Thought: What Do You Think About Desire?

6571a99ec7e6b7ad768f6851bba5615f_large

Source : HERE.

Ini judul yang sangat berani, sejujurnya. Diawali rasa penasaran berlebih akan “apa itu cinta?” yang selalu gue pertanyakan pada dunia, dan akhirnya… sampai sekarang belum menemukan penjelasan kongkrit tentang cinta. Ya iyalah… secara cinta memang sesuatu yang abstrak, yang sulit diraba, sulit dideskripsikan.

Dan gue pikir cinta selalu terkait dengan satu hal ini: desire. Ini yang sedang gue pertanyakan: What do you think about desire? Apa yang kamu pikirkan tentang gairah? Apa itu gairah? Apakah sesuatu yang porno? Kewajaran? Ketidakwajaran?

Of course sebagai orang yang sudah dewasa, kita semua mengerti, gairah seperti apa yang dimaksud di sini. Gairah yang bukan perkara keinginan untuk makan minum mandi, bukan perkara kebutuhan untuk berteman apalagi menjalin persahabatan, tapi desire yang muncul ketika kamu ingin memeluk seseorang, meraba, merasakannya dalam tubuh kamu.

Kebayang?

Sebelum membahas lebih jauh tentang gairah, yuk bedakan dulu antara sex and sexuality yang kerapkali di-sama-artikan. Awalnya pun gue ngga tahu bahwa dua hal ini berbeda. Tapi sekarang gue tahu, seiring rasa penasaran gue yang begitu dalam mengenai hal terkait seksualitas (dulu gue bilangnya seks).

Seks adalah jenis kelamin, secara biologis. Perempuan punya vagina, laki-laki punya penis. Sedangkan seksualitas itu luas banget cakupannya. Ada secara biologis yang berkaitan dengan organ reproduksi dan alat kelamin; terus psikologis yang berkaitan dengan perilaku manusia sebagai makhluk seksual, perannya, serta dinamikanya terhadap seksualitas itu sendiri; terus sosial yang erat kaitannya dengan hubungan seksual yang muncul dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat, seberapa berpengaruh di lingkungan; lalu kultural yang menunjukkan bahwa perilaku seksual merupakan bagian dari suatu budaya (dalam sini).

Luas banget. Pokoknya kalau ngomongin seksualitas bisa terkait banyak hal deh.

Intermezzo sebentar. Gue tetiba teringat bahwa dulu gue pernah mendeklarasikan diri gue sebagai “pakar seks”. Gue pikir ngga aneh, tapi setelah gue tahu perbedaannya… masa iya gue pakar alat kelamin? Gue bukan mau jadi dokter spesialis kelamin, dan memang bukan itu yang gue maksud.

Oke, lanjut lagi.

Bicara tentang gairah, yang wajib semua tahu adalah bahwa gairah yang sedari tadi dimaksud itu ngga ujug-ujug muncul. Ini murni datang dari bawaan kita sebagai manusia, bukan sebuah kesalahan. Normal terjadi pada manusia.

Dan ini diteliti oleh banyak peneliti, salah satunya Masters dan Johnson yang melakukan penelitian dengan mengumpulkan langsung data observasi dan pengukuran psikologis dari orang yang masturbating dan melakukan hubungan seksual (dalam buku Abnormal Psychology Edisi 12 nya Prof. Kring dkk, halaman 365).

Masters dan Johnson (1966) ini mengemukakan siklus respon seksual manusia lewat penelitian yang mereka lakukan. Model ini terkenal dan banyak dipakai di pertengahan tahun 60-an. Dalam siklus respon seksual ini, Masters dan Johnson membaginya ke dalam empat fase, exitement, plateau, orgasm dan resolution. Fase ini terjadi dalam satu garis lurus dimana tiap fase terjadi setelah fase lainnya (dalam sini).

Singkatnya, Kaplan (1974) mengkritik dan menyempurnakan pendapat Masters dan Johnson, serta mengidentifikasi bahwa ada empat fase dalam siklus respon seksual seseorang, dan bentuknya tidak linear, tapi seperti ini:

Desire

Kaplan’s sexual response cycle, ilustrated by me on HERE.

Desire Phase.

Fase ini ditandai dengan munculnya ketertarikan seksual atau gairah seksual yang terasosiasi dengan fantasi seksual atau pikiran-pikiran porno. Ini adalah gairah yang sebelumnya kita maksud, dimana gairah ini muncul secara alami, normal pada semua manusia.

Agar lebih mudah memahami dan membedakan tiap fasenya, gue membuat sebuah ilustrasi lucu yang cukup menggambarkan siklus ini. Desire itu ibarat kelinci yang sedang kelaparan, lalu melihat wortel. Dia jadi mupeng, jadi tambah pengen banget makan wortel. Keinginan itulah yang dimaksud desire atau gairah.

Pada manusia jelas, desire datang diiringi bisikan-bisikan dahsyat yang membuat kita membayangkan hal-hal porno seperti naked man/woman, kissing, necking, atau fantasi perilaku seksual apapun. Seperti kelinci yang kelaparan, se-ingin-itu-loh “makan” wortel.

Excitement Phase

Pada fase ini, fantasi seksual menyenangkan yang ada dalam pikiran tadi, semua itu berhasil membuat aliran darah meningkat ke organ genital. Pada pria, aliran darah menuju satu titik, yaitu penis, membuatnya mengalami ereksi. Pada wanita, meningkatnya aliran darah ini mempelopori munculnya tanda-tanda fisik seperti menegangnya payudara, serta lelehnya cairan lubrikasi dalam vagina.

Di sini kenaikan garis diartikan sebagai hubungan secara biologis terhadap tubuh seseorang. Di mana pada fase ini, tubuh semakin menegang dan semakin memunculkan hawa-hawa “ingin menyalurkan” keinginannya, ingin membuat dirinya terlepas dari kegelisahan.

Digambarkan sebagai burung yang menuju awang-awang, fase ini pun begitu. Seperti burung yang sedang beranjak ke tingkat tertinggi, se-sulit-itu untuk “menahan” gejolak dalam fase ini. Apalagi untuk pria, karena tanda-tanda biologisnya begitu jelas. Iya nggak, dude?

Orgasm Phase.

Ini adalah fase yang membawa kita ke surga, ke dalam suatu kesenangan yang sangat. Fase ini merupakan puncaknya kenikmatan. Sesuai ilustrasi, dalam fase ini kita serasa di bawa ke atas langit, bertemu bulan dan bintang, begitu indah dirasa.

Fase ini ditandai ejakulasi pada pria, dan konstraksi dinding vagina pada wanita.

Resolution Phase.

Fase terakhir merupakan fase relaksasi, di mana perasaan bahagia dan kesejahteraan muncul karena lepasnya hormon kesenangan dari otak dan menyebar ke seluruh bagian tubuh. Setelah di bawa ke awang-awang, ke surga, ke bulan dan bintang, fase relaksasi muncul, mengingatkan bahwa kita masih di bumi, kita harus istirahat.

Dan yang namanya siklus, fase-fase ini terus berulang selama manusia masih hidup.

Itu dia keempat siklus pergairahan… Hm… Sexual Response Cycle dari Kaplan intinya gitu. Dan itu dijelaskan secara ilmiah, membuat kita mengerti bahwa ini semua normal dihadapi manusia, buat yang sudah menikah ataupun belum.

Dewasa ini… *Maaf formal dikit, biar agak ilmiah wkwk* kita sering dikejutkan oleh banyak permasalahan terkait desire —yang muncul dan disalurkan belum pada waktunya– dalam lingkungan sehari-hari. Contoh, seks bebas di luar nikah. Ini sangat memprihatinkan, melihat Indonesia adalah negara dengan budaya bermoral.

Rabu 2 maret 2016 lalu, gue mengikuti sebuah pembahasan yang sangat menarik minat gue terkait seksualitas yang diadakan oleh DKM Ath-Tholibin dari Fakultas Psikologi Unpad yang menghadirkan sumber hebat di bidangnya. Tema dari diskusi ini adalah “Fitrah Seksual”. Di sini kita membahas seputar fenomena terkait desire dan pemuasan yang belum pada waktunya, khususnya di Jatinangor, juga pertanyaan-pertanyaan yang kerapkali muncul dalam benak kami –gue pribadi.

Beberapa contoh kasus dibahas:

(T= Tanggapan oleh dosen)

S : Saya melihat teman saya (pria), mantan anak pesantren, bawa perempuan ke kostnya. Bahkan saya mendengar bahwa di sini, itu sudah biasa.


T : Memang. Fenomena ini ada di sekitar kita, terbukti, ada satu fakta menarik tentang selokan mampet. Di desa *tuut* pernah ada kasus selokan mampet, dan ketika di cek, ternyata isinya kondom-kondom telah pakai. Banyak. Ini menjadi sesuatu yang sangat mengejutkan, melihat bahwa kita hidup di lingkungan belajar, lingkungan kampus. Merasa bebas, bisa jadi ini yang membuat anak rantau bersikap demikian. Beda. Di rumah dia diawasi, di tempat yang jauh dari rumah? Dan apa yang terjadi ketika keinginan itu muncul? Ya dilampiaskan begitu saja, tanpa pikir panjang, pokoknya “di sini aing bebas”, maka terjadilah.

Lagi…

A: Saya menemukan kejadian yang mengagetkan di Pau* yaitu dua orang wanita berciuman. Bagaimana saya menangapinya?

B: Bahkan saya pernah lihat di masjid. Apa yang harus saya lakukan?

C: Saya punya teman, dia mengaku pada saya bawa dia seorang lesbian. Dia memasang foto mesra dengan pacar lesbiannya, dan berganti-ganti pasangan. Tapi dia juga main sama lawan jenis, dan perpindahannya begitu cepat. Dia tinggal serumah dengan lawan jenisnya, itu pacarnya, dan mengaku mereka sering melakukan hubungan intim. Saya pikir dia sudah kembali sesuai kodratnya, perempuan dengan lelaki. Namun beberapa bulan kemudian, dia kembali berpacaran dengan sesama jenisnya. Kok bisa perpindahannya semudah itu? Bahkan saat dia berhubungan sesama jenis, sering dia gonta ganti pacar.


T1: Artinya kebebasan itu makin bebas, ya. Fenomena berhubungan sesama jenis ini sudah menjadi trend, ngga bisa disembunyikan, bahkan sudah ditoleransi yang membuat kontrol sosial hilang. Yang namanya toleransi, sekalinya ada yang namanya toleransi, perbuatan itu semakin diulang lagi diulang lagi sehingga nilai-nilai moral sosial budaya bergeser.

T2: Cara kasih taunya gimana? Contoh kasus temanya C, coba kasih tahu yang benar. Kita lihat tanggapannya. Kalau dia merespon dengan cukup baik, artinya merasa bahwa itu juga benar, lanjutkan. Kasih tahu ilmu-ilmu yang benar, data yang benar, agar dia sadar dan keluar dari lingkarannya. Kalau dia denial, bahkan marah, yasudah. Biarkan.

Lagi…

T1: Kalau sudah muncul hasrat, keinginan seksual, desire, ditambah godaan mendalam dari luar. Gimana? Kalau di sini, insyaallah ya masih baik gitu, masih bisa menahan. Kenapa bisa tahan? Caranya?


L: Kalau saya (laki-laki) ingat aja tujuan di sini kuliah, ingin membuat orang tua bangga, jadi sebisa mungkin saya menahan, agar tidak membuat orang lain apalagi orang tua sendiri kecewa.

K: Kalau saya (laki-laki), iya sama seperti L, tapi saya juga melihat bahwa diluar kebebasan yang tersaji di tempat rantau ini, ada loh yang mengawasi kita dari dekat. Tuhan.

C (C ini adalah orang yang sangat jujur dan terbuka): Saya (perempuan)… Boleh ngga saya bilang karena memang ngga ada kesempatan? Karena begini. Keinginan itu, saya pribadi merasa, ada banget dalam diri saya. Tapi selama ini, dari SMP SMA, teman-teman saya, sahabat-sahabat saya “kebetulan” orang-orang baik semua, yang membawa saya pada kebaikan. Jadi secara ngga langsung saya menyadari bahwa, oh ini ngga baik, jangan. Bahkan bukan hanya keinginan negatif untuk melampiaskan hasrat seksual saja, seperti keinginan merokok, minum, ngedrugs, saya enggan karena teman-teman baik saya yang… ya… yang baik-baik.

T1: Nah, bagus. Ungkapan-ungkapan tadi artinya apa? Ada kontrol diri dan kontrol sosial. L dan K, bisa mengontrol dirinya sendiri atas pilihan pribadi. “Saya enggan, karena saya ingin membahagiakan orang tua. Saya enggan, karena Tuhan.” Itu dasar. Kalau pada C, “teman-teman saya membawa kebaikan” kontrol sosial kan ya? Peers gitu. Peers kita yang mengontrol tingkah laku kita, sehingga kita enggan. Lingkungan seperti itulah yang diharapkan ya, sedikit banyak bisa menyirami “orang dengan perilaku seks bebas” dengan kebaikan. Pelan-pelan saja, nanti lama kelamaan dia akan ikutan baik.

T2: Berbicara diulang lagi, diulang lagi seperti yang terjadi pada temannya C. Berhubungan lagi, putus nyambung. Kenapa susah lepas? Karena adanya conditioning. Kaya nonton video porno deh. Sekali, dua kali, lama-lama kecanduan, membuatnya menjadi sebuah habit. Ada kebutuhan. Ketika kita terkondisikan untuk melihat lagi, melihat terus-terusan, neurotransmitter dalam otak kita jadi terpaku pada hal itu. Akhirnnya kita kebayang terus, berputar terus di dalam otak kita.

Cara gilanginya gimana? Kalau saya pakai One Day One Juz. Jadi baca alquran, minimal sehari satu juz. Susah banget memang untuk membiasakannya. Tapi sama seperti conditioning tadi.. Ketika kita melakukannya terus, mengulang lagi, mengulang lagi, lama kelamaan kita akan terbiasa.

T1: Benar sih, hadist yang bilang bahwa bentengnya surga itu semua hal yang tidak enak, sebaliknya.. benteng neraka adalah semua hal yang enak-enak. Jadi jalan menuju surga ya semua yang dilarang, semua yang tidak nikmat. Kadang orang kan ngelihatnya yang enak-enak aja ya. Dia ngga sadar bahwa detik itu juga dia sedang melangkah ke neraka.

Got the points?

Mari kita bahas. Pertama, gue tidak ingin membahas terlalu banyak tentang agama, sekali lagi, karena ilmu agama gue masih sangatlah cetek. Tapi satu yang jelas, salah satu dari banyak cara untuk menahan gairah adalah dengan mendekatkan diri pada Tuhan. Secara langsung, kalau kita berbuat demikian, benteng pertahanan dari dalam akan terbangun.

Gue bicara dari perspective gue, ditambah dengan beberapa sumber, termasuk diskusi kemarin. Dalam diskusi jelas banget menyatakan bahwa “fenomena seks bebas di Indonesia, di Jatinangor, sudah bukan hal yang rahasia lagi”. Kenapa?

  1. Bergesernya nilai-nilai karena adanya toleransi. Human right, human well-being, ini dia yang sedikit banyak menjadi penyebab hilangnya nilai-nilai di masyarakat. Orang Indonesia kini, gue akui banyak yang mulai berpaham liberal seperti gue wkwk, sehingga kepedulian akan pencegahan masih sangat kurang. Kalau sudah kejadian, sudah ketahuan, sudah ada hasilnya, baru ribut. Tapi untuk kepedulian permasalahan seks bebas or all about sexuality, gue sih sangat peduli. Paling engga buktinya lewat tulisan ini. Oke deh passion orang berbeda. Nah, toleransi nih….
  2. Adanya kebutuhan berlebih karena sudah terlanjur tersuruk. Ini bahasanya… Terlanjur masuk lubang, maksud gue. Yang kecanduan masturbating, yhaa karena sudah terlanjur sekali dua kali masturbating. Yang kecanduan ngeseks, yhaa karena sudah terlanjur ngeseks. Padahal ngajak seseorang untuk “itu” tidak segampang nonton video porno.

Honestly, Si C adalah gue. Gue mengaku, gue merasakan sendiri desire itu, terlebih karena gue sudah merasa di usia yang cukup untuk kedatangan gejolak semacam itu. Gue sudah terkontaminasi pikiran kotor sejak SD, fyi, berawal dari pelajaran reproduksi di akhir kelas 5, juga karena teman-teman SD gue otak porno semua.

Well, gue rasa, kamu yang membaca punya pengalaman sendiri terkait desire ini. Ketika dia datang, bagaimana kita memperlakukannya… Menikmati atau dengan teguhnya bersabar dan memaki agar itu hilang. Atau sungguh-sungguh mengusirnya dengan segala macam cara, seperti melakukan aktifitas positif (kalo gue biasanya nulis atau nonton. Nonton drama korea ya, bukan nonton blue film), atau dengan berwudhu dan baca alquran buat yang muslim.

Banyak cara dan kita masing-masing tahu bahwa untuk menghilangkan desire itu bukan hanya dengan melakukan seks “dengan partner” –gue ngga tahu pasti sih kalau ngga ada partnernya disebut ngeseks juga apa engga. Tapi yang jelas itu pun perilaku seksual. Jadi kayaknya iya…. *kok jadi ngga yakin gini?* well, masalah redaksi aja kok– secara bebas, tanpa ikatan resmi yang diakui negara dan agama, tapi banyak caranya.

Kita hidup dalam-ketidak-bebasan, dan itu takdir menjadi orang Indonesia. Jadi, say no to free sex! (((Jadi kampanye gini))) Kalau engga:

  1. Jika ketahuan, kamu akan malu setengah mampus, bisa jadi dikucilkan. Karena? Kamu tingal di Indonesia dengan mayoritas penduduk yang paham betul bahwa kumpul kebo, MBAfree sex, apapun itu sebutannya merupaka hal yang negatif.
  2. “Ngga akan ada lagi kesucian melakukan ITU di malam pertama kamu dengan istri/suami kamu.” Kata Kang Gimmy, salah satu dosen yang terlibat dalam diskusi kemarin. Ini paling penting, sih. Karena apa? Ya… Melakukan ITU sudah menjadi biasa buat kamu –paling engga sudah bukan lagi suatu kejutan, jadi ngga akan ada sensasi geli-geli lagi. Padahal momen malam pertama itu kan ya begitu… Momen sakral, yang… ya, you now what I mean.
  3. Harga kamu sebagai manusia akan hilang. Bukan buat orang lain, tapi buat diri kamu sendiri.

Desire itu wajar banget kok. Kalau ngga ada gairah, itu tandanya kamu belum gede, atau bisa jadi tidak normal. Kita manusia, dan memang diciptakan untuk melakukan hubungan seksual ._. no no no, tapi bukan itu satu-satunya tujuan manusia di bumi. Manusia punya akal, yang bisa membedakan mana yang boleh, mana yang engga.

So now, whadday think about desire?

Open discussion, nih. Feel free to talk with me, ok? I’m open minded and positive enough, kok 🙂


Sources:

Kring, Ann M., et al. 2013. Abnormal Psychology Twelfth edition. Hoboken: John Wiley & Sons, Inc. | Diskusi “Fitrah Seksual” ditemani oleh tiga dosen ahli Fakultas Psikologi Unpad | What We Can Learn From Sexual Response CyclesA Definition of Sexuality | Definition of Terms: Sex, Gender, Gender Identity, Sexual Orientation | Pengertian Seks dan Seksualitas

Advertisements

6 thoughts on “Thought: What Do You Think About Desire?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s