Merindu

Judulnya udah kayak perawan tahun 1980 yang lagi LDRan sama pujaan hatinya belum? Udah kayak pujangga yang merindu sang bulannya belum? IHIK. Asa manis pisan euy.

Sedikit. Kalau gue baca puisi jaman yang agak keduluan (antonim kekinian), karya Sapardi Djoko Damono, W.S. Rendra, Chairil Anwar… Gue menemukan satu hal. Puitis. Haha. I mean, the words is more than words. Cantik, romantis, menggugah, dalam.

Satu karya favorit gue dari Sapardi Djoko Damono:

Aku Ingin

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
 

Source

Ya ampun :”) Gue jatuh cinta sama barisan kata di atas, sungguh. Sesederhana itu loh, mencintai seseorang. Tanpa kata, tanpa banyak cingcong, tapi dengan perbuatan nyata. Senyata bara api, senyata rintik hujan.

Lagi nih, siapa sih yang ngga tahu Aku? Aku, dari Chairil Anwar:

Aku

Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi

Source

Kalo ini, bener-bener… sebagai manusia gue semakin menyadari kalau gue hanya manusia biasa. Manusia yag pasti mati. Pasti merasakan sakit. Entah karena penyakit mematikan, atau patah hati, atau ditembak. Dan pada masanya nanti, itu hanya sebuah angin lalu. Ngga perlu ada duka, karena hidup pasti masih akan berjalan.

Yang terakhir nih, dari W.S. Rendra:

Sajak Bulan Purnama

Bulan terbit dari lautan.
Rambutnya yang tergerai ia kibaskan.
Dan menjelang malam,
wajahnya yang bundar,
menyinari gubug-gubug kaum gelandangan
kota Jakarta.
Langit sangat cerah.
Para pencuri bermain gitar.
dan kaum pelacur naik penghasilannya.
Malam yang permai
anugerah bagi sopir taksi.
Pertanda nasib baik
bagi tukang kopi di kaki lima.
Bulan purnama duduk di sanggul babu.
Dan cahayanya yang kemilau
membuat tuannya gemetaran.
“kemari, kamu !” kata tuannya
“Tidak, tuan, aku takut nyonya !”
Karena sudah penasaran,
oleh cahaya rembulan,
maka tuannya bertindak masuk dapur
dan langsung menerkamnya
Bulan purnama raya masuk ke perut babu.
Lalu naik ke ubun-ubun
menjadi mimpi yang gemilang.
Menjelang pukul dua,
rembulan turun di jalan raya,
dengan rok satin putih,
dan parfum yang tajam baunya.
Ia disambar petugas keamanan,
lalu disuguhkan pada tamu negara
yang haus akan hiburan.

Source

Ini menggambarkan porstitusi yang umum terjadi. W.S Rendra, lewat puisinya ini menggambarkan dengan jelas bagaimana rakyat menengah ke bawah diperbudak oleh yang punya kekuasaan. Ngga ada letak keadilan. Uang selalu menang. See? Tikus dimana-mana.

Back to the topic… Gue memang lagi merindukan seseorang, jujur. Jujur dari hati terdalam gue. Dia bukan orang yang istimewa, tapi sedikit gue istimewakan. Dia bukan orang yang penuh rayuan, tapi buat gue gombalan recehnya bikin melambung.

Dia cerdas, yang membuat gue merasa cerdas pula, sebagai wanita yang belajar psikologi. Karena dengan pertanyaannya, apapun itu, about sexualities or everything about psychological issuses, dia mengerti ketika gue jelaskan. Ditambah dengan dia browsing juga sih. Dia mengapresiasi karya gue. Dia baca blog gue, dia denger soundcloud gue, dia denger gue siaran.. Dia kasih like, dia komentarin.

Dia… I don’t know his voice. Gue ngga tahu seberapa berat suaranya. Apakah truly man or ngondek. Apakah secetar suara Sam Smith, atau sejazzy suara Tompi. I have no idea. Gue tidak pernah mendengar suaranya.

Dia… Mukanya seperti… Gue ngga bisa mendeskripsikan banyak. Ada sih fotonya (yang akhirnya dia upload juga dijadiin foto line), tapi ngga jelas. Gue ceritain sedikit. Jadi gue pernah geregetan banget minta foto dia, saking penasarannya. Dan dia ngirim apa coba? Pertama foto kucing. Terus gue berlagak ngambek gitu. Lama, gue tutup chatbox sama dia, eh dia kirim foto. Gue ketipu. Udah exited aja gue buka chatnya. Taunya dia kirim foto Soekarno. Ngga jelas!

Ngga berapa lama, dia ganti dpnya pake foto seorang cowok lagi gaya pegang gitar sambil metik senar gitu. Dia… ada jenggotnya sedikit. Ini kalau bener mukanya ya. Terus.. Alisnya tebal tapi sedikit. Kayak cuma segaris pensil aja. Sama lebar pensil 2B juga kayaknya masih kecil lagi dikit.

Kalau dilihat dari jari-jarinya sih.. Kayaknya tingginya ngga lebih dari tinggi gue. Kalaupun lebih paling cuma sejengkal. Lebar badannya juga ngga lebih dari gue. Jauh lebih kecil, mungkin.

Nostalgia sedikit, awal gue mengenal dia gini. Dia chat gue duluan, dan ternyata namanya sudah ada di friendlist gue sejak lama. Tapi chat kami baru intens bulan oktober akhir tahun 2015 lalu, waktu gue baru-baru buka aplikasi chatting itu lagi setelah sekian lama ngga buka.

Kita kenalan. Entah sebelumnya udah kenal atau belum, gue ngga tahu. Ngobrol banyak deh kita. Seketika, chatting sama dia itu menjadi candu, like a cocain. Membuat gue ingin online terus. Ingin ngobrol terus sama dia.

Obrolannya ngga garing, ngga kriuk. Bahasanya juga ngga alay. Cerdas. Well educated gitu orangnya. Kepo tapi ngga berpunggung pakai jawaba orang. Dia baca, nyari tahu, dan cepet ngertinya.

Well, his english is very well. Terkadang gue suka bingung harus jawab apaan, jadi gue jawabnya pakai bahasa gini aja, bahasa indonesia haha. Tapi dia juga ngga sok pamer inggrisnya, kok. Mungkin juga sambil belajar, kayak gue.

Candaannya soal seks, fyi gue dan dia bertemu di rum seks kayaknya, engga kampungan. I mean.. Kalau orang yang main mig33 atau aplikasi chatting liar lainnya pasti ngga asing sama kata ps dan cs, dan pastinya ngga asing dengan kata-kata gini, “Amel pake CD warna apa? Berenda atau engga?” atau, “Amel lagi di mana? Di kamar? Aku boleh masuk?”

Engga sama sekali.

Dia ngga pernah ngajak gue macem-macem. Candaannya wajar aja, meski pernah sekali gue risih. Dan itu saat terakhir gue chat dengan dia. Awal desember lalu. Lama ya…

Dia juga ngga update. Terakhir update ya awal desember. Harusnya sih, kalau dia buka line, dia sudah mengomentari cerita baru gue. Tapi ini engga. Kemana ya dia?

Mmm…

No, no. Gue ngga pernah bilang kita sedekat yang sampai tiap menit, tiap jam, tanya kabar ya. Kita chat kalau dirasa perlu aja. Kebanyakan, hampir selalu dia yang chat gue duluan. Gue sih ngga banget ya, chat cowok duluan kalau tujuannya buat ngemodus. NO!

Dari chat-chatnya juga dia ngga ngemodus, gue rasa. Pure mengomentari apa yang perlu dikometari tentang gue. Isi blog gue yang dewasa, foto profil gue, status gue. Dan ngga setiap blog, foto, dan status dia komentarin. Sewajarnya aja. Tapi seru, dan gue selalu excited untuk menanggapinya.

Lewat ini, gue ngga bilang gue berharap lebih, ya. Gue hanya menyampaikan kerinduan gue akan sosok orang itu, manusia yang bahkan batang hidungnya pun gue ngga tahu seberapa tinggi. Dilihat di foto sih ngga tinggi-tinggi amat. Tapi kan gue ngga tau aslinya.

Lewat tulisan ini, sekali lagi, gue memang gengsian banget orangnya. Bukan gue banget kalau bilang suka apalagi cinta sama seseorang, bukan gue banget. Tapi harusnya, ‘orang yang gue suka’ sih tahu. Tahu rasanya gue istimewakan. Siapapun itu, lewat cara sekecil apapun.

Please kalau kamu yang baca ngerasa tulisan ini buat kamu… Chat me, ya… Aku ngga pandai memulai 🙂 thankssss. Big thanks, malah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s