Kopong

Seperti harum angin pagi hari yang begitu hangat memukau, air dalam mata terjebak oleh kepiluan akan kenang usang yang teramat pedih.

Seperti nuansa senja penuh warna jingga yang menggetarkan sanubari, dadaku terjepit kenang rindu yang membuat hati terbuai, lalu kembali membuat napas berhembus hebat hingga mengigil.

Seperti gelap malam yang membuat gairah memuncak dan membuat diri bergedik merinding, tubuh ini gemetar seiring air mata dan sesaknya dada dirasa.

Jiwa ini kopong, ada yang kurang.

Raga ini letih, seiring perasaan sepi dirasa.

Telinga serasa mendengar suara mesin yang bergetar dan menimbulkan bunyi yang konsisten diiringi sedikit dengungan, lalu ditumpuk oleh suara sekitar yang halus, hampir tak terdengar. Lalu hati ini sepi.

Kulit memanas seiring perindahan panas laptop yang terjaga, mengalir seperti listrik hingga ujung kaki. Masih merasa sepi.

Bibir yang sensitif, selalu haus akan kecupan dan kata manis pun bungkam. Masih saja sepi dirasa.

Tak perlu dibayangkan indra lainnya. Semua berkesinambungan. Demikian sepi.

Kopong. Ada yang kurang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s