Lagi?

Ceritanya gue sedang katarsis, karena mulai ngga fokus dengan tugas TPP yang sebenarnya bisa dikerjakan dari minggu lalu. Ya. Gue memang penunda besar. Kalau belum mepet, belum greget. Ngga ada sensasinya. Tapi…. Hari ini kontes dan gue belum baca karena (1) gue menghabiskan waktu selama 3 jam setelah pulang tadi untuk membereskan kamar gue yang -semua orang tahu- berantakan, (2) gue menghabiskan waktu selama hampir dua jam dan bahkan membutuhkan waktu lebih untuk mengerjakan tugas TPP. Maafkan aku, kelompokku… Nanti akan kopong nampaknya ūüė¶

Berhubung gue masih merasa belum bisa mengontrol emosi negatif gue yang menyebabkan rasa galau berlebih, gue akan membahas itu sekarang.

Sesungguhnya gue berharap, di awal 20 tahun hidup gue, gue akan lebih bisa bersikap dan perasaan negatif hilang. Gue pikir mimpi ini akan kesampaian melihat yaaa gue sudah hampir menuju dewasa dimana menurut teori perembangan yang gue tau, bahwa orang yang sudah dewasa lebih bisa mengontrol emosinya, hidupnya lebih bahagia.

Tapi gue belum.

Gue menemukan diri gue merasa kesepian. Bosan. Galau. Tiada arti. Sendirian.

Apa yang terjadi dengan gue? Gue merasa hidup gue belum maksimal mengingat beberapa pencapaian gue yang masih sangat kurang. Akademik, pun organisasi dan kepanitiaan yang gue ambil. Akademik lebih baik tidak dibahas.

Gue merasa tiada guna karena sangat amat tidak maksimal di salah satu kepanitiaan yang gue ikutin, yang baru selesai minggu kemarin. Gue merasa jelek dipandang banyak orang karena tanggung jawab yang harusnya gue pegang malah dipegang orang lain. Its okay, sangat membantu. Tapi muncul perasaan tergantikan dan tidak bertanggung jawab. Ini masih terngiang-ngiang dalam sanubari gue. Dalem banget.

Btw tugas TPP gue sudah selesai yeaaaayy! *backsound ice cream jump*

Gue merasa sangat tidak maksimal menjalankan kepanitiaan yang gue ambil. Kepanitiaan ini sangat amat tidak gue prediksi sebelumnya. Tapi kurangnya gue, seperti yang teman-teman tedekat gue tahu, gue susah banget bilang tidak kalau urusan dilobi orang. Sampai-sampai, GM kecintaan gue berkata, “Lu tuh harus lebih bijak dalam memilih. Semakin orang melihat lu, semakin banyak tawaran yang lu dapet, lu harus semakin bijak. jangan semuanya lu ambil.” yaaa cukup tertampar lah.

Namun tiada boleh menyesal. Toh kepanitiaannya sudah lewat. Meski ada rasa ketidakpuasan yang mendalam, yaa mau bagaimana lagi. Gue bukan pemutar waktu yang bisa seenak jidat mundurin waktu dan mengulangnya dari awal. Ini pelajaran. Tuh… Gue semakin sedikit dewaa kan? E&!

OK. Masalah penyesalan akan pilihan terkait kepanitiaan dan organisasi yang gue jalani gue anggap selesai.

Bagaimana pikiran gue terkait gue yang hingga sekarang belum punya seseorang dengan jenis kelamin berbeda pun orientasi seksualnya berbeda dengan gue yang dengannya gue bisa merajut kasih nan penuh gairah?

Dan ini terus dibahas Agen A sebagai olok-olok. Becandaan sih. Gue selalu menanggapinya dengan lemas dan berlebihan tapi. Semakin diolok-olok deh gue…

Padahal gue tahu kenapa hingga saat ini gue jomblo. Ya apalagi kalau bukan karena Tuhan sedang mempersiapkan “dia” hingga matang, hingga “dia” siap meniduri gue (?)¬†I mean…¬†“dia” siap menjaga kehormatan gue hingga waktunya tiba dimana kata SAH berkumandang dengan tegasnya, dan sampai kita tua, selama kita bersama.

Dan gue bayangin siapa? Gue membayangkan… “dia” adalah cinta gue (naon sih?) yang sejak beberapa tahun lalu mengisi hati dan pikiran gue. Meski tertumpuk oleh deretan pria yang seliweran, ujungnya, sekarang gue memikirkan dia lagi. Perasaan ini sudah tiga tahun lamanya. Lebih.

Mengenang masa pertama kali jalan bareng (RE: Jalan¬†literally¬†jalan, bukan bepergian.), hingga perasaan apa ya namanya… perasaan ingin jadi pacarnya,¬†or something¬†lah yang selalu mengisi pikirannya muncul. Lalu sekarang terngiang lagi. Muncul lagi. Kepingan memori waktu barengan dulu, meski biasa aja, bak film lawas diputer lagi dan sekarang gue penontonnya seorang. Sendirian.

Gue ngga tahu kapan dia benar-benar terganti. Keinginan untuk lebih dari hanya sekedar memikirkan dalam diam, lalu diceritakan ke sahabat dan dijadikan bahan guyon sudah menembus langit ke tujuh, lebih dari itu. Hiperbola sih. Tapi itu yang gue rasakan.

Gue mau membuat diri gue pantas dengan dia dulu, deh. Ngga mau terlalu banyak mengumbar kata cinta di blog apalagi, bukan ke orangnya langsung. Betapa pengecutnya diri ini. Boleh ini menjadi tulisan terakhir untuk kamu? Tapi nampaknya ngga bisa, mengingat selalu kamu yang ada di pikiran aku. Kamu sumber inspirasiku, walau tidak selalu.

Gue harus tidur.

Terima kasih sudah balik lagi mengisi kekosongan pikiran ini ūüôā

.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s