Another Pleasures (Me, as a Ravenclaw’s)

Hai! Hari ini, gue yang ngga pernah bertumpu pada hanya satu kesenangan, akan membahas sebuah kesenangan baru. Well, bukan baru banget sih. Lebih tepatnya baru suka lagi. Dulu banget, gue pertama kali menonton film Harry Potter ketika kelas 1 SMP (tahun 2007) –awalnya ingin membayar jasa teman dengan membelikannya DVD yang dia sukai. Gue meminta Papa membelikan film Harry Potter, karena film ini adalah favoritnya. Jaman dulu kan masih in banget tuh ya, nyetel kaset dan DVD. Papa beli dua kaset Harry Potter seri ke-3 dan ke-4, yang langsung gue tunjukkan ke teman gue itu. Dia memilih film seri ke-4. Great. Setelah gue menonton DVD ke-3 Harry Potter punya gue, seketika gue menyesal sudah memberikan kaset itu ke dia.

Lalu gue mencari tahu banyak tentang Harry Potter ini, dan mendapat banyak info. Oh. Ternyata ini adalah film dengan 7 seri. Which means… Oh God berarti ada seri pertama dan ke-dua yang gue lewatkan, dan ada seri ke-selanjutnya yang harus gue tonton.

Tukutuk kutuk…

Gue ke tukang CD bajakan di pasar, saking pinginnya gue nonton. Keinginan itu udah jauh di atas ubun-ubun, alias udah pengen banget. Sampai di tukang CD…

“Om, Harry Potter ada?” Gue bertanya ke penjaga kios CD bajakan itu. Dia langsung sibuk mencari koleksinya.

“Ini, dek.”

Gue melihat gambar satu plastik berisi cover DVD yang dia berikan ke gue. Ah! Cuma ada empat seri. Gue protes, “Yah. Yang ke 5, 6, 7 mana om?”

“Wah, ngga ada, dek.”

“Seriusan?” Gue mendesis kesal dan kecewa. Desa banget sih, film gitu aja ngga ada gini! Padahal ini film terkenal, masa ngga ada? Pikir gue dalam hati sambil manyun.

Gue berpikir untuk membeli, tapi gue ngga mau rugi karena membeli kaset yang tidak lengkap. Akhirnya, gue memutuskan pergi ke tukang DVD bajakan yang lain. Tetap ngga ada lengkap tujuh seri. Gue pulang dengan rasa kecewa.

Lalalala yeyeyeye…

Di tahun baru ke berapa gue lupa, gue nonton film Harry Potter empat hari berturut-turut di Trans TV yang memutarkan film itu dari seri pertama sampai seri keempat sebagai film spesial tahun baru. Gue happy!

Swaaah!

Setelah gue agak gedean, gue lupa tepatnya kelas berapa. Kayaknya awal-awal kelas 3 SMP deh. Gue menemukan satu majalah full yang isinya bocoran film Harry Potter ke-6 dengan judul Harry Potter and the Half-Blood Prince. Waktu itu, gue sama Kiki (teman gue yang dulu Harpot maniak banget), exited luar biasa!

Well, I just knew that… Harry Potter teryata belum dibuat film sampai tamat–tahun itu baru akan rilis seri ke-6. Untung gue langsung menyadari seketika itu juga, dan langsung bersikap “iya gue tahu, kok” ketika membahas ini dengan Kiki. Gue merasa malu pada diri gue sendiri karena minim banget pengetahuan gue tentang Harry Potter kala itu. Sampai koplak banget lagi, marah-marah ke abang kaset dua tahun yang lalunya HAHA. (untung kebegoan gue ini tidak ada yang tahu, setidaknya sampai sekarang.)

Udah.. Seperti sekarang dan sebelum-sebelumnya, gue ngga lama menyukai suatu hal. Harry Potter hanya angin lalu, dan gue juga ngga pengen-pengen amat –lebih tepatnya mungkin lupa kalau pernah ada Harry Potter, sampai gue duduk di bangku SMA, awal kelas 3 (kira-kira tahun 2012), ketika gue mendapati salah satu teman gue punya ke-tujuh seri film Harry Potter di laptopnya.

Gue langsung mengopinya, dan menonton dengan damai. Seketika itu, gue langsung menobatkan Harry Potter sebagai film terkeren dan terfavorit sepanjang masa yang pernah gue tonton saat itu –sampai sekarang gue masih terkagum-kagum sih sama film ini.

Setelah SMA itu, gue cukup tahu sampai, oh filmnya udah tamat. Gue suka, ini favorit. Yaudah, gue ngga mencari tahu lebih banyak.

Satu tahun ya lalu, entah dari mana, gue mendapatkan info mengenai website pottermore.com yang isinya all about harry potter. Di sini kita ngga hanya membaca artikel terkait kisah Harry Potter (sejarah, tempat, tokoh, games, dll), tapi di sini kita juga bisa jadi anak Howarts beneran!

Sebelumnya, gue pernah membuat akun di pottermore dan langsung mencoba petuntungan nasib gue di sana. Gue ikuti beberapa tes untuk masuk ke asrama. Jajjaaangg!

raven

Anak-anak yang masuk asrama Ravenclaws adalah anak yang pandai dan kreatif, serta bijaksana, seperti sifat pendirinya yaitu Rowena Ravenclaw. Quotes Rowena: “Kepintaran yang luar biasa adalah harta yang paling berharga.”

Yeah yeeaahh! Ini asrama gue! Di sini, gue digambarkan sebagai orang yang kreatif (hampir 80% tepat), dan menarik –well, mereka yang masuk Ravenclaw digambarkan sebagai orang yang kreatif, menarik, unik. Seperti Luna Lovegood yang tampilannya unik dan artistik banget (hobinya melukis, fyi). Ada Cho Chang juga yang merupakan orang pertama yang menarik hati Harry Potter. Sejauh ini tokohnya keren-keren, ya. WHEHEHE.

Selain itu, gue juga sudah resmi punya tongkat sihir! Tattaraa!

wanddd

Well, I’ll describe my wand soon, ya!

Nampaknya, sekarang gue akan keranjingan kisah Harry Potter lagi, karena beberapa saat yang lalu gue mendeklarasikan sebuah project yang isinya “Gue, sebagai anak Hogwarts”. Dan tentunya, proyek ini akan gue jadikan ide utama dari action plan gue nomor 6 lewat menjelaskan secara rinci postingan di dalam pottermore.

It’s just a dream when you think that all pleasures, all magical lives, all funny games, are around you in facts. Because actually all pleasures are about us and our minds.

So, never stop dreaming!

Xoxo ^^,


Source: Pottermore.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s