Terlatih Patah Hati

Gue sudah biasa begini. Terlalu biasa hingga gue lupa bahwa ini adalah suatu hal yang biasa. Bukan, bukan menjadi sebuah kebiasaan atau apa. Anggaplah kebetulan yang menyiksa, yang meski gue tidak mengerti kenapa, tetap saja hal ini ada lagi, ada lagi.

Gue sudah biasa menyukai seseorang. Entah itu kagum fisik, intelek, or kagum-kagum lainnya. Lalu gue biasa merasakan hal yang demikian menyebalkan seperti ini. Selalu saja begini. Ibarat gue jatuh, lalu gue bangun, beberapa saat kemudian gue jatuh lagi, dan gue ngga tahu penyebabnya.

Gue terbiasa melakukan kesalahan, dan terbiasa mengucap itu semua salah, namun ngga tahu bagaimana cara memperbaikinya. Ya. Ceroboh. Entah di omongan gue yang ceplas-seplos yang terkesan ngga empati ke orang, sikap gue yang jayus abis, pun perilaku gue yang mau menang sendiri, apalagi ketika sedang moody. Keburukan gue terbuka semua saat hal ini terjadi.

Gue ngga tau sih apa yang gue sebenarnya ingin ungkapkan. Gue hanya lelah dengan sifat gue ini. Tapi kata Bu Marisa, “Kamu ya kamu, orang lain ya orang lain.” Gue ya begini, walaupun menurut gue penuh kekurangan, tapi… apakah orang lain juga merasa demikian? Bisa jadi mereka menganggap gue lebih dari wanita tangguh (ini cap dari diri gue untuk diri gue sendiri). Dan ya…. Gue memang tangguh. Sekuat batu, setajam pisau, sepanas api 200 derajat celcius yang bisa membunuh cacing pita di daging babi, gue sedingin es kutub yang… sejujurnya mudah mencair hatinya… Ya. Ini gue.

Gue terlalu sering patah hati, hingga gue terkadang mengasosiasikan diri gue sebagai orang lemah yang saking terbiasanya patah hati, yang saking terlalu seringnya, akhirnya… rasa itu biasa. E&! Gue terlalu biasa, terlalu sering menyukai pria, lalu gue merasa berlebihan, lalu ya… tiba-tiba gue tidak suka lagi. begitulah. Terus terulang.

Patah hati, meski gue ngga bisa menjelaskan definisinya sejelas rumus fisika yang dulu banget gue pelajari (yang ngga pernah gue mengerti), itu rasanya bikin “ngga mood”. YA…. Gue memang orangnya moodyan sih (berarti gue patah hati terus?) YAGAKLAH. Ada kalanya engga. Tapi seringnya ia haha.

Dan, terlatih patah hati ini membuat gue sadar, bahkan cinta pun tidak semudah saat kita membayangkan memeluk dan mencium orang yang kita sayang, yang dengannya kita bahagia hingga akhir zaman. Tapi lebih dari itu, patah hati, bagi gue adalah suatu rasa yang.. wah kalau orang yang membuat gue patah hati tau rasanya, ia akan merasa sesak. Kenapa engga? KArena tiada air mata yang jatuh tanpa sebab. Tiada patah hati tanpa sebab, apalagi kalau bukan karena mencintai.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s