For A Better “Something”

Jatuh memang cara ampuh, cara terbaik, cara terkeren untuk bangun.

Gue sangat percaya bahwa kegagalan ada untuk sukses, seperti gue percaya bahwa bangun di saat kita sudah siap terbangun lebih baik dibanding bangun disaat kita harus bangun. Motto ini yang menyebabkan gue bangun siang mulu, nampaknya. LOL.

Tulisan ini memang terkesan defense banget. Tercipta untuk menyeimbangkan kembali diri gue dari kegagalan di masa lalu. Kekurangan, mungkin lebih enak dibaca. Kekurangan yang masih ada waktu untuk diperbaiki, dengan banyak belajar. Belajar baca textbook, belajar membagi waktu, belajar reflexing, belajar istirahat, belajar makan yang bener, belajar semuanya yang masih kurang pokoknya.

Sebelumnya, gue adalah anak yang ngga pernah cemas selama hidupnya, kecuali masalah percintaan. Cemas memang datang kalau kita berekspektasi lebih tapi usaha ngga ada, fyi. Gue selalu memandang hidup dengan serba gampang, segampang makan kalau laper, minum kalau haus, tidur kalau ngantuk. Segampang itu.

Hingga akhirnya Tuhan membiarkan gue terjatuh, dikerubuti lalat yang membawakan tulisan dalam kain besar yang digambar dengan emot thumb down. Luzer. Arti hidup gue mendadak hilang karena satu hal yang barub gue sadari ternyata cukup kompleks juga.

Terbukti satu hal, menyesal memang adanya di belakang. Kalo di depan? Aneh kali belum apa-apa sudah menyesal. Ngga optimis banget hidupnya haha. Canda.

Gue sangat percaya bahwa sukses ngga datang karena kebetulan, tapi kesempatan. Alexander Graham Bell, mengalami beberapa kali kegagalan dan penolakan sebelum akhirnya menciptakan telepon. Thomas Alfa Edison mengalami 9.998 kali kegagalan hingga akhirnya di percobaan ke 9.999 kalii berhasil membuat lampu pijar.

Paling deket, deh. Tante gue, dia jualan cireng isi ayam sudah beberapa tahun ini, dan sekarang sedang berkembang. Entah berapa kali aci, bumbu, minyak dan air yang habis digunakan untuk mecoba membuat satu adonan, hingga akhirnya dia menemukan satu resep yang pas, yang membuat cirengnya laris.

Cara terdekat untuk meraih kesuksesan adalah melalui kegagalan.

Dengan satu error, kita mengembangkan kemungkinan-kemungkinan error lain yang kemudian dengan sendirinya kita akan menyusun satu mekanisme, “gimana caranya biar salah kemarin ngga terulang”. Itu orang yang belajar.

Jatuh seharusnya sudah biasa, buat kita manusia yang sebenarnya. Bahkan orang kaya pun, yang katanya hartanya ngga akan habis tujuh turunan pun, ngga memungkiri kalau sewaktu-waktu ia bisa jatuh. Elegannya sih, walaupun harta turun temurun, tapi untuk memegangnya pun harus belajar banyak kan?

Kita ngga akan bangun kalau ngga pernah ngerasa jatuh. Sama halnya dengan sukses yang ngga pernah ada tanpa gagal. Lampu yang ngga akan pernah nyala tanpa percobaan. Telpon yang ngga akan pernah berdering tanpa penolakan dan lagi-lagi kegagalan. Cireng yang ngga akan pernah enak tanpa adonan yang terbuang.

For a better “something” (isi something dengan kata apapun), yuk kita hadapi kegagalan!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s