Self Debate

Balada si malang menanti pagi di malam yang di dalamnya ia tak dapat terpejam sedari tadi. Si malang hanya berangan, membayangkan kebahagiaan sambil tersenyum.

Ia tak pernah tahu akan masa depan yang menunggunya, namun ia tetap terdiam sambil meluruskan kakinya, dan perlahan merenggangkan tangannya. Dirasakannya kebebasan, meski di kamar yang hanya seluas 6 meter persegi yang berwarna hijau muda menyegarkan.

“Aku lebih baik membungkuk, membiarkan orang tidak mengetahui bahwa aku yang berpapasan dengannya.” pikirnya tetiba di sela imajinasi liarnya yang membuatnya tersenyum sedari tadi. Ekspresinya berubah seketika. “Tapi orang yang lama mengenalku, pasti ia tahu itu aku.” katanya lagi.

“Jadilah dirimu sendiri wahai gadis malang. Being yourself isn’t that wrong.” Id berkata.

“Jangan gegabah. Kamu akan terbiasa.” Kali ini Ego membuka mulutnya

“Bagaimana mungkin kamu berubah dikala lingkunganmu yakin bahwa itu salah?” Superego membuat wanita malang menciut.

“Please don’t call me wanita malang!” katanya pada id dan aku,  Sang Penulis. “Call me B I T C H. Jalang! Aku tidak sesuci orang yang malang.” Marah mulai menjalar dari otak, turun ke kaki, membuatnya bergetar.

Baiklah. Jalang membungkuk lagi. Meratapi perdebatan batinnya. Andai segalanya berjalan sesuai rencana. Sayang, Yang dipuja orang banyak membuat segala rencana gagal. Jalang masih tidak mengerti.

“Be yourself, bitch! Aku lebih menyukaimu dengan lipstick merah tebal yang menggambarkan dirimu. Aku lebih menyayangimu yang terlihat feminim dengan rok yang memperlihatkan dengkulmu yang hitam karena terlalu lama merangkak saat kau balita, ditambah pahamu yang keduanya terlihat simetris meski banyak tanda biru, terkadang. Aku lebih menghargai kebebasanmu dengan pakaian yang selalu cerah, dibanding sekarang, meski dengan tambahan –entah aku menyebutnya apa- di kepalamu, engkau banyak dipuja oleh kaummu yang mungkin sama munafiknya denganmu.” Jalang mengangguk mendengar bisikan yang sekarang melingkupi kepalanya. Itulah suara id, setan memang. Selalu meminta segalanya dituruti.

Beruntung ego masih mampu menahan, “Calm down. Kau akan terbiasabitch.”

Jalang membungkuk. Kali ini sambil memegang bekas luka di kepalanya yang meninggalkan bekas bangsat. Ya. Bangsat, menurutnya. Apa yang bangsat? Lukanya? Atau takdir? Atau… sudahlah. Jalang menarik napas dan menghembuskannya kembali, ketika memikirkan dalang di balik dirinya yang sekarang.

“Benarkah aku telah dikendalikan oleh ia yang menyamar sebagai diriku? Jelas ini bukan aku. Aku yang ingin selalu mencari perhatian akibat kebutuhan afeksi yang begitu besar dengan banyak cara. Tertawa, terlihat anggun dan seksi dengan bibir merah juga kerah baju terbuka yang memperlihatkan dadaku yang tidak seberapa besar. Benarkah aku sudah bukan aku lagi dengan tampilanku yang kata orang baik?” Jalang mulai putus asa.

“Biarkan aku membungkuk saja sepanjang hidup, agar orang lain tak melihatku. Biarkan aku menunduk saja tiap berjalan, tak apa kalau itu membuatku menabrak tiang. Aku rela. Tak masalah.” katanya lagi.

“Biarlah aku bersembunyi di sela perkumpulan banyak orang, dan membuang muka jika bertemu siapapun. Tak masalah. Biarlah aku tak ada di foto angkatan, foto organisasi yang kuikuti, tak masalah. Toh ini bukan aku.” Lanjutnya meratap.

“Sudahlah, bitch! Bertahanlah. Hitung-hitung buat orang lain senang karena harapannya padamu akan dirimu yang kata mereka lebih baik. Mereka memujimu selalu loh.” kataku angkat bicara.

Shut your fucking mouth up! You don’t know how hard this fucking feeling.” Katanya dengan nada menurun, namun sebegitu tertahannya. Matanya memerah, begitupun pipinya.

“Kamu tidak tahu betapa sebalnya ketika aku mendengar mereka mengomentari rambutku yang kelihatan, dadaku yang walau terbuka hanya sedikit karena kain itu tak mampu menutupinya saking rendahnya kerah bajuku, belum lagi ketika aku memakai baju ketat yang membuat lemak tubuhku menyembul, juga celana ketat yang membuat bokongku kelihatan ketika aku duduk. Aku selalu dipaksa menjadi apa yang orang lain mau. Kamu tidak tahu betapa sulitnya ini.” Ia berhenti.

You are wrong, bitch. I do. Aku tahu bagaimana rasanya. Jangan lupa, aku ini dirimu.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s