Today’s Lessons

Ketakutan ini benar-benar beralasan. Sangat kuat. Saking kuatnya, membuat gue ingin menangis dan bersedih. Namun seperti biasa ngga bisa. Gue menangis hanya ketika benar-benar bersedih akan diri gue yang malang. Dan yang ini bukan hanya menyangkut gue aja.

Gue gagal berpikir tentang semua hal yang kali ini gue alami. Kenapa manusia banyak berbicara ketika mereka menemui hasil yang tidak mereka harapkan tanpa tahu prosesnya? Kenapa selalu begitu?

Apa pernah berpikir betapa sulitnya memilih dan memutuskan sesuatu yang besar? Iya besar, ngga kecil sama sekali.

Dilema menyerang kognitif dan afeksi membuat raga bak teriris lempengan samurai tajam. Bagaimana aku dapat menyelami waktu yang bahkan bagi gue sangat lama tanpa support? Dalam bentuk apapun itu ya….

Gue salah, hanya melihat satu sisi. Salah banget, dan gue sadar. Tapi itu semua hanya belief yang belum tentu benar. Nyatanya? Dari rasa se-nano nano-ini gue banyak dapat pelajaran.

Lesson number one: TRY TO FIND MUCH DATAS. Cari data sebanyak mungkin untuk membantu meyakinkan hati.

Cari pasangan hidup, misalnya. Masa iya sih ujug-ujug seorang pria lihat wanita cantik dan langsung kirim proposal? Engga kan? Pasti sang pria mencari info dulu tentang wanitanya yanggaa? Entah lewat temen, akun media sosial si wanitanya, atau apapun.

Dan seorang wanita juga ngga akan ujug-ujug OK sama lamaran pria yang melamarnya kan? Pasti akan cari tahu lebih dalam lagi. Dia orangnya kayak gimana ya? Dia kerja apa? Ih dulu waktu kecil dia kayak gimana ya? Banyak.

Dengan kita memiliki data yang banyak, akan mempermudah kita memilih dan meyakinkan hati. Lesson number one, sekali lagi.

Ini gue akui menjadi sedikit kesalahan gue juga, menurut belief yang ada di diri gue. Lalu gue belajar….

Lesson number two: BEING A GOOD COMUNICATOR IS IMPORTANT. Menjadi seseorang yang bisa berkomunikasi dengan baik adalah hal yang sangat penting, lebih dari apapun.

Orang yang pengetahuannya BANYAK tapi tidak bisa MENGOMUNIKASIKAN pengetahuannya dengan baik ibarat buku yang ditumpuk di kardus paling bawah, tidak pernah dibaca. Hanya akan berguna bagi mereka yang ingin tahu lebih dalam, dengan berusaha mengambilnya dari dasar dan membacanya kan?

Dan analogi ini akan sedikit sulit kalau dipakai untuk manusia. Buku kalau kita baca ngga akan pelit. Kalo manusia? Bisa jadi.

Yang terpenting lagi dari komunikasi adalah ‘bagaimana caranya untuk saling terbuka’. Kalo engga terbuka, kebayang dong betapa sulitnya untuk masuk menyelami kawan maupun lawan kita?

Lesson number three: CHANGE THE WAY YOU’RE THINKING. Contoh gue, yang sudah terbukti selalu terjebak oleh thinking trap tipe externalizing. Selalu menyalahkan keadaan. Selalu menyalahkan orang lain.

Bukti: “Gue udah ngajak untuk ketemu, tapi kalian ngga ngewaro. Makanya gue jadi pusing dan jadilah pilihan gue.” kata gue

Jelas, ini bukti gue menyalahkan mereka yang ngga ngewaro gue di grup. Padahal, kalau gue coba untuk personal chat ke mereka, bukan ngga mungkin gue bisa ketemu sama mereka. Lengkap, tanpa satu pun dari mereka ngga ada.

Kalau dilihat lebih dalam, ngga ada yang salah sebetulnya. Mungkin kita hanya terjebak oleh cara kita berpikir kita sendiri, seperti gue. Jadi… Cobalah sebisa mungkin untuk merubah pola pikir, kalau memang dirasa cara berpikir kita tidak benar.

Dan kalau merasa benar pun, cobalah komunikasikan apa yang ada di kepala dengan baik.

Lesson number four: TALK LESS DO MORE, DO MORE THINK BEFORE. Jangan pernah sedetik pun berpikir orang lain bodoh hanya karena kita berbicara lebih banyak. Aksinya? Buktikan!

Meski memang kebanyakan orang hanya melihat hasil tanpa proses, tapi ya idealnya begitu, mungkin. Kalau….. kita berpikir bahwa melihat hasil akan terukur dengan sangat pasti, dibanding proses.

But, people who think before he/she says something about the results apalagi yang menurutnya ngga sesuai, hasil akan luntur dan terganti oleh pemikiran yang penuh nilai apresiasi, tentunya kalau memang prosesnya OK ya.

Jangan judge seenak ketek yang baru dicukur rambutnya, sangat penting. Orang bisa bete kalau denger kita ngomong ngotot dan merepet kayak kereta malam, tapi poinnya ngga banget.

Oke kalo poinnya bener dan terbaik, itu sangat membantu. Tapi balik lagi ke komunikasi. Please jadilah komunikator yang baik, agar penyampaian informasi berjalan mulus, tidak menuai asumsi apapun. Ini sangat berlaku untuk gue, karena gue sadar… Gue telah menjadi komunikator yang buruk. Maksud gue tidak tersampaikan dan ya…. Gue gagal membangun citra diri.

Dan sekali lagi… Kegagalan ini hanyalah belief semata. Gue harus membuktikan bahwa tidak benar gue gagal.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s