Thought: What Do You Think About LGBT?

rainbow-pride-gay-lgbt-flag

Ini adalah salah satu postingan paling tidak direncanakan, yang pada awalnya gue bingung akan judul yang harus diberikan. Intinya sih, gue ingin mengemukakan pendapat gue tentang isu yang tiba-tiba hangat (lagi) setelah sempat redup–ini gue ngga tahu sih awal mulanya kenapa ini jadi HOT banget (lagi) sekarang. Someone please tell me the beginning. In fact! (Kasihanilah orang yang di kostnya ngga ada teve ini hikss.)

Sejujurnya, gue sudah mengerti istilah LGBT ini sudah lama, jauh sebelum gue jadi anak psikologi. Waktu gue SMA, sering banget gue mendengar istilah ‘maho’ alias manusia homo yang dijadikan bahan lelucon, dan sempat membuat gue bertanya-tanya, “Apa lucunya?” Bukan mau buka kedok, gue punya orang terdekat yang mengalami persoalan ini. Jadi gue paham betul bahwa masalah orientasi seksual apapun itu namanya, bukan hal yang patut ditertawakan.

Jadi, apa itu LGBT?

Singkatnya…

LLesbian, cewek suka cewek.

GGay, cowok suka cowok.

BBisexual, suka cewek juga cowok.

TTransgender, cewek jadi cowok atau cowok jadi cewek.

Sebelumnya, kalau ada tokoh agama yang baca, atau orang straight yang selalu apa-apa bawa agama, sorry to say, gue bukan mau menghardik pendapat kalian, tapi selayaknya kepercayaan yang akhirnya memetakan kita dalam agama-agama tertentu, LGBT juga demikian. Rasa itu, menjadi seseorang dengan orientasi seksual yang berbeda dengan norma yang berlaku dalam lingkungannya, juga merupakan kepercayaan bahkan kebenaran yang dirasakan di luar kemampuan batas manusia itu sendiri.

Agama, gue sudah pernah mengemukakan pendapat gue tentang itu sebelumnya, bahwa agama itu beyond our spirituality. Kepercayaan bukan sesuatu yang harus diperbincangkan pun dipertanyakan, karena masing-masing orang punya hak untuk menentukan kepercayaannya. Lewat apa? Orang tua kita? Jangan salah. Banyak orang yang pindah agama. Dan itu adalah hati yang memilih.

Sama seperti LGBT, mereka punya hak untuk memilih sesuai dengan kehendak hati mereka. Di luar kemampuan mereka, di luar batas mereka, dan itu pilihan mereka.

Sebelum bicara terlalu banyak –gue sendiri pun sangat berhati-hati membicarakan ini karena ini opini yang gue punya, setelah membaca banyak bacaan lewat internet dan memutar otak untuk mengingat materi yang pernah disampaikan dosen gue terkait ini–yuk ketahui dulu beberapa perbedaan mendasar dari beberapa hal di bawah ini:

genderbread

Source: HERE.

  1. Gender identity

Gender merujuk pada satu peran dalam lingkungan sosial. Laki-laki berperan sebagai kepala keluarga dengan bekerja, mencari nafkah –artinya dia bersifat maskulin, lalu perempuan berperan feminim — lemah lembut. Gender identity ini bukan jenis kelamin, ingat! Dia adanya di atas, di kepala manusia. Artinya, gender identity adalah apa yang kamu pikirkan tentang diri kamu, peran seperti apa yang akan kamu jalani dalam kehidupan kamu.

Gender identity terbagi menjadi tiga. Man ketika dia  berperan sebagai pria–mencari nafkah, lalu woman ketika dia perperan sebagai wanita –masak; bersih-bersih rumah; cuci baju; menjaga anak, dan genderqueer ketika dia merasa bahwa identitas dirinya tidak sesuai dengan norma yang ada di lingkungan sosialnya. Si genderqueer ini seringkali bingung dengan identitas dirinya sehingga tidak dapat memastikan perannya dalam lingkungan sosial. Mereka tidak dapat mengidentifikasikan diri sebagai lelaki atau perempuan sejati, itu mengapa mereka ada di tengah-tengah.

Tapi orang dengan gender identity yang berkebalikan dengan jenis kelaminnya belum tentu LGBT. Contoh: Mas-mas di salon kecantikan. Biasanya suka ada kan cowok yang kerja di salon? Kadang ada yang bener-bener masih mas-mas, ada juga yang udah bapak-bapak. Bekerja di salon dianggap normal bagi kaum wanita, namun tidak untuk lelaki. Tapi faktanya, mas-mas salon juga ada yang punya istri dan anak.

Jadi kalau ada yang bilang bahkan sampai men-cap seperti, “Ih cowok kok suka masak? Dasar gay!” atau “Ih kok cowok jadi designer baju perempuan? Dasar gay!” itu tandanya pikiran itu masih perlu diluruskan.

2. Gender expression

Ada ngga yang pernah bilang gini, “Ih, lekong!” ke orang yang ngga sengaja ditemui di tempat umum? Nah, lekong ini pasti kamu lihat dari tampilannya kan? Lelaki dengan cara berjalan yang gemulai, pakai baju warna pink, gesture keperempuanan. Ini yang dinamakan dengan gender expression. Tampilan –apa yang dilihat, yang membuat dia seolah-olah tampak seperti lelaki atau perempuan.

Gender expression ini dibagi tiga: Feminine, masculine, dan androgynous –di tengah-tengah, bisa jadi keduanya.

Seseorang yang terlihat ke-lelaki-an atau-ke-perempuan-an, mereka juga belum tentu masuk ke dalam salah satu kategori LGBT. Bisa jadi memang penampilannya seperti itu. Bisa jadi memang dia (seorang laki-laki) menyukai warna pink, sehingga dia sering memakai kemeja dengan warna itu ke manapun dia pergi. Bisa jadi, penampilannya adalah tuntutan kerja yang mau ngga mau harus dia jalani.

Contoh orang dengan Gender expression yang berkebalikan dengan jenis kelaminnya yaitu Ivan Gunawan. Seperti yang semua tahu, tampilannya ke-perempuan-an kan? Seringkali dia tampil di muka publik dengan memakai pakaian model perempuan, berjalan lenggak lenggok gemulai, cara bicaranya ngondek. Tapi faktanya? Dulu doi pacaran sama Rossa, dan dia juga pernah digosipkan dekat dengan beberapa perempuan.

Satu lagi deh, contohnya. Mitha The Virgin. Cewek kan dia? Tapi penampakannya cowok banget kan? Itu dia ekspresi gendernya. Dan sekali lagi, belum tentu dia lesbian.

Jadi, kalau sampai saat ini masih ada yang berpikir orang yang terlihat sejenis dengan Ivan Gunawan dan Mitha The Virgin itu pasti LGBT, yaa coba cari-cari banyak jurnal deh, biar bisa berpikir lebih ilmiah.

3. Biological sex

Ini dia penandaan seseorang lelaki atau perempuan melalui biologisnya, yaitu melihat dari jenis kelaminnya. Lelaki memiliki Mr. P dan perempuan memiliki Miss V. Tanda biologis ini juga ditandai dengan adanya hormon-hormon dalam tubuh manusia. Ada testosteron pada lelaki, dan estrogen juga progesteron pada perempuan, yang secara alamiah membuat seseorang terlihat seperti lelaki maupun perempuan.

Dan ini adalah takdir yang tidak bisa dielakkan.

Jenisnya ada tiga. Male, female dan intersex. Intersex ini yang dikenal dengan kelamin ganda.

4. Sexual Orientation

Nah ini dia! Dari sini baru deh kita dapat mengidentifikasi/mencap/ melabeli/menyebut seseorang itu sebagai LGBT atau bukan. Bukan dari tampilannya, peran sosialnya, apalagi jenis kelaminnya, seseorang disebut LGBT dilihat dari orientasi seksualnya.

Orientasi seksual adalah kepada siapa kamu secara fisik, seksual, dan emosional tertarik baik dengan lawan jenis maupun sejenis.

Sexual orientation ini ada tiga. Pertama, heteroseksual. Ini adalah jenis hubungan yang dianggap paling normal yang diakui oleh dunia. Menyukai lawan jenis, artinya lelaki tertarik secara fisik, seksual, dan emosional kepada perempuan, begitu juga sebaliknya.

Kedua dan ketiga, homoseksual dan biseksual. Di sini LGBT berada. Homoseksual adalah mereka yang secara fisik, seksual, dan emosional tertarik dengan sejenis. Ketika lelaki menyukai lelaki (gay) dan perempuan menyukai perempuan (lesbian). Lalu biseksual, ketika seseorang menyukai lawan jenisnya, pun orang sejenisnya. Mereka inilah yang sekarang sedang digembar-gemborkan publik (lagi).

NAH!

Dari sini kita bisa melihat bahwa untuk menebak-nebak apakah seseorang itu LGBT tidak semudah mengidentifikasi buah melon di dalam deretan buah semangka (artinya ya emang ngga ada kan? karena kita tahu melon itu bentuknya beda dari semangka). Makanya kalau ada yang menebak-nebak sesorang sampai mencapnya sorang LGBT, itu adalah pikiran awam.

Dan untuk mengaku pada dunia bahwa mereka punya keanehan dalam normanya, itu sulit. Ada beberapa tahapan yang harus mereka lewati dengan kebimbangan dan banyak pertimbangan. Mungkin bagi mereka hidup adalah bagian tersulit dari hanya sekedar bernapas, bahkan jauh lebih sulit.

Gue sebagai manusia biasa –yang sedang berusaha “mengenal” manusia lain lewat belajar di Fakultas Psikologi, sekaligus manusia yang menghargai perbedaan dan kebebasan, menganggap bahwa fenomena LGBT itu sudah biasa, makanan sehari-hari, dan itu bukan masalah. Bukan gue ngga peduli, justru sebaliknya. Itu cara gue menghargai seseorang. Bukan dengan stigma tertentu, bukan berdasarkan idealisme tertentu.

Fenomena LGBT sudah ada sejak dahulu kala. Dan yang namanya fenomena ya sudah menyebar meraja lela ke penjuru. Ibarat gas, fenomena itu sudah menyebar dan menyatu ke udara. Mau diberantas, mau diilangin, ya susah pol. Mau orang-orang demo, apalagi hujat yang bersangkutan juga perkara itu ngga akan hilang dengan mudah. Dia butuh semua merasakannya, seperti gas yang minta orang menerimanya dengan menghirupnya tanpa batuk, tanpa tutup hidung. Dan mau ngga mau orang juga harus terima kan kalau ngga mau mati karena saking kuatnya nahan napas?

Begitu. Yang namanya ketertarikan dan cinta itu mekanisme otak yang semua orang alami kok. Tanpa terkecuali. LGBT juga sama seperti kita yang memiliki orientasi seksual dengan lawan jenis. Dia juga manusia yang terlahir dengan mekanisme biologis yang sama seperti semua manusia di muka bumi ini. Dari mulai pencernaan, pernapasan, sampai mekanisme yang membuatnya tertarik kepada orang lain even itu kepada sesama jenisnya.

Love is psychological reaction when our lymbic system is active and

our frontal cortex stops.

— Kang Aul, 2016

Kang Aul ini adalah salah satu dosen favorit di kampus, spesialisnya health psychology. Beliau menyampaikan kata-kata indah di atas ketika menjelaskan materi terkait mata kuliah metpen II di kelas, membuat kami sekelas mengangguk serentak. Ada yang sambil senyum, ada yang dengan semangatnya bilang “Nah! Iya bener juga.”, ada yang kebingungan + bertanya-tanya penasaran kayak gue karena kelupaan apa fungsi sistem limbik dan frontal cortex… HEHE ._.

Hmmm… Setelah gue cari-cari,

Sistem limbik itu tempat amygdala berada. Ya, dialah empunya emosi. Di sini pengaturan emosi seperti marah, sedih, senang, semua diatur. Selain ada amygdala, sistem limbik juga mengatur fungsi mental yang lebih tinggi seperti belajar dan memori. Sedangkan bagian frontal cortex ini terletak di bagian depan otak kita yang berperan penting dalam membuat keputusan, juga pemecahan masalah.

Itu dia kenapa keluar istilah “cinta itu buta”, karena seringkali orang yang jatuh cinta tidak dapat mengambil keputusan dengan benar, bahkan cenderung berpikir irrasional —menghalalkan segala cara. Yang penting, “Da aku mah kieu sama dia”. Kalau cinta ya udah. Pokoknya dia segalanya buat aku. Gitu kan? Dan ini dijelaskan secara ilmiah.

Ketika kita jatuh cinta atau tertarik dengan seseorang, sistem limbik kita menggebu-gebu –membuat diri kita dipenuhi oleh berbagai emosi yang “tidak dapat kita definisikan” sendiri sebenarnya emosi macam apa itu–sedangkan otak bagian depan kita berhenti, hingga kita kebingungan, dibutakan, membuat diri sendiri seringkali kurang tepat dalam mengambil keputusan.

Itulah sebabnya mengapa proses itu —even pada LGBT– normal dialami oleh seluruh manusia di muka bumi ini. Mekanisme biologis kita sama, dan itu ngga aneh walaupun orientasinya ke sesama jenis. Karena yang namanya ketertarikan ngga bisa dikotak-kotakan hanya karena kita ingin atau karena norma yang berlaku di sekitar, tapi itu semua sudah tertata dalam mekanisme otak kita.

Dan kebutaan itulah yang terjadi pada LGBT. Sama seperti kita (bukan LGBT) yang tergila-gila dengan kekasih pujaan hatinya kan? Mau jelek, mau selengekan, mau bodok, kalo udah jatuh cinta kita bisa apa?

So, apa bedanya LGBT dengan manusia lainnya?

Ngga ada.

Now, whaddaya think about LGBT?

Contact me for more discussionsI’m avaliable and open minded enough, kok 🙂


Source:

The Genderbread PersonThe Limbic System | Frontal Lobe | Frontal Lobe | Urban DictionaryLectured by Mbak Rosi dan Mbak Eka di kelas Temu Ilmiah Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran | Lectured by Kang Aul di kelas Metodologi Penelitian II | Flag |

Advertisements

2 thoughts on “Thought: What Do You Think About LGBT?

  1. LIQ says:

    Seumpama ada temuan ilmiah yang menyatakan bahwa babi itu menyehatkan, bukan berarti hukum haramnya makan babi bagi seorang yang muslim jadi hilang. Tapi muslim tetap menghormati orang yang makan babi.
    Kalaupun ada temuan ilmiah di bidang psikologi, biologi, atau logi2 lain yang mendukung kenormalan LGBT, bukan berarti hukum haram perilaku LGBT itu pun jadi hilang.
    Setuju dengan salah satu quotes yang ditulis diatas bahwa “cinta itu buta”, (karena pernah ngerasain juge hehe). But, one more quotes about blind yang mungkin udah ga asing juga yaitu ilmu tanpa agama juga buta 🙂

    • christamelia says:

      Haram atau tidak, dosa atau tidak, saya ngga mau komentar. Yang ingin saya tekankan di sini adalah “How to treat them well, like a human.” Tanpa “bilang” mereka salah ditambah embel-embel agama, norma lingkungan, apapun deh yang ideal di sekitarnya. Saya yakin mereka tahu bahwa mereka aneh, mereka salah. Dan apa yang orang lakukan ketika dia tahu bahwa dia salah, sumpah mati dia salah dan wajib dihukum, tapi masih saja orang di sekitarnya mengatai/mengomentari/meneriaki/judge bahkan sampai menjauhinya?
      1. Dia lapang dada dan siap berubah demi diterima sekitar (kemungkinannya sangat kecil menurut saya, kecuali pada mereka yang masih di tahap kebingungan)
      2. Dia flight, bodo amat (kemungkinan ini besar pada mereka yang sudah coming out, benar-benar sudah menemukan identitas dirinya)
      3. Depresi (ini kemungkinan besar yang dapat terjadi pada mereka, pada apapun tahapannya, mau ketika masih dalam masa pencarian maupun ketika sudah menemukan).
      Semua yang terjadi dalam diri mereka bukan sesuatu yang ujug-ujug muncul. Itulah mengapa saya membuat postingan ini, harapannya agat tidak ada lagi yang “menggurui” tapi menerima. Paling engga kalau bertahan pada prinsip “ngga setuju akut”, janganlah sampai memandang mereka dengan cacian. Toh kalau mereka ingin berubah, saya yakin mereka akan datang pada ahlinya untuk minta bantuan langsung. Percaya deh! 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s