Gue Penakut

Dari judul aja udah jelas. Jelas banget. Gue memang penakut luar biasa. Tapi takutnya tuh bukan parno yang selalu parno, yang tanpa sebab. Gue akan takut ketika sebelum-sebelumnya ditakutin. Bahkan, parnonya bisa berhari-hari. Kalau gue ngga ditakut-takutin mah gue pemberani parah. Jlan tengah malem aja ngga papa. Seriusan.

Dan gue baru saja merasakan sensasi ketakutan luar biasa, yang membuat badan gue merindin, dada gue deg degan, kening keringatan…. Ya gitu. Baru saja. Tadi saat siaran sendirian di PPBS. Awalnya, gue fine aja, biasa aja, seneng-seneng aja. Tapi setelahnya… adrenalin gue meningkat seiring debar jantung gue yang semakin kencang. Gue ketakutan. Volume speaker udah gue gedein… Ngefek sih. Bikin gue tambah merinding.

Tiga puluh menit yang biasanya sebentar pun tetiba jadi seabad. Gelo. Suara yang biasanya santai pun mendadak jadi secepat kilat, ingin segera selesai saja. Kalau gue nakal, mungkin dari jam tujuh gue sudahi siaran itu.  Tapi engga… Gue berkutat dengan rasa takut yang luar biasa, dengan bayangan bangku di pojokan ada ‘you know what I mean’, atau bangku di depan komputer MD yang tetiba nongol ‘you know what I mean’ dan kepalanya muter ke belakang, ke arah tempat gue siaran, atau di cermin yang kalau dari angel komputer MD pantulannya ke arah pojok dan tetiba ada ‘you know what I mean’….. Ya.. Itu ketakutan gue. Ditambah cerita Agen A tentang “ibu di lemari” yang serem abis. Gila. Taek.

Setelah bertarung dengan rasa takut selama dua jam, akhirnya siaran berakhir. Gue pun beres-beres sambil sebisa mungkin tidak melihat kaca dan pojokan. Lalu gue telpon Agen A (sebenernya dari awal ketakutan gue, gue telpon doi, tapi ngga bilang kalau gue lagi takut.) Dia harus tanggung jawab!

Gue keluar studio dengan setengah berlari. Turun tangga, gue mencoba untuk secepat kilat dan tidak mengengok ke belakang. Masih ditemani suara Agen A di telpon tentunya. Gila. Gue setegah lari kebirit-birit kali saking takutnya. Jalan sepi abies. Ngga ngerti lagi kenapa sepi banget, kampret. Gue sudah membayangkan, sedikit siap-siap untuk berlari jika melewati taman FIB yang super zeram.

Ketika Agen A bertanya, “Lo kok ngos-ngosan?”, belum gue menjawab, ada yang manggil dari motor yang berpapasan dengan gue. “Hai! Siapa? Duh anterin doongg, siapapun.” Gue menengok ke belakang, mencoba mengidentifikasi siapa manusia yang naik motor di balik kegelapan. Dia muter balik ‘like a hero’, lalu menuju arah gue. Ternyata itu Jems! Doi teman yang gue kenal dari BEM KEMA. Ngga berapa lama, gue segera memutuskan sambungan gue dengan Agen A, dan menempatkan pantat gue senyaman-nyamannya di jok motornya. Im lucky! Bejo banget gue. Makasih banyak banget sumpah Jems!

(((di perjalanan)))

Sampai kos, gue beli sekoteng, dan memakannya bersama teman kamar sebelah. Nikmat. Gue sangat beruntung malam itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s