Why Do People Expect Too Much For Love?

Hai! How’s your holidays guys? 

Liburan gue cukup membosankan, jujur aja. Cuma makan, tidur, nonton film, nerusin project, mandi, makan lagi, nerusin project lagi, nonton lagi, baca novel sepenggal-penggal, makan lagi, tidur lagi.

Repeat.

Untuk sekian lama, akhirnya gue akan bercerita lagi. Gue menghilang, selama beberapa saat dari peredaran karena 1. HP ngga ada. Gue selalu on lewat laptop. 2. Paket internet ngga ada, jadi cuma bisa buka line dan google chrome sekali-kali, kalau adik gue sedang bersahabat. Ya. Handphonenya adalah sumber wifi bagi gue. Thanks, Pit!

Let’s begin!

Di atas, di kolom judul, sudah terpampang jelas pertanyaan yang sedang gue tanyakan, dan mungkin juga banyak ditanyakan juga oleh orang-orang, yang akan pula langsung gue jawab. Why do people expect too much for love? Gue sedang memikirkan soal pernikahan, sejujurnya. Itulah mengapa gue mempertanyakan ini.

Pemikiran gue mengenai pernikahan muncul karena project gue yang berawal dari mimpi beberapa hari yang lalu. Mimpi dalam dua hari berturut-turut, dan seingat gue, sebelum tidur gue tidak pernah memikirkan ini, taupun orang-orang di dalamnya. Di hari pertama, gue mimpi sedang berada di mall untuk persiapan fitting baju lamaran. Lah? Kok di mall ya? Mimpi ini cukup acak kadut juga, karena sebelumnya gue mimpi lagi di Bukit Moko, tau-tau gue ketemu seseorang (inisial M alias Mantan) di situ, dan gantilah seluruh atmosfer jadi mall. Terus gue beli baju, baju lucu-lucu, banyak lagi gue belinya. Eh tau-tau gue udah lamaran aja di tempat makan. Apa sih ini?

Ngga berapa lama gue terbangun.

Besoknya, gue mimpi sedang lari di tengah jalan raya yang kosong. Ngga ada mobil sama sekali padahal di siang hari. Awalnya gue pikir itu jalan di daerah Pemalang, arah ke rumah, nyatanya beberapa meter kemudian ada fly over dan gue lihat perempatan jalan dekat Baltos. Gue di Bandung. Terus, ngga berapa lama gue ketemu teman kelas gue di Fapsi, dia lagi lari juga. Lupa gue kita ngobrol apa, intinya setelah doi pamit, gue tiba-tiba inget gini, “Oh iya, kan gue udah punya suami. Kan gue udah nikah.” Terus yang lucunya, gue mempertanyakan siapa suami gue gini, “Siapa ya? A (A adalah inisial nama dari orang yang gue suka)? Oh iya kan A suami gue. Emang bener? Kapan kita nikah? Serius A?” hingga akhirnya gue tersadar bahwa itu hanyalah mimpi. Gue belum menikah. Gue ngga ngerti kenapa muncul si A ini sebagai orang yang gue pikir sebagai suami gue.

Apa dalam lubuk hati terdalam gue masih menginginkan A ya? DON’T THINK ABOUT IT AGAIN, MEL, PLEASE!

Lalu gue langsung mendapat insight untuk membuat satu tulisan tentang kisah menikah muda, yang di dalamnya terdapat kisah-kisah masa lalu antara gue dan si A. Kisah saat gue ngebet banget sama doi, maksudnya. Dan mulai hari itu, gue untuk yang pertama kalinya membayangkan hal kotor bareng dia, dalam sejarah hidup gue, bahkan ketika dulu gue masih menyukainya. I’m sorry. 

Gue harap sih project ini berjalan mulus, biar ngga sia-sia gue flashback kisah masa lalu yang membuat gue geli sendiri.

Di salah satu bagian cerita dari project, gue mempertanyakan, Why do people expect too much for love? tadi. Kenapa orang-orang berharap lebih dari hanya sekedar cinta? Kenapa harus dibuktikan dengan adanya pernikahan? Emang ngga cukup hanya sekedar mencintai satu sama lain?

Jawaban universal:

  1. Sunah rasul
  2. Menghindari zina

Ada lagi ngga?

Jawaban gue: Karena kita manusia.

Manusia punya kebutuhan untuk exist. Kebutuhan untuk ada dan diakui keberadaannya. Kalau ngga salah gue dapat materi tentang ini di pelajaran filsafat. Wajar dong, kalau ekspektasi kita terhadap cinta jadi lebih? Kalau hanya saling mengungkapkan tanpa adanya ikatan, emang ada jaminan kalau kita selalu ada di hatinya? Bahkan lelaki yang sudah menikah pun bisa jajan di mana aja, kok. Perempuan juga gitu.

That’s why, ada pernikahan. Untuk mengikat, untuk menunjukkan pada dunia bahwa dia loh cinta sejati gue. Dia loh, partner hidup gue. Dia loh, pemegang seutuhnya hati gue. Dia loh, yang kepadanya gue setengah mati mengorbankan seluruh hidup gue. Dan dia juga merasa demikian. Gue ngga bertepuk sebelah tangan.

It’s love. Cinta perkara berbagi, bukan memberi atau menerima. Perkara komunikasi, bukan berbicara. Perkara bersentuhan, bukan menyentuh. Perkara bertatapan, bukan menatap. Perkara keterkaitan, bukan independen. Perkara berdampingan, bukan sendiri.

Ngga masalah kalau kita berekspektasi lebih dalam hubungan yang kita jalani, karena ekspektasi adalah salah satu cara untuk tetap semangat, bertahan dalam segala kondisi yang ada. Yang salah, kalau kita ngga mampu mengukur probabilitas hasil yang nantinya akan keluar, atau kenyataan yang akan didapatkan dari jajaran harapan yang kita ingin wujudkan.

Contoh, ketika kita ingin menikah bulan depan, misalnya. Kita harus mikir, udah nemu orang yang cocok belum? Ada duit? Emang doi serius sama kita? Keluarganya gimana, setuju tidak? Doi punya sifilis, hiv/aids, mandul? Kalo jawabanya cenderung ke arah negatif, ya jangan nikah bulan depan kalau gitu.

Mangkanya ada cap “cowok PHP!”, kemungkinan besar adalah efek dari expect too much tadi. Ngga salah ya itu, karena sewajarnya manusia adalah begitu, punya rasa, punya hati, punya akal. Dan gue ngga menampik bahwa cap ini membuat banyak pro dan kontra baik dari pihak lelaki ataupun perempuan.

Ada… yang nyalahin perempuan dengan bilang, “Aku biasa aja kok, ke semua orang aku juga baik. Ceweknya aja yang salah tangkep.” Dude, you are not an angel, ngga ada gunanya baik ke semua orang. So, ada baiknya jaga sikap. Kalo ngga suka, tunjukin engga, kalo suka, tunjukin suka. Lebih baik cowok yang sok cool tapi tau-tau nyatain cinta dibanding cowok yang tebar pesona ke tiap penjuru dan teman chat ceweknya banyak, ya.

Kebanyakan perempuan malah lebih ekstrim karena nyalahin lelaki sampai ngamuk, sampai kebawa emosi, “Dianya aja yang chat-chat aku duluan, nanya kabar, ngajak jalan. Dia yang mulai. Ngga akan ada asap kalo ngga ada api!” Ladies, belajar bedain chat yang serius sama kamu dan yang buat have fun aja yuk! Lelaki juga butuh teman wanita, loh, sama butuhnya dengan wanita yang butuh pembalut. Walau musiman, tapi lebih dari itu kamu bisa sangat berharga. Itulah laki-laki.

Bukan gue bilang lelaki deketin perempuan kalo ada butuhnya aja, ya. Analogi pembalut ini intinya buat ngejelasin kalau teman wanita bisa jadi berharga bagi lelaki. Untuk nanya pendapat gimana cara menangani cewek PMS misalnya, untuk doi terapin ke pacarnya, untuk nanya kado favorit cewek, buat kado ke pacarnya di hari anniv. Berteman sesimple itu. Yang ngga simple adalah rasa hati yang bergulat, ya ngga sih? That’s why expect too much already killed you, actually.

Got the point?

Pertanyaan gue sudah terjawab. Ekspektasi lebih akan cinta itu wajar, sangat perlu menurut gue. Dengan itu, kebutuhan kita bisa sepenuhnya tercapai. Kebutuhan afeksi, seks, self-esteem, daan banyak lagi.

Yang ngga wajar adalah, sekali lagi, kalau kita belum punya pacar, tapi besok pengen nikah. Atau, besok berharap gaji naik, tapi kerja kecepatannya masih di bawah rata-rata. Atau, pengen nurunin berat badan demi mendapat hati doi, tapi masih aja makan keju dan susu berlebih.

Expect too much, untuk apapun bukan hanya untuk cinta, juga harus sejalan dengan effort yang kita keluarkan. Jadilah manusia yang rasional.

Selalu ingat ini ya!

pattern

So, be smart!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s