Freedom Projects

Be who you are and say what you feel because

those who mind don’t matter

and those who matter don’t mind.

— Dr. Seuss

People’s Belief: “Anything I believe ya the best.”

Sesuatu yang manusia percayai datang bisa dari mana aja. Lingkungan, dan keluarga sih yang utama. Kemarin saat gue pulang –tepatnya setelah terjadi teror bom di Jakarta, gue sempat menonton acaranya Dedy Corbuzier yang membahas tentang itu dari sudut pandang Psikologi.

Satu hal yang gue tandai betul-betul adalah ketika pembawa acara bertanya, “Jadi sebenernya kepercayaan kita juga dibentuk sama keluarga kita ya? Misal orang hindu, ya dia yang dari dulu orang tuanya hindu. Budha, muslim, juga begitu. Berarti sebenernya kebebasan itu ngga ada?”

Sang psikolog menjawab sambil mengangguk, “Ya.. Itu kan nurture ya. Jadi bla bla bla…” Tapi beliau tidak membahas masalah “kebebasan”, yang sebenarnya ditanya.

Seketika gue ingin menjawab, “Selama ia masih terikat oleh suatu norma, agama, aturan, yaaa manusia ngga akan pernah bebas.” This statement truly came from my minds. Ignore it when what do you think in your minds wasn’t same as mine. Boleh juga langsung tutup web browser kalian.

Suatu pandangan yang normatif, apalagi, membuat kita ngga akan pernah bebas untuk melakukan apapun yang kita mau, kecuali kalau kita “ingin menjadi berbeda.” Dan hal terkejam di bumi adalah bukan ketika kita menjadi satu orang yang berbeda dengan lingkungan kita, “tapi ketika lingkungan kita tidak menerima itu.”

Terus baca, kalau kamu menghargai pilihan seseorang walaupun apa yang ia lakukan melenceng dari apa yang kamu percayai. Catatan: Lanjut, berarti kamu siap menerima dan ngga akan pernah protes dengan apa yang saya tulis. Kok jadi formal gini? Haha.

Pilihan adalah seluruh hidup kita. Kita bangun, di pagi hari. Habis itu mau ngapain? Mandi? Atau tidur-tidur santai sambil lihat smartphone? Atau tidur lagi? Ketiga itu, dan berbagai macam kemungkinan lain adalah pilihan.

Mau tidur di kelas, mau perhatiin dosen, mau keluar ke kamar mandi atau ditahan sampai kelas beres, mau ngobrol sama temen… Itu pilihan, dan apapun, seburuk apapun hidup kita, semuanya adalah pilihan.

Jadi, jangan lagi megeluarkan pertanyaan dengan kata “Why?” sambil menatap objek yang kamu pertanyakan dengan tatapan menyesal apalagi kecewa; apalagi marah; apalagi ngeijudge, kalau kamu –seenggaknya walaupun sedikit–menghargai pilihan orang lain. Seringkali, jawaban dengan kata awal “karena” begitu sulit diungkapkan, sesulit kamu yang sedang sembelit. Mules, tapi ngga bisa pup. Tahu jawabannya, tapi ngga bisa menjelaskan.

Suatu perubahan seringkali dianggap negatif–sekali lagi–ketika perubahan itu bertentangan dengan kepercayaan yang dianut oleh seseorang/orang lain. Padahal perubahan itu juga pilihan, loh. Baik atau buruknya perubahan ya ada di kepala kita, di kepercayaan kita. Bukan emak, bapak, apalagi kakek dan nenek kita.

Bilang tulisan ini defense, bagi kamu yang masih kecewa apalagi geleng-geleng kepala keheranan, dan tanya pada diri kamu sendiri, “Perubahan terburuk dalam diri kamu apa?” lalu jawab, sesuai pengalaman kamu. Pasti beragam jawabannya. Dan gue yakin bahwa sebagian besar dari jawaban kamu adalah “sesuatu yang dicekal/dianggap buruk/tidak sesuai/apapun itulah namanya oleh lingkungan kamu.”

Itu yang gue rasakan. Ngga usah dijelasin apa, gue yakin sebagian besar tahu. Bukan gue terlalu percaya diri karena merasa jadi orang paling dikenal di muka bumi, tapi terbukti dari beberapa tanggapan orang ke gue tentang perubahan gue.

Kecewa pasti, gue juga. Sangat. Gue malu sama diri sendiri. Kenapa? –ini ngga usah ditanya lagi sih, seharusnya–Karena gue tahu yang benar, tapi gue ngga lakuin itu. Dan itu adalah bagian tersakit menjadi manusia. Gue rasa sakit cukup bisa merepresentasikan.

Pembukaannya sudah terlalu panjang. Gue menulis ini bukan karena gue ingin dimenerti, tapi sejujurnya intinya gitu. So, stop asking me why, please. Terima aja, ungkapin kekecewaan di belakang, itu akan jauh membuat gue lebih baik.

Bicara kebebasan, gue yang masih awam, yang kata orang masih mencari jati diri, hanya bisa mengartikan suatu kebebasan sebagai rasa nikmat ketika kita berhasil melakukan sesuatu hal yang ingin kita lakukan, tanpa adanya protes dan omongan dari orang lain–padahal gue sadar betul, kebanyakan manusia di bumi penuh perhatian, sampai membuat dia mau tauuu, mau komeen terus urusan orang lain. But that’s OK. Gue juga begitu. Gue kan manusia.

So, balik lagi ke judul di atas, postingan ini gue buat untuk mendokumentasikan action plans gue demi memenuhi resolusi nomor terakhir gue di tahun 2016. Seperti yang sudah tertulis sangat jelas di postingan itu, konteks kebebasan yang gue maksud di sini yaitu “mengekspresikan diri”.

Gue ingin menjadi diri gue yang sebenarnya, jadi yang harus gue lakukan adalah:

  1. Tatap lurus ke depan, ketika sedang berjalan
  2. Dilarang mengepalkan telapak tangan
  3. Jalan dengan langkah lebar dan cepat
  4. Sapa semua orang yang dikenal ketika ketemu, jangan melengos apalagi menghindari seperti orang yang punya salah–atau lebih parahnya punya utang.
  5. Terakhir, kalau ngga bisa melakukan keempat tips di atas, segera cari tempat untuk menyendiri.

Percayalah, gue sedang belajar bangaimana menghadapi hidup sesuai dengan apa yang sudah jauh-jauh hari gue pikirkan, dan akhirnya gue pilih. Seharusnya kamu juga melakukan hal yang sama kan?

Semangat untuk menjalani hidup, karena yang kita punya adalah hari ini. Kemarin sudah berakhir, pun masa depan ngga ada yang bisa menebak. Terakhir…


Picture’s HERE.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s