In the end of march

tumblr_static_tumblr_static_ckfz979bhz40o0s0s8ocwsws0_640

Source: tumblr.com

Gue memulainya dengan sangat antusias karena kejelasan pikir (setidaknya meurut gue) yang gue punya, dan anggukan serta deru berisik kesayangan-kesayangan gue yang menunjukkan keoptimisan. Siapa disangka jalannya tidak akan pernah se-ideal yang dipikir?

Gue seorang yang berperan sebagai leader suatu perkumpulan banyak kepala…. dan ini curahan hati gue.

Gue menyayangi dengan sangat kepentingan yang gue pilih ini, demi apapun. Dulunya, gue pikir ini adalah suatu kebanggaan hakiki. Bisa menjadi seseorang yang sangat dipercaya itu kebanggaan terbesar, karena gue dilihat, gue dibutuhkan, gue ada…

Siapa yang kira menjadi seorang leader akan semenyenangkan sekaligus semenyebalkan ini, ketika harapan belum sesuai kenyataan, hingga kita harus belajar tabah menurunkan ego? Even sebelumnya sudah disetujui, bahkan ada yang disebut dengan: PERJANJIAN.

Lama-lama akan ada slogan “perjanjian ada untuk tidak ditepati”, terinsprasi dari peraturan ada untuk dilanggar haha. Semoga tidak terjadi.

Ini baru awal, dan semua masih menyesuaikan dengan tugas baru, termasuk gue. Ibaratnya… mesin yang baru keluar dari pabrik, sedang uji coba, dipanasin, agar sesuai dengan fungsinya. Begitu pula sekumpulan manusia ini, yang sedang sama-sama menyesuaikan diri.

Mau gue apa, mau mereka apa,

sifat gue gimana, sifat mereka gimana,

kesibukan gue apa, kesibukan mereka apa,

batas kerja gue segimana, batas kerja mereka segimana….

Sedang dicoba untuk bisa klop, dan gue harus mengerti. Mereka pun begitu, sehingga pada saatnya nanti, kita semua bisa berkumpul menjadi satu titik temu yang dinamakan: keinginan bersama.

Maret ini, seperti biasa, gejolak emosi yang meraung minta diturut tetap ada. Namun alam belum memihak sepenuhnnya, karena belum adanya kesesuaian tadi. Antara harapan dan realita yang belum menemukan titik temu.

Sebagai orang yang berekspektasi, tentunya manusia harus siap kecewa, hingga akhirnya menurukan standar. Itu yang gue pelajari, termasuk feedback dari satu kepala yang padanya gue sangat mengucapkan terima kasih. “Jangan terlalu ideal.” Oke, gue turunin standar, dan semoga dengan standar yang se-begini, tidak akan ada lagi yang merasa terbebani, termasuk diri gue sendiri.

Gue ngga mau menekan, karena tujuan gue di awal pun adalah meningkatkan well being semuanya. Gue ingin mereka bahagia sudah masuk ke dalam lubang (yang mungkin didefinisikan berbeda tiap orang) ini, di mana gue yakin, awalnya ekpektasi mereka sama tingginya seperti gue, dan bahkan mungkin mereka tidak pernah sekalipun membayangkan bahwa hidup mereka akan dipusingkan oleh kerja yang berat padahal belum tentu mereka dapat keuntungan.

Gue mau kita bisa saling komitmen, dan membuat diri kita nyaman satu sama lain :’)

Gue mau kita menganggap semua ini adalah pelajaran, hingga kita menemukan satu jawaban dari pertanyaan, “untuk apa gue di sini?”

Gue mau semua terbuka. Biar kita sama-sama tahu kebutuhan kita apa.

.

.

Dan gue bener-bener bersyukur karena dapet banyak feedback (meski seringkali gue mengawali pembelajaran ini dengan pertanyaan menyekik, “memangnya gue sesalah apa?”). Gue bersyukur karena… manager gue bukan hanya sekedar kelinci piaraan yang cuma bisa diem ketika dicubit-cubit, digendong-gendong, diatur sama manjikannya.

Seistimewa itu loh, mereka sampai-sampai gue kewalahan menampung ide-ide brilliant yang ada di kepala mereka. Se-dinamis itu loh, perputaran kehidupan perkumpulan kita karena semuanya berperan dan ngga ada lagi yang, “Oke, menurut gue gini, lo harus gini.” dan dibalas dengan anggukan. Ngga ada. Yang ada, “kayaknya enaknya gini deh….” atau, “aku sanggupnya gini…” atau, “mendingan gini deh. soalnya….”

Itu suatu kemajuan yang sangat.

In the end of march…

Dan gue merasa buruk sekaligus sebangga itu. Buruknya: Oh, gue belum sempurna, bahkan mendekati, sebagai seorang leader. Bangganya: Gue merasa lebih sempurna karena ada kepala-kepala kalian,  wahai yang bekerja sama dengan gue.

In the end of march…

Gue akan belajar terus, untuk bisa melihat dan merasakan.

In the end of march…

Masih ada 8 bulan lagi, dan gue ingin mengakhirinya dengan senyuman, dengan keinginan untuk tidak pisah. Bukan hanya karena kebanggaan yang didapat ketika bersama, tapi karena ada rasa yang lain, yang didefinisikan berbeda tiap orangnya.

Mungkin pada part tertentu, ada yang jijik atau ngakak, tapi itu semua adalah curahan hati yang ingin gue sampaikan 🙂

Well, satu kata terakhir di postingan ini…

Yuk bonding! Biar semakin kieu! (lipet dua jari telunjuk jadi satu)

Advertisements

2 thoughts on “In the end of march

  1. GADIS says:

    aku kan juga suka ikut organisasi sama kepanitiaan nih, kalau menurutku ideal bagus banget tapi juga harus realistis, liat sikon di lapangannya kayak gimana. terus kamu kan ketua, semua kritikan dan saran ga harus diambil kok. kamu kan mau yg terbaik buat mereka, ya guide aja menurutmu gimana. toh mereka udah percaya kamu, tinggal kamu yg harus percaya diri sendiri :3

    • christamelia says:

      iyanih.. aku masih suka ngga yakin dengan keputusan aku sendiri, krn aku maunya keputusan aku ngga merugikan pihak manapun. tp kan ngga bisa maksain harus menguntungkan semua pihak :”)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s