Analisis Kejombloan (Vol. 2)

cats

Kenapa gue jomblo sampai detik ini? Bahkan gue ngga pernah punya pacar in reality, seriously. Oh my God whyyyy? *guling-guling lebay* Engga lebay sih sebenernya. Hanya ironi dicampur hiperbola aja. Lumayan sedih, sih. But, that’s OK. Oiya, sebelumya gue sudah pernah menulis perihal kejombloan gue dalam postingan berjudul Analisis Kejombloan.

Pertama yang ingin gue jelaskan adalah: Mengapa memiliki pacar bagi gue penting?

Karena… memiliki pacar itu memenuhi beberapa kebutuhan gue yang gue analisis dengan teori motivasi dari McLelland (need of affiliation, need of achievement, dan need of power):

  1. Afeksi. Well, gue adalah wanita yang haus akan belaian, sesungguhnya. Gue haus akan perhatian, akan dukungan moral… Kebayang ngga sih kalau lagi bosen sama rutinitas kuliah, misalnya, terus ada yang bilang, “Semangat, sayang! Yuk belajarnya yang semangat buat bekal anak-anak!” Oh my to the GOD! Gue jamin rasa semangat gue akan meningkat 5000 kali lipat, yang akan berimbas ke kenaikan IPK plus rasa percaya diri gue.
  2. Eksis. Kenapa eksis? Gue jadi punya motivasi untuk update media sosial dan pamer ke seluruh dunia kalau gue punya seseorang yang dengannya gue bisa happy tanpa terkecuali. Mutlak. Dan seperti yang pernah gue bilang, kalau pada saatnya nanti gue menemukan “dia yang klop” dengan gue, gue akan membuat sebuah proyek menulis bertema “Amelia and *namanya* Love’s Stories”. Gue akan update seputar percintaan gue dan dia. Gue akan memujinya, akan membuatnya terenyuh dengan kata-kata gue, dan gue akan tunjukkan ke dunia kalau gue punya dia. Lalu gue akan update semuanya di media sosial yang gue punya, dan gue akan semakin eksis. Akan banyak like komen di blog gue. Pujian, hujatan, dan itu keren. Iya ngga? HAHA.
  3. Power. Of course all human needs power to make her/himself exist. Eksis di sini beda sama eksis yang gue maksud di nomor 2. Kita butuh diangep, butuh dirasa ada keberadaannya. Jadi begini… sebagai manusia kita harus punya power akan orang lain. Power yang dimaksud bukan yang kayak bos ke bawahan, tapi yang kayak, “Aku mau makan ramen, temenin yuk!” terus mau ngga mau dia harus nemenin kecuali kalau dia ngga bisa karena alasan kuliah atau masalah finansial.

Itu dia ketiga kebutuhan mendasar gue, yang gue analisis sendiri berdasarkan pengalaman gue selama jomblo dan selama gue hidup di dunia ini sebagai seorang perempuan._. Agak ngenes sih but that’s okkkkk. 

Sebagai seorang perempuan yang tidak memiliki orang untuk disayang-sayang dan dimanja-manja (kecuali kucing dan emak babeh gue), gue mengaku bahwa hidup ini sangat membosankan. Hidup gue gitu-gitu aja. Tidur, bangun, kuliah, makan, ke studio, pulang, makan, nugas, tidur, bangun lagi, nugas lagi, ngampus lagi, makan lagi, ke studio lagi, begitu aja terus ampek MBK berubah jadi rexona.

So simple. Dinamika perasaan gue ya gitu-gitu aja. Bete karena kurang perhatian temen, bete karena keabisan duit, bete karena kesiangan mulu, sedih karena ngga bisa pulang… Ngga ada yang se-menegangkan ketika dia tidak ada kabar, dia menghilang, dia sibuk, dia turun rasa sayangnya….. Dan ngga ada yang se-happy ketika dia ulang tahun lalu gue ucapin selamat dan ngasih kado, dia dateng ke sini kasih kejutan, dia perhatian, dia cemburu…..

God, gue senyum-senyum sendiri sekaligus meringis….. karena keinginan itu lagi gede-gedenya kalau boleh jujur. Serius. (Noted: ITU means keinginan memiliki seseorang ya)

Keinginan yang begitu besar, yang berbanding terbalik dengan realita yang ada membuat gue bertanya-tanya. Apa yang menyebabkan gue ngga punya pacar sampai detik ini, God? Apakah gue tidak menarik? Apakah gue tidak menyenangkan? Apakah gue tidak baik?

Dan sekarang akan gue jawab. Jang jang!

Kenapa gue jomblo?

Karena gue tidak punya pacar. *YAEALAAAHHH*

Haha. Oke serius. Sebelumnya, analisis ini adalah gabungan dari beberapa sumber. Gue pribadi, hasil tarot yang bener banget padahal gue juga pengennya ngga percaya-percaya amat (fyi, dua minggu lalu gue baru aja ditarot sama Ardan Radio tentang kejombloan gue), dan kata bestie gue alias Empok a.k.a Agen A.

PERTAMA.

Gue kurang peka. Kata tarot gue yang gue maunya sih ngga percaya, sebenernya ada kok yang naksir gue, tapi dia bingung karena respon gue ke dia sama aja seperti respon gue ke cowok-cowok lain.

Gini. Gue itu sok asik banget orangnya. Siapa aja gue rayu, siapa aja gue kedipin matanya, gue ajak becanda…. Etapi ngga ke semua orang sih. Yang gue lihat bisa merespon gue aja biar ngga kentang. Kalau dia yang orangnya lempeng, yaa gue ngga akan gitu. Seperti gue ke orang yang gue suka jauh di sana, yang hingga sekarang gue ngga berani kalau modusin dia. Gue terlalu cemen 😦

Tapi pada dasarnya, menanggapi kata tarot, sejujurnya yang gue alami adalah… rasa-rasanya ngga ada deh yang ngemodusin gue. Kalaupun ada cowok ngeline, itu pasti karena ada kepentingan, bukan mau basa-basi. Kecuali satu orang sih. Tapi itu juga karena kita sering ngobrol aja…. Selebihnya, memang nyatanya ngga ada yang ngemodus kayak ngajak makan, becandain, iseng-iseng panggil sayang, flirting,gitu-gitu ngga ada.

Jadi… kemungkinan terbesarnya adalah cuma karena gue ngga peka aja kalau ada yang suka sama gue, bukan literally ada orang yang suka. Iya ngga sih? But reality is… memang rasa-rasanya ngga ada yang ngemodusin gue.

Tapi permasalahan ke-tidak-peka-an ini di iyakan juga oleh Agen A.

Dan udah ah tutup. Alasan pertama cukup tidak valid.

KEDUA.

Managemen diri minus kurang. Mau ngejabarin aib nih. Gue itu:

  1. Males mandi, terutama weekend. Fakta: Mandi sehari sekali, bahkan sabtu minggu suka dijamak. Kadang aja mandi dua kali seharinya, pas lagi in period, di mana maksimal dalam sebulan, gue mandi dua kali sehari cuma selama seminggu. Seringnya. Ngga seringnya, kalo lagi niat, ya gue mandi dua kali sehari walaupun ngga sedang in period. Tapi gue selalu luluran kok minimal seminggu sekali, jadi gue ngga dakian amat.
  2. Bangun siang, terutama weekend, atau hari rabu (karena kuliah masuk siang), atau saat besoknya free. Fakta: Bangun terpagi gue yaitu satu jam sebelum masuk kuliah. Seringnya gue kuliah jam 08:30, dan gue baru bangun paling pagi banget jam 07:30. Terus diem 15 menit, baru mandi 12 menit, terus siap-siap, berangkat kuliah paling pagi jam 08:10.
  3. Mager. Aduh gue ngga tahu gimana caranya menghilangkan kebiasaan ini. Tahu, sih. Bangun! OK. Prakteknya susah. Sekali gue nemu kasur dan internet… DEWA! GOD, ini surga gue. Terkadang, tugas aja kelewat karena kenyamanan yang sangat di atas kasur. Kepentingan yang seharusnya menjadi penting pun seringkali terabaikan.
  4. Procastinator. Ya. Suka menunda-nunda pekerjaan is killed us, actually. Padahal waktu banyak, fasilitas ada… tapi kalau belum ngerjain deket deadline itu rasanya kayak beli sayur asem yang ngga asem. Kurang greget! Padahal kalau ngerjain bener-bener menjelang deadline itu hasilnya ngga maksimal. Sangat tidak maksimal. Tapi gue belum belajar, nampaknya. Makanya masih gini-gini aja. Hf. *lemes*
  5. Makan suka-suka. Apa aja dimakan, dan kalau ngga naruh banyak makanan di piring itu rasanya rugi. Ini kalau gue makan prasmanan di Dinain ya haha. Kalau makan yang pesennya 1 1 menu gitu mah gue ngga protes. Ngga ada duit buat beli banyak menu. Selain berlebih, makan gue juga ngga teratur banget. Suka-suka gue aja. Pagi ngga makan sampe malem, malemnya baru makan. Lalu tidur. BYAR! Bagaimana tidak gendut…….

Mana ada cowok yang deketin cewek yang bahkan ngga bisa ngurusin diri sendiri? Cowok sukanya sama cewek yang bisa ngurus diri sendiri dan dirinya bukan? Cowok tuh bakal amazed sama cewek yang pintar bagi waktu, yang banyak bergerak, bersih, wangi, gitu bukan?

Sampai pada satu kesimpulan yang gue buat sendiri… Gue belum menarik karena gue belum bisa mengatur diri gue sendiri.

KETIGA.

Gue terlalu frontal kali ya? Gue tuh frontal banget. Contohnya tulisan ini. Dengan terang dan jelas gue menuliskan aib gue, dan… ngga masalah bagi gue. Padahal bagi orang mungkin bikin jijik dan gegelengan kepala sendiri. Secara itu aib gituloh…

Selain itu, gue juga frontal banget dalam bercerita suatu hal yang gue sukai. Sexuality dan LGBT, misalnya. Gue terang-terangan membahas seksualitas di blog gue, dan gue merasa fine aja ketika share itu di medsos. Karena ilmiah, sih, bukan berita abal-abal.

Gue juga terlalu banyak curhat, sehingga ketika gue sedih atau marah, semua orang akan tahu. Padahal di curhatan itu… gue ngga segan bilang semua hewan di kebun binatang, memaki dengan hujatan, banyak lagi.

Bagi gue ngga masalah, karena inilah diri gue. Tapi bagi orang lain? Bisa aja ilfeel. Gitu ngga sih?

*Ini jadi pertanyaan gini……wkwk

KEEMPAT.

Gue terlalu terlihat hebat. Terdengar begitu memuji, tapi sebenarnya ini kekurangan juga, sih. Buat apa ada cowok kalo cewek bisa ngelakuin apa-apa sendiri?

Gue gengsi abies kalau minta tolong sama seorang cowok, apalagi. Misal nih, gue habis kumpul kepanitiaan lalu pulang malem banget, gue akan lebih memilih untuk jalan sendiri aja ke kos, dibanding minta tolong dianter. Kecuali, ada yang nawarin duluan, atau kalau kepepet ongkos. Haha. Ngga mau rugi juga gue. Tapi gengsinya itu loh.

Lalu, gue selalu menampilkan ekspresi kemandirian di mana gue jalan sendirian dari gerlam sampai studio, kemudian pulang ke kosnya juga jalan lagi. Terus kalau lagi laper ya beli makan sendiri. Kalo lagi mau ke mall tapi ngga ada temen, ya sendiri. Ke rektorat sendiri…. Selalu menampilkan kemandirian pokoknya.

Sejujurnya gue ngga tahu sih, seberapa besar impact yang dihasilkan dari kemandirian gue yang sangat ini. Mungkin sedikit banyak ngaruh.

Tapi bukannya harusnya cowok sukanya sama cewek mandiri ya? Iya ngga sih? I don’t know. Tipe beda-beda lah.

KELIMA.

Gue terlalu bergairah. Gue agresif, menggebu-gebu, dan pikiran gue masih anak muda banget yang ngga bisa berpikir panjang. Ini kata dua orang sih. Kata Kangenches dan kata Empok. Mereka bilang, “kalau lo pacaran sekarang, Mel…. lo udah bunting.” you know what I mean, gals? Gairah bisa sangat menyusahkanmu, kawan, kalau kamu ngga tahan. Mangkanya… gue belum dikasih partner sekarang… karena kalau ada…. Ya.. seperti tadi yang sudah gue ungkapkan.

Gairah di sini bukan hanya masalah seksualitas, ya. Dalam kehidupan nyata pun, gue menampilkan keantusiasan gue dalam melakukan hal-hal yang gue suka. Gue semangat siaran, gue semangat menggebu-gebu ketika bercerita tentang hal yang menurut gue menarik seperti sexuality, gue suka pakai lipstik merah ya gue pakai ke kampus, gue nyaman pakai rok pendek ya gue pake… ini kata-kata untuk menetralisir kefrontalan gue aja, btw….. dan ok gue akui gue canggung haha.

Intinya… gue masih dilindungi Tuhan, maybe.

KEENAM.

Ini yang iya banget.

Gue belum mencintai diri sendiri. Ini jelas banget sih. Kelihatan banget dari update gue di line yang isinya banyak keluhan.  Ditambah lagi di blog. Isinya keluhan, umpatan wkwk, pokoknya banyak negatifnya. Bahkan walaupun ngga  gue tulis secara rinci di media sosial, gue pribadi masih merasa bahwa gue belum menyayangi diri sendiri.

Terbukti dari perilaku gue yang males olahraga, tidur malem, makan malem-malem padahal dari pagi ngga makan, ngga percaya diri terkadang, ngga bersyukur sama diri sendiri, galau mulu soal macem-macem, males belajar, males ibadah, mainan internet mulu sampai-sampai ngabisin duit buat beli kuota, dan banyak lagi…

Dan itu bukti bahwa gue belum mencintai diri sendiri.

Gimana orang lain bisa cinta sama kita kalau kita sendiri ngga mencintai diri sendiri? Gimana bisa bener-bener mencintai orang lain kalau sama diri sendiri aja cintanya setengah-setengah?

Ini dijawab dalam hati ya, Mel.

Dan ya… itu keenam alasan kenapa gue jomblo sampai detik ini, sesuai dengan analisis gue sendiri. Bukti kongkrit berdasarkan pengalaman pribadi dan pengenalan pada diri sendiri.

Finally, gue simpulkan bahwa yha…. gue jomblo karena memang gue yang belum siap untuk punya pacar. Kalau sampai saatnya nanti gue sudah siap, bisa gue pastikan bahwa gue sudah mampu mengatur diri gue, menyayangi diri gue sendiri apalagi…. dan ya, come on baby, come to me! *bitchy voice*

Pada dasarnya… kejombloan itu bukan suatu alasan untuk gue bersedih, karena gue belum siap. Justru kalau gue sekarang pacaran, mungkin jadinya gue ngga akan puas dengan hubungan gue, pasangan gue pun begitu.

Memang tulisan ini terkesan defense banget. Tapi sejujurnya, tulisan ini juga membuat self-esteem gue naik. Oh, bukan karena gue ngga menarik, makanya gue jomblo, tapi karena gue belum memiliki kualitas diri untuk hidup berdua dengan seseorang.

Well, hidup ini belajar, Mel. Bukan perkara punya seseorang atau engga, tapi bagaimana kamu menjadi diri sendiri sampai akhirnya nanti kamu menomorsatukan orang lain. Jodoh pasti bertemu, Amelia. Dia sudah tercatat dalam takdir kamu. Kalau sekarang masih jomblo, ya harapannya setelah gue nulis postingan ini dan gue share, gue ngga jomblo lagi lah HAHA. CANDAAAA!

Sekian!

Advertisements

8 thoughts on “Analisis Kejombloan (Vol. 2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s