3R (Vol. 1) — Bra Hijau Neon

Rami

Ketika waktu begitu cepat berlalu. Menyisakan kenangan yang hanya akan diingat memori dari ia yang masih hidup dan berkehidupan. Manusiawi bukan? Hidup untuk mereka yang menyimpan begitu banyak memori pedih, lalu mereka bertahan. Kehidupan untuk mereka yang menerima, meski tak banyak.

Akankah ada suatu saat dimana waktu kembali merangkai ucap yang dirasa? Aku tak yakin akan kenangan yang tercipta. Hanya menuai perih dan menghasilkan keputusasaan. Hidup yang meredup.

“Arami Hutomo. Panggil saja aku Rami.” Ini hal yang paling aku benci. Berkenalan. Di depan kelas. Kenapa harus ada hal seperti ini untuk orang baru? Mata yang selalu melirik penuh tanya karena penasaran. Kepo, kata anak muda. Kalau ada yang iseng pasti diiringi dengan, “Priiiiwiit”, seperti yang kali ini dilontarkan oleh dua anak manusia di bangku paling belakang.

Apakah nama akan selalu berarti ikatan atau apa? Kesamaan atau takdir? Atau sesuatu yang memuakkan? “Hai. Rama.” Kata lelaki dengan kacamata yang memiliki frame tebal warna hitam menunjuk lelaki di sebelahnya. “Romi.” Kini lelaki di sebelahnya, balik menunjuk. Rama dan Romi. Lengkap sudah. Rami, Rama dan Romi.

“Kana.” Ya. Perempuan di sebelahku kini bernama Kana.

“Mereka kembar?” Tanyaku kepada Kana, sambil menoleh ke arah dua lelaki di sebelah kananku. Romi dan Rama.

“Kalau dua orang atau lebih punya sifat yang sama disebut kembar, berarti mereka iya.”

“Tapi… Bahkan orang kembarpun..” aku berhenti, “yang aku tahu, pasti sifatnya beda. Oke. Kalaupun sama, pasti ada yang beda. Jadi?” aku menunggu sebentar, “Ah mereka ngga mirip sih.” lalu segera mengambil buku dan mengeluarkan pulpen. Mulai berpuisi lagi.

Romi

Damn. Rami. Rami. Tingginya yang ngga lebih tinggi dari gue, sekitar 170 lah. Nyaman banget pasti buat dirangkul pundaknya. Kulitnya bersih, putih, kayaknya dia campuran asia dan eropa deh. Putihnya itu bersinar. Beratnya…. ya… sekitar 54 kg lah, ngga lebih dari 55. Rambutnya panjang tanpa poni, dicepol pakai ikat rambut warna hijau muda yang senada dengan tasnya. Pasti orangnya cinta kebersihan. Adem, menyejukkan.

Gue suka stylenya. Simple, sederhana. Mukanya juga ngga arogan kayak cewek di sebelahnya. Kana. Hih. Pengen muntah gue.

“Nyet!”

“Kodok lo, Ram!” bales gue kaget. Asli ini kaget banget.

“Lo ngapain sih gue perhatiin dari lima menit yang lalu setelah anak baru itu duduk, senyum-senyum sendiri selama empat menit, terus di satu menit terakhir muka lo berubah jadi asem. Mau muntah gue liat kelakuan lo.” kodok satu ini berenti sebentar, dan gue tau apa yang ada di pikirannya. “Lagi ngira-ngira ukuran branya ya?” Tepat!

“Belum sampe kesitu, nyet, imajinasi gue!” balas gue sambil ngejitak kepala monyet satu ini. Bisa-bisanya dia ngancurin imajinasi gue. Harus mulai dari awal nih gue.

Damn. Rami namanya. Tinggi, putih bersih….

PLAK! Penghapus papan tulis jatuh tepat di kepala gue. Apaan sih, nyet! Jangan gangguin dong gue lagi observasi orangnya nanti kita bahas abis ini bareng-bareng!” gue langsung menoleh saking kagetnya, lalu menepuk pundak monyet di samping gue.

“Observasi siapa?”

“Siapa lagi kalo bukan Rami. Bego lu, nyet!” kata gue lagi. Tapi kok suaranya jadi…

Gue balik menoleh perlahan ke arah depan. Bloody hell! Bu Ratna! Mati gue.! “Nanti istirahat kalian berdua ke ruangan ibu. Bawa pulpen, jangan lupa.”

Gue dan Rama hanya mengangguk. “Yang bego siapa?” kata Rama.

“Gue.”

“Yang monyet siapa?” tanyanya lagi.

“Elu,” gue diam sejenak. “dan gue.”

Kana

Kan. Buat ulah lagi mereka.

Rami

Observasi Rami? Intelek banget bahasanya. Tapi apa? Observasi Rami? Aku? “Mereka.. observasi.. semacaam mengamati…” kataku bingung sembari menelungkupkan kedua tanganku di depan dada.

“Ya. Lingkar dada, ukuran bra, ukuran CD, dan jangan kaget kalo beberapa minggu dari sekarang mereka tahu kapan masa subur lo!” jawabnya ngeri.

“Ih kok babi, ya!”

“Lo bisa juga bilang babi?” tanya Kana heran. “Gue pikir lo itu cewek manja yang sok lembut, yang sukanya diperhatiin, dipeluk, dicium mesra. Bisa kasar juga?” matanya mulai berbinar. Tertarik.

Aku diam sejenak, ingin membuatnya makin bertanya-tanya, “Anjing lo!” kami berdua cekikikan.

Ya. Memang. Ngga selamanya sekolah baru, kelas baru, teman baru, atau hal-hal yang baru tidak menyenangkan. Baju lebaran menyenangkan kan? Pacar baru menyenangkan kan? Iya. Kecuali kalian belum bisa move on. Seperti gue.

Malam itu, tiga tahun yang lalu saat euforia kelulusan SMP. Ah. Rasanya malas mengingatnya.

“Ngomong-ngomong..” Kana meleburkan ingatanku. “Lo kan tinggal di kota. Kenapa ribet sekolah di kampung begini? Bukannya orang kota biasanya jijik sama kampung. Banyak nyamuk, jalan berlumpur, jauh dari mall.” tanya Kana saat kami duduk di bangku kantin. “Eh tunggu dulu jawabnya, nanti dulu. Mau makan apa?” katanya buru-buru.

“Adanya apa?”

“Banyak. Soto, gorengan, tahu gejrot, siomay, batagor, mie ay…”

“Ah mie ayam aja mie ayam.” kataku memotong Kana.

“Oke. Delapan ribu.” kini tangannya menengadah, meminta uang.

“Hah? Beneran segitu?” kataku bingung. “Murah banget. Nih.” Aku memberikan selembar uang 50 ribu kepada Kana. “Sekalian bayar punya lo juga aja.”

“Wah traktir nih?” kata dua lelaki ini lagi, yang tiba-tiba datang. Entah dari mana.

“Apaan sih kalian! Pergi-pergi.” Kana mengusir mereka dengan hampir melempar kepalan tangannya ke arah Romi dan Rama.

“Buset galak amat.”

“Kalian mau juga? Yaudah sekalian aja.” kata gue. Akhirnya.

Kana

And the part I hate so much adalah ketika berhadapan dengan dua orang konyol di depan gue dan Rami saat ini. Romi dan Rama. Mereka itu tengil. Semua orang dirayu. Dari mulai Ratih si kembang desa yang sholehah, terus Amina si bulet doraemon, sampai Bu Sri tukang teh sisri di kantin mereka gombalin. Apa banget sih!

“Gue ingin cari suasana baru. Yang tenang. Jakarta panas banget asal kalian tau.” kata Rami memulai ceritanya.

“Iya. Belum macet.” Rama menimpali.

“Belum lagi debu, polusi dimana-mana.” Romi melanjutkan.

“Belum lagi banyak preman. Berandal.” kali ini gue menambahkan. Sesuai pengalaman gue. Dulu. Dulu banget saat gue tinggal di Jakarta.

“Hampir delapan tahun yang lalu, sejak gue kelas empat SD. Orang tua gue bangkrut. Banyak hutang disana-sini, dikejar rentenir bangsat, dikucilkan dari keluarga papa yang borjuis ngga tahu diri, dan ya… Sampai akhirnya gue dan mama temukan papa di kamar malam itu. Gantung diri.”

“Ngga bertanggung jawab, memang. Meninggalkan hutang yang bejibun, dua anak yang salah satunya masih di dalam kandungan kala itu, satu istri, juga perek-pereknya yang banyak itu. Kasian. Dapat makan dari mana tuh nanti simpanannya? Ah. Peduli setan.”

“Akhirnya, karena mama ngga kuat akan segala tekanan, kami memutuskan untuk pindah kesini. Ke tempat semua orang borjuis itu ngga ada yang tahu -bahkan kalau tahu pun gue yakin mereka ngga mau kesini- tempat lahir mama. Kampung, sih. Awalnya gue juga ngga nerima. Enak aja seorang gue, Kana yang dikenal karena kepintaran dan prestasinya, yang saat kelas satu SD memenangkan lomba calistung tingkat provinsi, kelas dua jadi runner up di kontes biola sekolah, dari kelas satu sampai tiga SD selalu dapat rangking pertama. Ya gitu, masa lalu.”

“Biarlah masa lalu.” dendang Romi dan Rama menyanyikan lagu dangdut yang judulnya sendiri gue ngga tahu. Masa lalu, kali. Tapi hal ini sukses membuat kami ber-empat terbahak.

“Anjing kan, gue jadi curhat. Ke elu berdua lagi!” tak kuasa gue hampir aja ninju dua lelaki bego ini.

Rama

Sudah hampir tiga tahun aku mengenal Romi, si brandal kampungan. Pertama kali bertemu dia, hm.. sedetik. Ingat-ingat dulu. Ah! Waktu itu hari pertama masuk sekolah. Ia dengan tololnya memakai sepatu gunung berwarna coklat muda, dilengkapi topi dan syal yang melilit lehernya. Untung pakai seragam putih abu. Coba kalau pakai baju koko, dikira coboy taubat pasti.

“Romi.”

“Rama. Awalnya gue mau pakai baju supermen, tapi nyokap gue ngga setuju. Itu gue terlalu besar, katanya. Kalau dilapisi warna merah, bisa mandul diseruduk badak gue.”

“Emang disini ada badak?”

“Tuh.” kata gue menunjuk salah satu teman sekelas kami. Amina namanya. Dia emang kayak badak. Badannya gede, pipinya chubby abies, galak banget orangnya. Ya. Gue tahu dia dari kecil. Dari gue lahir kali, bahkan dari gue masih di dalam kandungan. Amina, sepupu gue. Sepupu tergalak tiada ampun.

“Romi, besok-besok kalau kamu masih pakai sepatu itu lagi, lebih baik kamu tidak pakai sepatu! Sekolah ini punya aturan @$^!$^@&*)13242)*!(&(*Q^!&@%.” Ya begitulah Bu Tina kalau sedang menasihati kami. Masuk kuping kanan keluar kuping kiri aja. Tapi jujur, beliau guru terfavorit gue dan Romi di tingkat pertama kami SMA. Betapa tidak. Jarang masuk kelas dan jarang ngasih tugas. Favorit banget kan?

Tapi apa daya, beliau harus menemui ajalnya bahkan sebelum gue dan Romi berterima kasih akan tugas dan kehadirannya yang jarang banget ada. Terima kasih Bu Tina!

Romi

“Hah? Meninggal?” teriak Rami tiba-tiba, mengaburkan konsentrasi kami akan cerita Rama.

“Iya. Bunuh diri.” lalu gue berbisik, “Di sekolah ini.”

“Bohong! Becanda lu.”

“Bener, Rami.” Kana menimpal dengan suara pelan. “Dia dihamilin sama guru di sini tapi ngga dinikahin. Udah punya istri orangnya. Terus bunuh diri. Gue pernah ngelihat mereka makan bareng, tau-tau ilang. Pas gue ke gudang buat ambil sapu atap, kalian tau gue ngelihat mereka lagi apa?”

“Apaa?” tanya Rami.

“Ya lagi ehe ehe laaah!” timpal gue dengan sedikit gerakan tangan yang aduhai.

“Terus lo cerita ini ke guru dan yang lain?” tanya Rami lagi. Sekarang ia makin terlihat polos dan lucu.

“Awalnya engga. Karena ini kan urusan mereka. Tapi setelah kematian Bu Tina, beberapa anak diminta kesaksiannya. Salah satunya gue. Ya akhirnya gue cerita.

“Terus yang ngehamilin?”

“Kabur. Sama istri dan anaknya.” Rama angkat bicara.

“Au ah serem jangan ngomongin yang udah ngga ada ah! Merinding gue.”

“Yeee, elu nyet yang tanya-tanya!” amuk Kana.

“Rama nih yang mulai.” kini keimutannya bertambah 50 persen diikuti bibirnya yang manyun. Rami, my girl.

“Elu juga sih oon. Percaya aja sama cerita yang ngga pernah ada! Hahaha.” semua tertawa.

“HAH! Babi lu, nyet! Dasar kalian monyet-monyet jahanam!” amuk Rami, sambil memukul kami satu-satu dengan bantal, diakhiri dengan perang bantal yang anak kecil banget. Tapi dengan mereka, ini semua terasa ngga bego. Menyenangkan. Apalagi karena ada Rami, my love.

Rama

Soal Bu Tina memang karangan fiksi kami buat Rami, si putri. Tapi soal hari pertama gue kenal Romi, itu bukan candaan. Beneran. Dia itu bego banget orangnya. Rumus matematika, fisika, apapun pelajaran yang punya rumus dia ngga bisa. Bahkan 1 + 1 aja gue ngga yakin dia tahu jawabannya.

Tapi soal ukuran ukuran bra cewek, dia pasti tahu! Gila! Bahkan saking tahunya, gue berani taruhan kalau dia pernah ngadoin pacarnya bra warna hijau neon.

“Ada ngga ya, sesuatu yang bisa bikin kita sakit mata kalau ngeliat dada cewek?” tanya Rama ketika kami lagi asyik ngelamun di kala jam kosong. “Ngga bisa lepas mata gue dari cewek-cewek seksi yang demen banget pakai baju nerawang sama bra warna gelap. Bikin gue makin fokus aja sama isinya.”

“Cewek lo? Risma?”

“Yoi. Kok lo tau? Lo sering perhatiin ya? Kampret lo kampret!”

“Monyet lo nuduh sembaragan! Kasih aja doi bra warna hijau neon. Biar sakit mata lo kalo mantengin dadanya lama-lama.”

Brilliant! Ide bagus! Pinter ya lo kadang-kadang, nyet!”

“Iya ngga kayak lo yang bego terus.”

Ya gitu. Gue yakin, waktu si dongo ini diputusin Risma, itu karena dia kasih risma bra warna hijau neon. Percaya sama gue.

“Jadi lo beneran kasih mantan lo itu bra warna hijau neon?” tanya Kana melongo. Lalu terbahak. “Bego lo emang begooo!” Romi hanya diam. “Bukan masalah warna sih. Kalau gue jadi cewek, terus dikasih beha juga gue bakalan ngamuk.” katanya tegas sambil menegakkan badan yang sebelumnya bersender pada boneka keroppi yang super besar milik Rami.

Ya. Kami sedang berada di kamarnnya. Semuanya dominasi warna hijau, kecuali tembok yang berwarna coklat tua yang menghasilkan bau kayu yang dingin. Ya. Rumahnya layaknya rumah kami di desa kebanyakan, tidak mewah. Kamar hanya ditutup oleh hordeng yang menggantung di lubang pintu.

Btw lo kan emang cewek, Kan.” timpal gue. Asik kalo ngegodain dia. Liat muka bangkenya itu kadang bikin gue kangen.

“Iya, nyet!” balas Kana. “Masalahnya adalah.. ketika lo kasih pacar lo bra, itu tanda penghinaan. Lo menghina behanya yang kampungan yang udah apek, atau bisa jadi lo ngatain cewek itu ngga seksi lagi karena beha yang dia pakai. Asal lo tau ya, semakin lama beha dipake, semakin enak dan nyaman!” tambahnya. “Sama aja kayak kaos. Semakin buluk dan tipis, semakin lo enak pakenya kan?” tambahnya lagi. Ngga habis-habis ini orang kalau ngomong.

“Maksud gue kan bukan menghina. Maksud gue… Biar gue sakit mata dan ngga perhatiin dada cewek gue aja. Yakali gue harus menahan gejolak kejantanan gue terus-terusan? Dih. Mana tahan.” bela Romi. “Lagian ini idenya Rama. Bego emang dia.”

“Udah bego mah bego aja lu.” Saut Rama.

“Ngga usah diketawain kali. Hijau neon tuh bagus kok. Gue suka banget sama warna-warna neon. They are glowing in the dark. Menerangi gelap dengan warna-warna yang cool abisKata Rami dengan nafas surgawinya. Baik banget memang itu anak.

Jadi lo punya bra warna hijau neon?” tanya Romi jahil membuat semua terbahak lagi dan lagi, tanpa terkecuali.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s