3R (Vol. 5) — The Truth

Rami

Apakah orang-orang di depanku ini tahu rasanya dikhianati dan dihancurkan sehancur diriku, yang bahkan sudah berkali-kali mencoba meyatukan kepingan kehancuran ini namun tak kunjung utuh?

Aku masih menangis di pelukan Rama, terisak menahan sakit yang teramat. Selalu teringat malam bangsat itu lagi, ketika aku melihat kejadian menjijikan dengan mata kepalaku sendiri, membuat perutku mual ingin memuntahkan segala yang ada di dalam perutku.

Malam itu, aku sedang mengalami perasaan was-was yang amat karena mengetahui diriku yang tengah mengandung. Hasil hubunganku dengan Ken, kekasihku yang padanya aku berikan seluruh perasaan dan tubuhku.

Untuk pertama kalinya aku melakukan perbuatan setan itu tepat di tahun pertama hari jadian kami.

“Happy anniv, sayang.” Kata Ken, langsung menciumku. Kami merayakan hari jadi kami di rumahku, yang saat itu tak ada siapa-siapa karena Mama sedang pergi, entah kemana.

Mama dan Papa sudah bercerai semenjak aku berumur 10 tahun, entah mengapa. Mereka berdua tidak pernah menceritakannya, bahkan menjawab pertanyaanku. Mama selalu diam ketika kutanya kemana Papa pergi.

Beberapa bulan pertama, Papa masih mengunjungiku untuk sekedar memberiku boneka barbie, atau mainan lain. Semenjak itu, ia tidak pernah berkunjung lagi. Kupikir Papa mati, tapi ternyata tidak. Papa masih hidup, dengan keluarga barunya.

Aku anak tunggal dari pernikahan ini, dan Mama tidak pernah lagi menikah, hingga aku tahu belangnya.

Kurasakan tangan Ken meraba-raba tubuhku, sambil terus meluncurkan ciumannya di bibirku. Kemudian ia menenggelamkan bibirnya di leherku, sambil mengecupnya perlahan, membuat tubuhku memanas. Aku merasakan sensasi dimabuk dopamin seketika.

Aku mengangkat kepalanya yang sudah siap membekap dadaku, menatapnya sedetik.. dua detik.. lalu menciumnya lagi. Kami saling membalas luncuran ciuman maut di tubuh masing-masing, hingga pertahanan diriku hancur sudah.

“You know I love you, right?” Kata Ken, menatapku dalam, sambil menahan napasnya yang menggebu dan menahan tubuhnya di atas tubuhku. Aku mengangguk.

“Wait.” Pintaku tiba-tiba, sebelum ia lagi-lagi menenggelamkan tubuhnya pada tubuhku. “Do you bring a condom?”

Ia mengangguk, bangun dan membuka tasnya, lalu dengan tergesa-gesa membuka bungkus kotak kecil berwarna biru. Rupanya ia sudah merencanakan perbuatannya. Berhasil terbuka, namun isi kotak itu malah jatuh ke lantai. “Fuck!” amuknya. Ia melihatku, “Whatever.”

Tanpa mengambil benda itu, ia berjalan cepat kembali ke arahku, menenggelamkan tubuhnya lagi pada tubuhku. We did it. Aku menyerah. Aku menikmati malam itu. Terbuai oleh dopamin dan serotonin yang bercampur, membuat kami lupa bahwa ini bukan hanya sekedar mimpi basah.

Romi

Operasi rahim itu ternyata namanya kuretasi. Ini karena adanya infeksi dari sisa janin yang mati setahun yang lalu, kata Mama Budhe. Kami bertiga kaget bukan main. Hatiku rasanya campur aduk, dengan sebagian besar dipenuhi rasa pedih.

Bagaimana mungkin Rami bisa menyembunyikan ini dari kami?

Dua minggu setelah dikuretasi, keadaan Rami membaik, namun ia tidak ingin bertemu dengan siapapun hingga hari ini. Aku, Rama dan Kana secara resmi diundang ke rumah Rami. Tidak ada suasana berduka. Kami sebisa mungkin akan menjaga perasaan Rami, my love.

Rami

Aku terbangun di ruang yang remang, dengan Mama Bundhe yang berada di sampingku sambil memegang tanganku. Mama Budhe terbangun dan mengelus keningku, menceritakan apa yang terjadi. AH! Jadi sakit selama ini karena bayi bajingan itu? Syukurlah aku sudah bersih dari sisa-sisa darah Ken.

Tapi satu hal yang tidak pernah bisa aku lupakan adalah saat melihat hal paling menyakitkan itu. Hal paling menjijikan dan tidak masuk akal.

“Dua…” benar saja, aku positif mengandung. Bekali-kali aku melihat alat tes kehamilan ini dan mencocokkannya ke lembar petujuknya. Apa garisnya tidak bisa berubah?

Aku benar-benar tak tahu harus apa. Tiga bulan berlalu sesudah kejadian itu bersama Ken, dan sekarang aku mengandung anaknya, anak kami. Aku harus bagaimana? Dua jam sudah aku menghabiskan waktu di kamar mandi. Bingung sendiri.

Aku memutuskan untuk keluar kamar mandi dan bersiap pergi ke rumah Ken untuk membicarakan ini, sampai aku berhenti di tengah jalan menuju kamarku dan melihat pintu kamar Mama terbuka sedikit. Terdengar suara rintihan kenikmatan dari dua suara yang terdengar jelas berbeda namun beriringan.

Aku mengenal suara berat itu.

Aku memberanikan diri untuk mendekat, meski badanku gemetar. Lalu aku melihat sebuah pemandangan menjijikan. Dua tubuh itu sedang mendekap diri satu sama lain. Ken di atas, bergerak naik turun, dengan cepat dan nafas menggebu. Mama di bawah, sambil melingkarkan kedua kakinya di pinggang Ken, membuat penetrasi itu terlihat begitu nikmat hingga mereka tak menyadari ada penonton yang melihat pertunjukan mereka.

Aku terdiam. Kuperhatikan lama, hingga aku menyadari bahwa yang kulihat benar-benar nyata. Mama dan Ken yang sedang menikmati malam penuh kenikmatan bangsat.

Perutku nyeri seketika. Dadaku panas karena menahan rasa mual.

Aku tetap diam. Rasanya otot-otot tubuhku mati, namun tidak dengan dada dan otakku yang masih mencerna pertunjukkan yang sedang dipertunjukkan oleh dua aktor paling memuakkan di depan mataku.

Erangan mereka terdengar kuat, benar-benar kuat, hingga Ken menjatuhkan tubuhnya di atas Mama dan keduanya lemas seketika.

“Ken.” aku menyebut namanya pelan. Mereka berdua menoleh ke arahku, dengan mata yang melebar seketika. “Udah selesai?” mataku terasa panas, hingga aku menyadari ada tetesan air mata yang terjatuh.

 Aku merasakan perutku makin panas, dan aku terjatuh seketika.

Kana

“Iya, gue keguguran. Bangsat, katanya bajingan di perut gue udah bener-bener diambil.” kata Rami, sambil menangis, menceritakan pengalamannya yang paling menyakitkan. Aku ikut menangis, sambil memeluk erat Rami.

Dua lelaki di depan kami terpaku.

Rami melepaskan pelukanku, dan mendekati Romi. “Itu kenapa gue ngga pantes buat lo pertimbangkan, Rom.” katanya pada Romi.

“Bisa kita lupakan semua masa lalu kamu?” kata Romi dengan tegas. Aku sangat suka cara Romi memandang Rami. Penuh kehangatan.

Romi

Ia mengangguk, membuatku tersenyum.

Rami

Aku mengangguk pasti. Siap melupakan.

Rama

Seketika peri cinta bertebaran, membuat dua manusia lain di hadapan sepasang manusia yang dikerubungi peri cinta menjadi sedikit frustasi. Tapi kali ini tidak. I’m happy for you both, my dear bestfriends.

Kana

Ekhm. Ada yang tidak bisa diganggu. Apa aku harus berlari dan menumpahkan rasa mual ini? Melihat dua sejoli dimabuk asmara, membuatku panas, namun sedikit geli. Tak ada yang paling membahagiakan dari pemandangan di depan yang saling menatap penuh cinta seakan-akan berkata, “Let me fall, boy.” lalu dijawab, “Sure. I’ll let you fall…. in love with me.”

Hehe GELI NGGAK SIH????

Romi

The truth is…. me… A cool Romi already trapped with this fucking shit love’s hormones whatever their name. I love you, Rami.

Rami

The truth is…. my brain is full of butterflies, also my heart… I feel you inside, Rom.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s