3R (Vol. 6) — Sajak

Rami

Dua tahun sudah aku melewati masa dari babak baru yang mempertemukanku dengan Romi, Rama dan Kana. Minggu lalu, Romi yang sekarang sedang menjalani studinya di Depok mengirimi aku sebuah surat, literally surat yang ditulis tangan dan dikirim lewat kantor pos. Surat itu berisi kata-kata maha indah, berisi janji cintanya.

……I promise, ’till the time I become a “man” who can treat you well like crazy, I’ll be a good boy for only woman I absolutely want right now. You. Arami.

Save my heart ’till the end, Arami.

The boy who gave you his heart two years ago

Romi

Aku membaca kalimat terakhir, dan tersenyum. My lovely boy itu… Ngga romantis apanya coba? Ia selalu bisa membuatku merasa tersipu karena cinta dan kata manisnya yang menyanjungku. Betapa indahnya ciptaan Tuhan. Aku tak pernah berhenti untuk bersyukur karena dapat merasakan kuasa-Nya lewat Romi, ciptaan-Nya yang maha indah.

“Mau baca kali, suratnya!” Kata Kana mengagetkanku. Tiba-tiba saja ia masuk ke kamar kostku. Ya. Sudah setahun lebih aku tinggal di Bandung, menempuh studiku di salah satu Perguruan Tinggi di sini, bersama Kana. Kami berbeda Pergurua Tinggi, tentu saja. Minat kami berbeda, meski terkadang aku suka menggambar, sama seperti Kana yang kini menempuh pendidikan di Fakultas Seni Rupa dan Desain, di salah satu Perguruan Tinggi di Bandung.

“Eh! Rahasia pabrik ya!” Kataku segera menyembunyikan surat itu di bawah bantal tempatku menyandarkan kepalaku yang lelah karena habis begadang mengerjakan tugas tadi malam.

Kana mendekatiku dan ikut terlentang di sebelahku. “Bangunin gue 20 menit lagi ya, Mi.” Katanya. “Gue mau ngelanjutin design gue buat dipajang di depan kampus nanti.”

“Gila! Ini udah jam berapa heeeh.” Kataku, sambil melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 11 malam.

“Liat aja sediri, gue mau tidur.” Katanya dengan cuek sambil menutup wajahnya dengan bantal. Begitulah Kana. Ia menggeluti hobinya dengan komitmen yang tinggi. Aku iri akan semangatnya yang begitu tinggi.

Aku merenung, sambil menungu 20 menit tiba, untuk membangunkan Kana. Kampus kami tidak berdekatan, sebenarnya. Kalau naik bis, bisa sampai satu jam lebih perjalanan. Tapi saking tidak ingin berpisah jarak dan waktu dengan perempuan kesayangan gue ini, akhirnya kami memutuskan untuk kost di satu tempat. Dan harus ada yang mengalah bukan?

“Engga. Kost harus deket kampus gue. Design pasti sibuk dan butuh banyak inspirasi. Dan bandung cocok.” Katanya. Sedikit aku merasa ia merendahkan kampusku yang berada di pinggiran yang kurang hiburan.

“EH. Daerah dekat kampus gue juga udah borjuis kali! Cafe banyak, mall ada, dan yang paling seru adalah back to nature, Kaaan.” Kataku berargumen.

“Heh! Di Bandung lebih banyak kalii. Banyak kalau lo mau cari suasana dengan konsep back to nature. Ada kawah putih, ada kebun strawberry, ada apa itu yang buat coboy-coboyan di Lembang. Lebih asik Ramiiii.”

“Engga, engga. Harus di deket kampus gueeeee!” Kataku dengan energi ekstra.

“No. Deket kampus gue. Ini gue udah dapet kostnya dan gue udah DP buat dua kamar. HE. HE.” Katanya semena-mena, membuatku kesal. Aku menyerah.

Romi

Rami membalas suratku. Aku membuka surat dan membacanya perlahan. My love ini juga menyelipkan satu kertas origami berwarna merah berbentuk hati.

Dear, my boy Romi, my future. I hope. 

Thank you love, for your sweet fingers. Hihi. Thanks for your sweet letter, Hon. I already embarrassed like a little girl who kissed by her new boyfriend.

“Rom. Rami tuh udah belajar konseling orang belum ya?” Tanya Rama padaku, membuatku berhenti membaca surat dari Rami.

“Setau gue belum deh, Ram.” Jawabku, coba mengingat-ingat obrolanku dengan Rami terkait mata kuliah yang diambilnya. “Kenapa?” Tanyaku kemudian, sambil melirik Rama yang sedang memakai celana sambil menahan handuk di atas kepalanya yang basah.

Ia diam seketika, kemudian melanjutkan kegiatan malamnya setelah mandi. Memakai cologne, lalu berkata, “Nanti gue langsung tanya sendiri deh. Itu apa?” Tanyanya sambil memandang surat pemberian Rami yang ada di tanganku.

“Surat. Dari Rami.”

Rama

“Itu apa?” Kataku bertanya kepada Romi setelah melihat selembar kertas di tangannya.

“Surat. Dari Rami.” Oh.. Dari Rami. Aku diam sedetik. Rasanya aku kehilangan sesuatu, tapi aku tak tahu apa. Ah. Aku penasaran akan isi surat itu.

“Liat dong, Bray!” Pintaku, sambil menyikutnya.

“Rahasia perusahaan, Nyet.”

“Pelit, anjir!”

“Makanya punya pacar dong, biar bisa surat-suratan.”

“Norak.”

“Norak sama pacar sendiri asik kali!”

Kana

Apa dia tahu betapa indah punggungnya? Pungung yang menandakan awal dari perpisahan yang…. membuat rindu. Sedikit. Punggungnya yang lurus, pandangannya yang selalu menatap ke depan, dengan langkahnya yang panjang. Membuat ia menghilang seketika.

Rama, aku mengingat setiap detik cerita akan mimpinya yang sedari dulu ia bangun, pun rasa hatinya kala ia berbagi suka maupun dukanya.

“Kenapa lo kepikiran kerja di dunia modelling sih Ram?” Tanyaku tiba-tiba menghempas hening yang sedari tiga puluh menit yang lalu tercipta. Kami memang biasa menghabiskan waktu bersama dalam diam. Aku sibuk menggambar, ia sibuk memandang ke depan.

“Hm..” Ia berdehem, masih memandang ke depan, seperti sedang berpikir. “Karena gue ganteng.” Katanya menatap ke arahku, kemudian menjulurkan lidahnya.

“Bangsaaaattt!” Aku refleks memukul, dan menenggelamkan kepalanya di ketiakku.

Ialah Rama, yang baru saja aku mimpikan. Aku merindukannya.

“Kan, udah 20 menit.” Aku duduk sambil membuka dan memejamkan mataku sebanyak yang aku bisa, agar rasa lengket di mata hilang.

“That’s why I need my bestfriend here. Thanks my alarm!” Aku bangun untuk mencuci muka, dan mengambil sebungks mie goreng instan, dan langsung meremukkannya. Malam ini akan menjadi hal yang sangat menyenangkan dengan rutinitas yang sudah menjadi kegemaran. Menggambar!

Rama

Seminggu sudah aku tidur di kost Romi di Depok. Aku memang sedang suntuk dengan kuliahku di Jakarta. Aku rasa ini waktu yang tepat untuk kuhabiskan waktu bersama sahabat terdekatku.

Karena jadwal kuliah Romi yang sangat padat, aku yang ‘sedikit’ suka membaca, lebih sering menghabiskan waktu di perpustakaan maha dahsyat milik kampus Romi. Gila. Perpustakaan ini benar-benar bank data yang mumpuni! Kita dapat dengan mudah mencari dan mengakses buku yang ingin kita perdalam.

“Ram!” Romi menepuk pundakku, membuatku sedikit kaget. Refleks aku menutup dan menyembunyikan buku yang kubaca sebisa mungkin. Ia melihat buku yang berada di tanganku sekilas.

“Bangsat gue pikir satpol pp!”

“Gila lu! Emang lu banci sampe harus berurusan sama satpol pp? Lawak aja. Eh, gue mau cari referensi dulu ya.” Katanya, lalu segera berbalik.

“Referensi apa?” Tanyaku kemudian, membuatnya menoleh.

“Puisi cinta. For my lovely Rami.” Katanya membuatku sedikit geli.

Sampai kapan anak ini akan bertahan mencintai Rami?

Rami

Malam paling indah… Malam yang menenangkan di bawah bulan, dan lampu remang kamar. Sengaja kunyalakan lampu kamar berkarakter keroppi warna hijau. Bukan menimbulkan kesan tenang, terkadang warnanya malah membuatku ngeri, sejujurnya.

Dan aku bak anak SMA yang sedang mengheningkan cipta saat upacara bendera. Begitu khitmat mendengarkan Romi yang sedang membacakan sebuah puisi karya Sapardi Djoko Damono untukku.

AKU INGIN
Oleh : Sapardi Djoko Damono

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
 

“Kok diem, Mi? Halo?” Katanya dari ujung sana, entah berapa derajat dan jauhnya dari kamarku sekarang. Sudah hampir satu jam aku menghabiskan waktu dengannya di tepon hanya untuk saling berbincang dari kejauhan.

Aku tersadar. Entah. Mataku sedikit basah. “Oh. Hai!” Aku menjawabnya dengan canggung, kubalas puisinya yang mengharukan itu dengan rasa bangga. Aku ingin, versi Arami Hutomo.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, sesederhana lampu teplok  di dinding yang menyala karena dukungan minyak tanah.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, sesederhana makan warteg di pinggir jalan depan rumah. Bukan susah, bukan. Tapi menikmati makan tahu tempe di sana berbeda, sungguh. Kala itu denganmu…..

Romi terkikik dari kejauhan. Aku berhenti, dan menyernyitkan dahi tetiba. “Yang, gombal ah alay.” Katanya kemudian.

“Ih apaan sih? Gombal apaan?”

“Masa iya sih makan cuma sama tahu tempe rasanya sebegitu nikmatnya? Bukanya kamu ngga suka tahu?” Jawabnya cengengesan. Ia memang tak pernah membiarkanku bersikap romantis. Selalu dicela. Malah ngelawak.

“Au ah! Makan tuh tahu!”

“Aku mah suka, yeeee.”

Romi

“Aku mah suka, yeeee.” Katau sambil menjuluskan lidahku ke depan, untuk Rami. Padahal ia tak dapat melihat rupaku juga, sih.

“Au ah!” Dengan suara ala ngambeknya, ia membalasku begitu jutek.

“Yang.” Aku memanggilnya, sambil menatap halaman buku yang kupinjam di perpustakaan tadi, kemudian membaca isi di dalamnya. Puisi karya Sapardi Djoko Damono.

Yang Fana adalah waktu. Kita abadi:

“Abadi apaan? Yang abadi cuma Tuhan.” Katanya masih dengan wajah cemberut, terbaca dari nadanya. Aku melanjutkan.

memungut detik demi detik, 

“Emang sampah, dipungut.” Katanya lagi, dengan nada sinisnya. Otakku bak memutar memori wajahnya dengan bibir manyun dan leher menekuk. Ekspresinya kalau sedang cemberut. Aku melanjutkan lagi.

merangkainya seperti bunga sampai pada suatu hari kita lupa untuk apa. “Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?”

“Ngga ta…”

tanyamu. Kita abadi.

YANG FANA ADALAH WAKTU
Oleh : Sapardi Djoko Damono

“I love you.” 

Rami

Love you too.

Butterflies flying everywhere, around my mind. Geli. But I’m surely knows that… this is love. Aku jatuh cinta pada sang pujangga. Tidak berkuda maupun berjubah, namun satu-satunya yang berhasil membuat bunga mekar di dada. I’m totally embarrassed. This is love means.

“Good night.”


Read this!

Vol. 1 Vol. 2 Vol. 3 Vol. 4 Vol. 5 Love Letter Replied

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s