Kenapa Menulis?

Hai! Siapapun yang baca, gue harap kalian selalu diberi perlindungan oleh Tuhan, dan tidak mudah terbuai oleh kata-kata manis yang nantinya akan gue tulis. LOL XD.

Well… Gue memiliki banyak waktu untuk belajar, sebenarnya. Tapi gue ngga pakai untuk itu lantaran menurut gue, akan selalu ada hari esok. Pemikiran ini mematikan, sesungguhnya.

Tapi gue ngga akan bahas terlalu banyak mengenai gue dan pendidika gue. Karena layaknya agama, pendidikan juga ngga patut dibahas-bahas apalagi dibanggakan oleh diri sendiri. Biarlah IPK pacis yang menjawab. Selebihnya, bukan gue ngga peduli, tapi yaudahlahya kita bahas nanti haha.

Gue akan memberi tahu kalian betapa menyenangkannya menuangkan segala yang ada di kepala dengan menulis, lalu betapa bangganya ketika tulisan kita dibaca oleh banyak orang.

Pertama, gue suka menulis sejak gue mengerti apa fungsi dari “buku diary”. Untuk curhat, tentunya. Jaman dulu, jaman-jaman gue SD beberapa tahun yang lalu, gue kerapkali mengoleksi buku diary yang lucu-lucu hingga terkadang sayang untuk menulisnya dengan satu kata pun.

Dan yang paling gue seneng dari menulis diary adalah ketika gue bisa combine berbagai warna tulisan-tulisan di buku diari gue, disertai gambar yang relevan sama kisah yang gue tulis.

Terus.. momen paling sakral dari menulis diary itu ketika kita sedang bercerita mengenai orang yang kita kagumi. Mungkin dulu bahasanya kayak gini….

Dear diary…

Aku lagi suka sama seseorang nih. Namanya A…. sebut saja A ya hihihi :p A ini baik banget! Dia tadi senyumin aku pas kita papasan. A ngerasain perasaan dagdigdug yang sama kayak aku ngga ya? Semoga iya deh 🙂

 Amelia

Momen ini sakral banget, ngga bisa digangu gugat! Ketika menulis, bahkan kita sampai tersenyum-senyum geli sendiri saking nikmatnya membayangkan hal yang kita tuliskan di buku diari.

Bukan hanya menuliskan momen cinta-cintaan, buku diary juga biasa dipake untuk mengutuk seseorang yang kita sebeeell banget! Bahkan ngga jarang juga kita menulis diary sambil menangis. Dan menumpahkan keluhan ke dalam tulisan di buku diary sambil menangis juga momen yang sakral, menurut gue.

Gue secara berkala menuliskan diary sampai terakhir… jaman SMP kayaknya. Di SMA, jaman-jamannya main facebook dan twitter, dan di situlah diary gue. Bukan lagi buku kecil warna-warni. Tapi tentu, gue ngga semena-mena ketika menceritakan orang yang gue suka. I mean… Gue selalu berhasil menyembunyikan siapa orang dibalik cerita gue, kecuali itu kisah pertemanan ya haha.

Sejak SD, gue sudah mengenal profesi menulis. Gue ngga suka baca buku, jujur aja kali itu. Tapi gue ingat banget pernah meplagiat salah satu sinetron di RCTI, suka banget gue sama sinetron ini, lalu gue buat cerita dengan plot yang sama namun berbeda nama orangnya.

Jaman gue plagiat ini, gue belum sepintar ini menulis. Gini nih dulu..

Anif pun pergi menjemput Denisa.

Anif: Hai den. Nunggu lama ya? Maaf ya hehe.

Denisa: Iya gapapa. Kamu darimana?

Anif: Tadi aku dipanggil Bu Sinta.

Denisa: Oh.

Gitu. Gue lebih suka membuat percakapanya begitu dulu, beda dengan sekarang yang lebih naratif dan dengan kutipan langsung.

Kayaknya sudah ribuan kisah yang berhasil gue buat tanpa ada akhirnya. Bukan apa-apa, dari dulu gue sudah bisa megidentifikasi bahwa gue ini bosenan. Awal, gerceep banget pengen semua OK. Tengah, yhaa kalo ada waktu deh. Akhir, cari kesenangan lain.

Sampai sekarang juga gitu, tapi gue lebih konsisten dan serius dalam menulis, sekarang. Lewat blog pribadi ini, harapannya gue lebih bisa mengeksplor seberapa minat gue dalam meulis, dan seberapa niat gue untuk serius.

Yhaaa.. itung-itung cari pembaca dulu sih, gue haha.

Gue suka menulis karena… Bagi gue, menulis adalah satu bentuk melestarikan. Satu bentuk pasti untuk mendokumentasikan. Bahkan sejarah saja dicatat lewat tulisan bukan?

Ini poin pertama. Gue ngga mau pemikiran gue pada akhirnya hilang dan terlupa. Bagi kalian yang suka menulis di media manapun, pasti merasakan sesuatu kenikmatan ketika membaca tulisan-tulisan kalian bukan? Contoh gue. Gue sering membaca tulisan-tulisan lampau gue, dan selalu merasa, “Ah, jadi dulu gue gini.”, “Ih ya ampun kangen.”, bahkan cekikikan sendiri, kadang flashback juga.

Kedua. Gue orangnya sangat pelupa. Nyambung ke poin pertama, menulis bisa membantu gue untuk mengingat-ngingat dan mengenang. Dan rasanya menyenangkan! Gue juga takut banget kena alzeimer dan penyakit pikun lainnya, sesungguhnya. Jadi harapannya, dengan gue membiasakan diri menulis dan membaca kisah gue sendiri, ini akan melatih otak gue untuk tetap bekerja, dan menghilangkan resiko kepikunan.

Ketiga. Gue merasa lebih ekspresif ketika menulis. Gue bukan orang yang suka memaki dengan ucapan yang maha kasar. Kalo gue marah dan ingin memaki, gue cukup menulis. Ngga banyak tenaga yang keluar, dan gue puas.

Keempat, kenapa harus lewat tulisan? Gue ngga terlalu suka editing video, jadi cari amannya, gue menulis. Menulis itu mudah, semudah memencet keyboard pada laptop sesuai kata yang kita pikirkan. Mudah banget.

Kelima, poin paling penting, gue ingin membagi seluruh cerita gue ke banyak orang. Gue ingin menginspirasi, dulunya. Tapi seiring berjalannya waktu, isi tulisan gue mah ngga lebih dari curahan hati, jadi keinginan itu nampaknya belum bisa terfasilitasi dengan baik.

Ini gue suka banget sama kata-kata yang akan gue tulis detik ini juga.

Kalau kita ingin mengukir sejarah, ngga perlu kok kita mengikuti suatu perang atau menandatangani perjanjian yang menguntungkan Indonesia. Cukup dengan menulis, kita sudah mencatat sebuah sejarah. Paling engga, sejarah diri kita sendiri.

Menumpahkan apa yang kita pikirkan, syukur-syukur ditambah data adalah cikal bakal suatu ilmu. Bayangin aja kalau dulu penemuan telepon ngga ditulis. Ngga akan ada yang tahu siapa penemunya, bagaimana sistem kerjanya, dan semua informasi terkait.

Menulis bagi gue bukan hanya sekedar untuk memenuhi hobi belaka. Tapi otak gue ibarat sudah memerintah gue untuk menulis kala gue mendapat informasi penting terkait pengalaman-pengalaman yang gue punya.

Menulis bagi gue adalah passion, lebih dari kebutuhan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s