Sampai kapanpun ini tidak akan pernah berhasil (ini: bilang cinta)

Ada satu hal yang lucu dari kisah percintaan gue dan Agen Hidup. Miris, namun berbeda. Kisah kami ngga pernah sama. Kebayang dong, masing-masing dari kita akan cengo kalau salah satu dari kita cerita perihal kisah cintanya? Iya. Karena ngga ada yang pernah mengalami kisah yang sama. Mirip, ada lah dikit.

Gue, dengan kisah gelap yang miris memalukan dan sedikit hina. Dan mereka, yang masing-masing punya kisah bahagia dan pilu sendiri. Ada yang belum bisa move on, ada yang hampir jadi eeehhh doinya malah jadi sama yang lain, ada yang masih menunggu, ada yang masih sibuk dengan kegiatannya sendiri, dan ada….yang baru diberi keputusan pilu tentang kelanjutan hubungannya.

Dan gue, salah satunya yang belum bisa move on. 

Padahal seharusnya orang itu tidak memiliki kualifikasi apapun untuk mengikat otak dan rasa gue. Dia bukan orang yang dekat dengan gue, pertama. Sejak kami berdua kenal, dia tidak pernah menunjukkan ketertarikan berlebih kepada gue apalagi mendekati gue secara terang-teragan demi status lebih. Kedekatan kami hanya sebatas rekan kerja profesional karena kami berdua adalah pemegang amanah di kelas. Udah itu aja.

Kedua, kami hidup berjauhan sejak lulus SMA. Tidak pernah ada hubungan lebih. Chatting ngga bernah, sms ngga pernah, komen-komenan di fb ngga pernah.. Kami bak dua orang asing yang memang sebelumnya tidak saling mengenal, apalagi bertukar kabar. Gue hanya memandangnya dari jauh lewat sosial media yang dia punya yang jarang banget dia update.

Yes. Perasaan konyol ini hanyalah buah dari “cie-ciean teman sekelas kami”, yang gue ingat banget datang di awal pertemuan kami. Dan koplaknya, gue terbawa arus perasaan yang gue pribadi menikmatinya, sampai-sampai gue lupa bahwa gue tidak se-menarik-itu untuk dapat meluluhlantahkan hatinya, apalagi membuatnya marah karena gue dekat dengan yang lain haha bodoh gini ya. (NB: Dekat yang dimaksud bukan dekat sebagai lelaki dan wanita, tapi literally teman yang asik satu sama lain)

Iya benar. Bodohnya, gue pernah merasa bahwa dia juga suka sama gue melihat tingkahnya yang aneh sejak gue dekat dengan cowok lain. Pemikiran bodoh banget memang. Mungkin saat itu gue belum pandai membaca situasi. Sampai sekarang pun belum sih haha.

Dan dengan kenikmatan menyukainya, bersama dengannya mengerjakan tugas kelas, gue lupa bahwa tingkah gue sudah diluar batas. Gue lupa bahwa kerja kami berdua hanya sebatas profesi sebagai petugas di kelas. Gue ngga pernah bisa membaca matanya, sampai gue dengan sangat tidak hati-hati mengumbar perasaan gue padanya ke orang lain.

Iya. Sikap gue begitu terlihat. Gue begitu menunjukkan rasa gue padanya ke orang banyak. Gue cerita sama teman gue, lalu dia ngerespon hal yang sebenarnya bukan realita, tapi hanya tebak menebak macam cenayang, ala-ala anak SMA. Itu yang membuatnya risih, gue yakin banget.

Iya. Sikap yang tidak wajar, seolah-olah kegelian karena dimabuk asmara. Rasanya seperti orang yang sedang menahan pipis. Linu gimana gitu, ketika dia dekat. Seakan-akan memang posisi gue yang begitu diuntungkan. (Re: dia deketin gue)

Kenyataannya terbalik, kalau boleh gue akui. Ya. Dan gue sadar penuh.

Apa harusnya gue yang mulai?

Percayalah. Gue sudah mulai membuka pintu bahkan ketika dia tidak berharap untuk masuk. Gue sudah membuka hati gue, akses untuknya masuk. Entah dia menyadari atau tidak. Dan bukan sekali gue buka, lalu gue tutup. Bodohnya lagi, engga. Berkali-kali.

Pertama, setelah beberapa bulan kami kerja bersama. Gue sms dia, menanyakan kebutuhan untuk kegiatan tengah semester (KTS). Ini pertama kali kami menyambung pesan. Dan gue ingat banget. Percakapan kami ditutup di hari besoknya ketik gue memberinya kabar bahwa gue sudah melaksanakan tugas gue untuk membuat poster penyemangat.

Kedua, saat dia memercayai gue untuk membantunya mengerjakan kewajiban di kelas. Ini kekanakan, memang. Ya oke. Dulu SMA. Tapi gue sangat menikmati resahnya akan tugas di pundaknya, hingga dengan tulus gue membantunya. Ya. Bisa jadi karena memang gue sudah tertarik dengannya, sih. Tapi sejauh memori gue, bantuan gue bukan semata-mata untuknya, tapi demi kebahagian gue dan kelas.

Ketiga, saat dia gue rasa marah dan menjauhi gue, lalu gue dekati dia perlahan. Gue ingin tahu apa yang terjadi. Nyatanya, dia tidak mengonfirmasi apa-apa. Sayangnya, gengsi gue kelewat besar hingga rasa penasaran itu ngga pernah gue tanyakan ke dia. Hingga detik ini.

Keempat, kemarin banget. Saat gue mulai buka percakapan dengannya. Seolah tidak sengaja, gue meminta bantuannya. Mulai deh kami bercakap. Tapi ya udah. Gitu aja, ngga lebih. Hanya bertahan di 20 menit pertama setelah dia membalas pesan gue. Sesingkat itu.

Lalu gue lupa tepatnya minta tolong dulu atau mengucapkan selamat hari lahir. Dan di situ gue sedikit membuka sebuah pengharapan, menunjukkan kepadanya. Tapi tetep ngga berimpact.

Terakhir, beberapa hari setelahnya, gue memberanikan diri untuk bilang, “Sebenernya gue suka sama lo” yang berujung tidak dibalasnya chat gue, dan gue tidak memastikan apakah dia membacanya atau engga, karena gue terlanjur malu setengah mampus. Tapi sampai sekarang pun ngga dibalas. Mungkin gue terlalu basa basi.

Dan memang… gue belum seberani itu untuk mengakui perasaan gue yang pernah hilang lalu ada lagi. Gue takut akan penolakan.

Dan memang… sampai kapanpun, ceritanya hanya akan berakhir sama. Chat dibaca tanpa tindak lanjut, ngga dibalas. Ngga pernah ada basa basi darinya… Dia sudah menutup dirinya.

Dan kalau tidak ada keterbukaan antara kami berdua… harus dua duanya karena idealisme gue tinggi, mengatakan “Aku suka kamu” padanya tidak akan pernah berhasil.

Dan kalau itu kejadian… tandanya rasa ini harus ditenggelamkan.

Untuk selamanya.

Advertisements

2 thoughts on “Sampai kapanpun ini tidak akan pernah berhasil (ini: bilang cinta)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s