atau lebih dari ciuman (ini sih udah ngga simple lagi urusanya). Ya tapi gitu.

Pacaran itu sesederhana A nembak B, B bilang iya, lalu jadian. Fasenya akan gitu-gitu aja sih menurut gue. Ketemu, jalan bareng, balik ke rumah masing-masing lalu telponan, saling ngabarin apapun yang terjadi bahkan lagi sakit juga ngabarin (ngarepin doi datang ngompres, atau skedar bawain makanan), terus berantem karena cewek butuh perhatian selalu tapi cowoknya cuek, diem-dieman, putus. Secara umum gitu.

Secara ngga umum ya banyak versi. Ada yang akhirnya lanjut menikah, ada yang lanjut tapi selingkuh, ada yang lanjut lalu LDR, ada yang mau putus tapi kasian sama pasangannya lalu akhirnya lanjut, dan baaanyak lagi.

Menghadapi peliknya dunia wanita usia 20 tahunan, gue menyadari bahwa have no bpyfriend itu merupakan kisah pahit tersendiri (versi lebay). Mendengar curahan hati teman-teman yang memiliki pacar itu tekanan batin (ngga selalu sih. hampir selalu). Bayangin aja. Gue harus menempatkan diri di posisi yang gue belum pernah merasakan sama sekali, gue harus merespon cerita mereka dengan baik dan rasional.

Dari sudut pandang gue, menempatkan diri sebagai orang yang sedang bermasalah dengan pacarnya (yang sejujurnya gue pengen banget punya. udah 10 cm di atas ubun-ubun keinginan ini tuh. alias udah tinggi banget). Sebentar gue rangkai dulu kata-katanya biar ngga bingung.

Sulit menempatkan diri di dalam situasi yang gue juga ingin di dalamnya. Karena apa? Gue jadi bermimpi. Semakin banyak orang yang bercerita mengenai pasangannya ke gue, gue semakin ingin memiliki pasangan. Gue semakin tertekan. Kapan ya ampun kapaaann?

Hiperbola banget gue njir.

Tapi bener. Ngga bohong. Gue merasa tertekan banget ngga bisa mengira-ngira ketepatan respon gue apakah benar, ketika ditanya “Jadi aku harus gimana ke dia?”. Bayangin dong bayangin. Punya pacar aja engga, mana gue tau gue harus gimanain pacar gue kalo ada masalaahh???

Lalu gue berpikir.

Ini dia pentingnya empati! Terkadang… Kita ngga perlu makan nasi goreng untuk tahu rasa nasi goreng itu bukan? Cukup nyium baunya, tau isi di dalamnya dari mulai bumbu sampai ke topping, atau kita minta teman untuk makan dan kasih tau rasanya enak atau engga pun, kita udah tahu rasanya kan? Mencicipi dan merasakan langsung sesuatu adalah bagian spiritual tersendiri dari suatu kenikmatan memiliki kehidupan, bagi gue.

Hhhh.. Gue memang ngga konsisten. Karena gue bingung, seriously. Antara mimpi dan kenyataan yang gue hadapi itu berlawanan. Selalu. Gue ngga bersyukur, memang. Gue menyadari. Bahkan dari postingan sebelum-sebelumnya pun gue banyak menunjukkan rasa ketidakbersyukuran gue. Ya tapi itu gue, manusia yang masih labil dan mencari.

Walau menurut gue, pacaran adalah sesuatu ritual tersendiri untuk mencari jodoh atau apapun itu tujuannya, gue tetap bingung kenapa akhirnya orang bisa pacaran? Ya oke. Gue tahu. Ada yang nembak, lalu yang ditembak bilang “yes”. Nenek-nenek ngga perawan juga tau! Kenapa seseorang bisa mencintai dan bilang dengan percaya dirinya bahwa “iniloh soulmate gue, teman gidup gue”  (sambil nunjuk pacarnya)? Apakah tidak aneh?

Atau gue yang aneh?

Nampaknya iya.

Well, apapun itu… Mungkin gue akan mendapatkan jawabannya nanti setelah gue mendapatkan seseorang yang dengannya gue rela memperlihatkan kebusukan-kebusukan gue sampe sedalam-dalamnya dunia gelap gue, rela ngomel-ngomel dan dibilang galak karena perhatian sama dia, rela memberikan hidup gue demi melahirkan anaknya, dan rela-rela lainnya.

Udah sih. Inti dari tulisan gue kali ini ya bingung.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s