3R (Vol. 2) — First Kiss

Rami

Enam bulan di sini, ketemu Romi, Rama, dan Kana membuat hidupku berwarna. Aku dapat melupakan Ken, si bajingan brandal. Ya… Walau tak sepenuhnya melupakan, sih. Buktinya aku masih memikirkannya hingga detik ini. Beginilah jika aku sedang sendiri. Duduk di atas kasur, ditambah malam yang dingin membuat hati semakin tercekik. Semakin ingat kejadian lampau.

Bajingan brandal itu tidak bertanggung jawab. Bodoh. Hanya mengerti wanita dan seks. Lelaki bajingan!

“ARAMIIIII!” Sudah kuduga. Kana datang, membuka pintu kamarku dengan keras. Nampaknya ia habis mendapatkan sesuatu. Kana mendekat, “Ebuset! Temennya dateng malah disambut muka asem ya! Ngga tahu diri lo! Nih!” Ia memberikan pesananku, kaos kaki hijau neon.

“Makasih monyoonggg.” Kataku sambil memeluknya. “Dingin brrrr.”

“ARAMI MY BABY BUNNY SWEETTTTYYYY!!!” Si alay Romi datang. Seperti biasa, ia langsung mengambil posisi di tempat favoritnya, di depan lemari pakaian, tepatnya di bagian dekat pakaian dalam.

“Mi, lo harus beli penutup lemari.” Kata Kana protes akan design lemariku yang tanpa pintu. Aku menyukainya. Bentuknya yang simple, yang sebenarnya hanya seperti kantung transparan dengan empat bagian tanpa penutup, tergantung rapih pada satu tiang penyangga. Bagian pakaian dalam kutaruh di bagian kedua dari bawah, sehingga siapapun yang duduk di depannya, dapat kapan saja menengok ke belakang jika bosan. Itu sebabnya Romi menyukai ini.

“Ini buburnya, Mi. Jangan sakit dong, sayangku. Nanti cantiknya berkurang.”

“Gombal lu kampret!”

“Eh btw Rama mana?” Tanya Kana.

Di ruangan ini hanya ada kami bertiga. Entah, sebenarnya hatiku sedang tidak keruan, membuat Kana dan Romi juga hening. Rasanya bubur pun hambar, padahal jelas bubur itu belum kusentuh, apalagi kumakan. Baru kali ini aku tidak senang dua sahabatku datang ke rumah.

Rasa beberapa tahun lalu muncul lagi, membuat perut dan dada ini sakit tak keruan. Aku benci hidup laluku. Menijikan. Hina.

“Lagi phonesex sama Mira.” Jawab Romi sambil sibuk dengan layar handphonenya.

“Siapa tuh?”

Rama

“Iya… Yaudah aku tutup dulu ya telponnya. Bye…” kataku pada Almira, virtual friend of mine. Dia perempuan yang seru. Di foto, dia terlihat seperti perempuan normal yang ngga berlebihan. Ketika orang membuka akun instagram miliknya, barulah terdeteksi bahwa perempuan satu ini adalah perempuan yang suka shopping dan sangat fashionable. Juga… cukup sosialita. Minimal satu hari sekali ia posting foto di instagram, dan setiap hari update di path. Wah. Dilihat dari updatenya yang seperti hujan turun, nampaknya ia tidak bisa hidup tanpa gadget dan internet.

Kalau dilihat dari fotonya sih.. Dia cukup tinggi, dengan rambut panjang se-punggung, tepat di batas kaitan branya, tebakanku. Dia manis, senyumnya. Di foto, sih. Kalau aslinya kayak Dijah Yellow yaaa kan gue ngga tahu. Dia orang yang feminim banget dengan outfitnya yang selalu ia upload instagram dengan hastag OOTD.

Aku pertama kali mengenalnya lewat website chatting online, omegle. Bukan pertama kalinya aku membuka layanan ini, lumayan sering sih, untuk menghalau bosan. Beberapa kali aku mencari match, beberapa kali juga aku bertemu manusia yang tidak jelas, yang berbicara ngalor ngidul. Kebanyakan orang luar sih, makanya ngga begitu nyambung. Ngga jelas juga.

Dan Almira, orang Indonesia pertama yang kutemui. Awalnya kami saling menyapa dan memberi tahu gender lewat bahasa inggris. Begitu aku tahu namanya, ya.. Aku yakin ia orang Indonesia.

Pembicaraan kami cukup lama dan instens, hingga akhirnya aku meminta nama akun facebooknya. Ia memberikannya, sesegera mungkin kucari namanya, dan kutemukan foto perempuan manis berambut panjang. Almira.

Sejak itulah kami sering kontakan. Ia perempuan yang asik dan terbuka, entah karena aku orang asing baginya, yang denganku ia tidak pernah merasa terancam karena mengetahui segala rahasianya, atau karena memang orangnya begitu.

Umurnya lebih tua dua tahun denganku, tapi pemikirannya ngga dewasa-dewasa amat, sih. Terbukti dari statusnya yang suka lebay dan menjelek-jelekkan orang lain. Cukup frontal sih, orangnya.

Handphoneku berdering tiba-tiba, membuyarkan lamunanku akan Almira. Kulihat layar yang memunculkan nama Kana, si loveable monster. “Oy.. Iya gue kesana.”

Kana

Monyet satu itu memang paling garing! Baru beberapa menit saja datang, ia sudah berhasil membuat aku, Romi dan Rami tercekat dengan cerita jangkriknya. Krik krik.

“Persetan lah Ram, sama cerita lo.” kataku pada Rama yang super garing. “Tapi gue penasaran deh, sama cewek yang biasa phonesex sama lo, yang sampai bikin lo telat datang kesini.” kataku memancing Rama untuk bercerita.

Phonesex apaan? Gue ngga pernah phonesex. Ada lo, ada Rami yang super HOT, ngapain juga phonesex. Mending gue langsung ajak kalian threesome.” jawabnya dengan muka paling menyebalkan sedunia.

“Eh, tai! Lu pikir gue PSK di gang Doli apa bisa diajak threesome?” kataku sambil dengan kerasnya memukul Rama dengan bantal guling keroppi milik Rami.

“Jadi kalau berdua aja mau?” tanyanya jail, sabil mengangkat kedua alisnya dan tersenyum bak pejahat kelamin.

“Bangsaaattt!!”

Rama

Gampang banget kan, anak satu ini dibuat panas. Lucu banget perempuan tomboy berambut sebahu di depanku ini. Dulu, pertama kali kulihat ia dengan tas carrier besarnya, kupikir ia orang yang kaku dan canggung. Sedikit kaku, sih. Tapi manis, dan blak-blakan.

Berbeda dengan banyak perempuan yang kukenal, ia sangat pemberani dan otoriter. Ia tidak seperti wanita remaja biasa yang senang mengeksplore wajahnya dengan make up, bahkan pakaian yang kewanitaan.

Ia tipe perempuan yang kuat dan tak pernah menangis hanya karena hal kecil, kuyakin.

“Bangke! Kenapa liatin gue udah kayak buaya nemu ayam gitu, Nyet?” Omelnya padaku. Iyakah? Apa aku terlihat seperti itu?

You, know. Lo itu perempuan paling biadab di muka bumi, Kan!”

“Yes, I am. So what boy? AH! Phonesex addict’s boy?

“Gimme your fuckin’ pussy and I’ll prove that I AM NOT a boy, bitch!”

“SST!” Bisik Romi pada kami, sambil mengarahkan dagunya ke arah Rami yang terdiam sedari tadi. Kami berdua terdiam sambil menatap satu sama lain.

Romi

My lovely Rami daritadi bungkam. Ia duduk sambil memengang kedua lututnya yang menekuk. Bahkan ia tak memedulikan candaan Rama dan Kana yang ngalor ngidul super ngga jelas. Ada apa dengan my lovely?

Rami

Dua tahun yang lalu, untuk pertama kalinya aku menemukan lelaki yang begitu menyenangkan. Ken, namanya. Ia pacar pertamaku, yang berhasil membuatku gila karena kelakuan bejatnya.

Ia terlihat begitu keren, saat ia memasukkan bola basket ke dalam ring lawan, diikuti tepuk tangan dan sorak gemuruh para penonton, termasuk aku. Ia Ken yang terkenal.

“Gue udah tau lo dari umur kita empat tahun.” katanya, tiba-tiba di taman sekolah ketika kami sedang istirahat, membuatku bingung. “Waktu itu, gue bermimpi menemukan bidadari. Mirip banget sama kamu.”

“Hahaha.” Aku tertawa terbahak. “Kamu garing!”

Dari perbincangan garing itulah akhirnya kami dekat. Ia ngga pernah absen menjemput dan mengantarku pulang sekolah. Mendadak, aku menjadi wanita yang paling dibenci satu sekolahan, karena status kami berdua yang sudah resmi berpacaran.

Hubungan kami bisa dibilang hubungan paling berbahaya dan berani, untuk anak SMA. Kami sudah biasa menunjukkan cinta satu sama lain dengan berpegangan tangan, saling merangkul, bahkan ciuman di depan umum. Dan yang paling seru, ketika ada orang yang melihat atau menegur kami, dengan jenakanya kami menjulurkan lidah sambil berkata, “Weee,” lalu kami lari secepat kilat.

Hampir setahun kami berpacaran, hingga malam itu tiba, malam paling bangsat.

“RAMI!” Kata Romi menyadarkanku dari kenangan masa lalu yang super bangsat.

“Gue capek. Mau tidur.” Kataku pelan.

“Yaudah kita pulang ya, Ram.” Kata Kana penuh pengertian, yang aku balas dengan anggukan. Mereka mendekat, memberikan pelukan paling tulus yang pernah aku dapat.

“Jangan pulang. Temenin gue tidur.”

Kana

Untuk pertama kalinya gue melihat si cantik Rami murung, sampai-sampai minta ditemenin tidur. Mungkin memang kehangatan yang ia butuhkan sekarang.

Romi terlihat yang paling khawatir. Jelas, aku dan Rama sudah memprediksi rasa yang ia miliki kepada Rami sejak seminggu setelah kami berempat dekat.

Aku dan Rama yang duduk bersebelahan dengan khitmat memandangi Romi yang kini tengah memeluk Rami sambil membelai rambut panjangnya perlahan. Rami terlihat nyaman dengan pelukan itu. Tidak ada kata keluar dari mulut kami berempat hingga kami memutuskan untuk tertidur.

Romi 

“Yang lain udah tidur?” Tanya Rami tiba-tiba, membuatku berhenti membelai rambutnya. Aku hanya mengangguk, lalu melihat jam yang menunjukkan pukul satu pagi. “Kiss me.” 

“Aku pikir kamu udah tidur.” Jawabku gugup. Jantungku berdebar seketika.

Just kiss me.

Rami

He’s warm.

Romi

She’s sweet as a candy.

Rami

Thanks.

Romi

Sleep well, my pear.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s