Katarsis dulu ah…

Gue akan membuat diri gue fokus terhadap postingan ini selama 20 menit karena baru saja kemarin gue membaca artikel (entah apa, saking banyaknya artikel yang gue baca). Menurut artikel itu, jika kita stress, meluangkan isi hati lewat menulis bisa jadi cara yang ampuh untuk meredamnya. Gue meman sedang letih, lebih dari itu. Hormon menjelang menstruasi gue sedang meningkat pesat membuat kepala dan dada gue panas. Setiap bulan memang selalu ada hari seperti ini. Biasa, tapi rasnya ngga pernah terbiasa.

Gue… Bukan gue ngga ikhlas atau gue menyombongkan diri gue dengan bilang “semua hal gue kerjain”, bukan. Tapi gue merasa, terkadang semua gue yang kerjain. Ya ngga semua sih. Sebagian besar. Kenapa harus gue? Apa karena gue seorang koordinator or… orang yang dipercaya? Atau tumbal?

But the point isn’t that. Poinnya bukan itu.

Gue merasa segala hal, yang jelek, itu karena salah di gue. Kerjaan di akhir minggu menumpuk ya semua kesalahan di gue. Apa gue tidak bisa menjalankan fungsi gue? Seharusnya, gue lead anak-anak gue kan? Tapi serasa begitu sulit. Apa karena komunikasi oral gue jelek? Gue seringkali merasa susah menyampaikan apa yang sudah ada di kepala gue, bahkan sejak lama tertanam, ke dalam bentuk oral, ucapan.

Mungkin gue harus mengikuti terapi berbicara agar apa yang gue ucap selaras dengan apa yang di kepala gue.

Kenapa ngga ada yang mau berkorban lebih hanya untuk membawa sekedar tentengan yang banyak? Kenapa merasa berat hingga bilang, “jangan aku lagi. yang lain.” Bisa ya bicara gitu? Gue, jaman-jamannya punya koordinator/manager/apapun itu namanya yang jelas di atas posisi gue, rasanya ngga pernah bilang begitu. Rasanya ke siapapun gue tidak pernah bilang “engga”, kecuali memang gue ngga bisa karena alasan akademik dan memang gue yang malas. Jujur. Hanya dua alasan itu yang bisa membuat gue bilang “tidak”.

Atau ini masalah komitmen dan awareness? Masa iya sih hanya gue yang komit, gue lagi, gue lagi. Masa iya sih gue lagi yang mengorbankan waktu lalu yang lain tidak? Gue sudah egois loh, demi memilih satu yang harus gue prioritaskan. Atau mereka pun demikian? Memilih yang lain untuk diprioritaskan dan ini engga?

Atau gue yang terlalu lebay hingga membuat diri sendiri pusing dan lemas karena semua gue pikir sendiri?

Berulang kali gue melakukan kesalahan yang sama hingga membuat diri gue bosan, namun gue ngga berhenti melakukan itu. Salah satunya, segala sesuatu dibikin pusing. Apa salah kalau gue berpikir banyak kemungkinan yang akan terjadi sehingga gue minimal harus punya cara di otak gue agar kemungkinan-kemungkinan yang mncul bisa diatasi semua?

Atau salah dimana ya? Gue kurang asik apa ya? Gue ngga bisa diajak becanda? Gue terlalu baper? Gue terlalu serius? Gue terlalu ngga jelas?

Sebut bila kesalahan ada di gue, please….. Okay, gue akan menunggu jawabannya. Entah terinsight dari mana, semoga segera. Aamiin.

.

.

Ngomong-ngomong soal cara menghilangi rasa gundah, bosan, jenuh, keinginan diri untuk kembali ke masa lalu, gue… dengan gegabahnya membuka lagi applikasi media sosial laknat yang telah membuat gue terjerumus. Gue kembali menemukan virtual man yang bahkan bentuk dan rupanya sama sekali tidak gue ketahui. Gue hanya tahu suaranya, pun sekarang lupa gimana suaranya, berapa frekuensi kedalaman suaranya, gue lupa.

Dan ini sungguh menyebalkan.

Awalnya, memang sih motivasi gue untuk buka applikasi itu karena gue kesepian. Seperti yang sering banget gue utarakan di postingan-postingan gue sebelum ini, gue sangat ingin memiliki sosok lelaki gentleman, benar-benar seorang lelaki yang dengannya gue bisa memenuhi dua kebutuhan gue, 1) kebutuhan untuk mencintai, memberikan perhatian, berkorban deminya, 2) kebutuhan dicintai, diberikan perhatian, dibuat ge er, digrepe-grepe (?)

Gue ngga tahu kenapa gue bisa menyebutkan keduanya sebagai kebutuhan yang gue sangat butuhkan. Tapi gue meyakini, dengan adanya itu, gue jadi bisa menyeimbangkan mood gue. Gue akan merasa happy. Lihat perbedaan gue kemarin yang baru digombalin oleh my virtual man itu dengan sekarang ketika dia menghilang? Oh sangat berbeda. Tidak usah gue ceritakan, teman terdekat gue pasti paham betapa keinginan ini begitu memuncak.

Keinginan untuk dibelai sudah tidak terbendung lagi.

Oke. Dia, seorang lelaki virtual yang batang hidungnya pun gue ngga tahu seberapa tinggi, apalagi rupa wajahnya. Gue hanya bisa membayangkannya dengan muka acak. Membuat segala kemungkinan. Apakah dia seperti Rifky Balweel, atau dia seperti teman angkatan gue, atau anak fapsi, atau teman gue di RadioMU, atau seperti orang lewat, gue ngga bisa menebak. Apakah dia kurus kerempeng, atau gemuk, atau sixpack… gue tidak bisa membayangkan seberapa besar tubuhnya.

Dia, yang baru gue kenal beberapa hari yang lalu, belum seminggu. Kami kenal melalui ketidaksengajaan, entah apa namanya. Dia sudah ada di friendlist gue sejak lama, namun baru sekarang kami intens. Dia, bukan orang alay ngga jelas seperti yang biasanya gue kenal di applikasi kampret itu.

Bahasa ketiknya ngga alay, sering menyelipkan bahasa inggris (dimana baru kali ini gue chatting di app itu sambil selalu membuka kamus or translate.google saking takutnya salah)dia menghormati gue, dia kritis dan curious (dimana baru kali ini gue bicara sama anak dari app itu mengenai materi kuliah lalu kami diskusi sedikit), dia bukan orang yang norak ngemodusnya (dimana baru kali ini gue kenalan sama orang di app itu yang dia bahkan belum pernah nelpon gue panjang lebar *atau belum?). He’s divergent. Dia bukan abnegation, dauntless… *abaikan*

My currently virtual man is different.

Apakah gue sudah terjebak?

Belum. Detik ini dia menghilang, lalu ada kesempatan untuk melupakan, iya ngga Mel? Dia bisa suatu saat meghilang tiba-tiba lalu tak pernah kembali. Bahkan yang terlihat pun, yang sudah dekat pun, bisa menghilang seiring ia mendapat yang baru, apalagi ini?

My brain already burn out.

*angkat tangan*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s