Thought: What Do You Think About Masturbation?

Setelah beberapa lama ngga menulis, dan OK, gue merasa sekarang gue butuh untuk menuangkan segala kekacauan di kepala gue karena kelemahan gue dalam menjaga diri untuk sistematis sehingga apa yang ada di pikiran susah banget gue tuangkan.

Re: Gue lagi bingung banget menyusun kata-kata untuk rancangan penelitian gue, kalau boleh jujut. HELP ME LORD!

Kita bicara seksualitas lagi, OK? Mungkin 5000 orang di luar sana bertanya-tanya, kenapa sih Amel bahas seksualitas mulu? Yes, of course, the answer is… gue tertarik dan memang itu hal yang menarik bagi semua orang (maybe), sejak gue tahu “Apa itu hubungan seksual dan bagaimana melakukannya dan apa hasilnya…”

Bicara seksualitas secara umum, gue sudah pernah menulis mengenai perbedaannya dengan seks bukan? Gue menulisnya di sini.

Oke recall sedikit. Seks itu alat kelamin, emak gue punya vagina, bapak gue punya penis.

Seksualitas itu lebih luas. Ketertarikan emak dan bapak gue satu sama lain hingga fungsi seksnya bangkit dan berhasil menciptakan dua lagi manusia yang sama seperti mereka, gue dan adik gue, dalam balutan pernikahan. So hard to talked about it. Jadi mari kita kerucutkan pertanyaannya!

Kita akan membahas sesuatu yang mungkin dianggap tabu bagi sebagian orang, tapi masih dilakukan juga, karena “itu” adalah kebutuhan.

Masturbation.

Apa itu masturbation?

Masturbation is the self-stimulation of the genitals to achieve sexual arousal and pleasure, usually to the point of orgasm (sexual climax).

Ratini, 2014.

Ngeseks by yourself, coy! Caranya dengan menstimulasi bagian “sensitif” tubuh sampai kamu mengalami orgasme. Bisa dengan tangan aja dibantu sabun maybe, biasanya kalau lelaki. Atau kalau perempuan mengunakan jari-jari manisnya, bahkan sextoy.

Desire

Kaplan’s sexual response cycle, ilustrated by me on HERE.

Masih ingat bagan di atas? Baca ini, biar inget lagi haha.

Intinya, bagan di atas menunjukkan fase-fase pergulatan tubuh yang dialami oleh manusia terkait desire yang dia miliki. Ada fase desire di mana dari awalnya diem ngga jelas lalu tiba-tiba muncul bayangan-bayangan erotis yang serba porno… naik lagi, bayangan itu semakin terlihat nyata, membuat kita semakin panas dingin… sampai akhirnya kita merasa melayang di atas langit ke tujuh karena merasakan sensasi ketika akhirnya kebutuhan kita terlampiaskan. Ya. Orgasme. Lalu kita lemas seketika dan tertidur.

Nah dari tahapan-tahapan itu, untuk mencapai tahap paling atas yang membuat kita melayang-layang bisa melalui dua cara. Beneran melampiaskannya bareng sama pasangan, i mean you both making love under the moon, bergulat bersama dalam satu waktu. Atau… melalui cara yang kamu ngga perlu repot-repot mencari pasangan (buat yang belum menikah), yaitu dengan masturbasi.

Caranya? Ya tadi. Self-stimulation. Kamu menstimulasi tubuh kamu atau bagian tubuh tertentu, terutama bagian genital sampai akhirnya kamu merasa melayang.

Gue.. entah sejak kapan gue terjerumus dalam dunia gelap media sosial, jadi lebih paham mengenai kebutuhan ini. Bukan, bukan karena akhirnya gue bisa memenuhi kebutuhan ini pada diri gue, tapi karena gue banyak menemukan orang berkebutuhan ini dan mereka mencari cara untuk bisa memenuhinya.

Salah satunya dengan melakukan aktivitas virtual seperti chat sex, phonesex, bahkan video sex. Aktivitas ini sering kali dilakukan oleh orang yang mencari pemuas kebutuhan lewat dunia maya. Yap. Memanfaatkan teknologi tingkat tinggi ini maybe can be the best way to reach your orgasm, bagi kamu yang malu-malu kucing untuk ajak orang di sekitarmu buat sama-sama bergulat. Atau mungkin masih mau mempertahankan keoriginalitasan diri? Atau memang ngga ada kesempatan?

Beda-beda motifnya.

Gue pernah iseng melakukan survey kecil-kecilan terkait fenomena: “seringnya cowok-cowol yang main media sosial online X mencari cewek untuk diajak desah bareng” melalui salah satu media chatting online. Gue menanyakan pertanyaan simple: kenapa masturbasi?

Jawabannya beragam.

Fyi, gue menanyakan ini ke banyak orang sampai gue lupa dia siapa dan di mana, tapi gue ngga lupa detil jawabannya kok haha. Fyi lagi, semua yang gue tanyai belum menikah. Tapi di sini gue hanya akan menjabarkan jawaban dari dua orang.

Orang 1.

Pepaya (sebut saja), lelaki 27 tahun, sudah pernah melakukan hubungan seksual sebanyak 6 kali dengan pacarnya yang sekarang sudah jadi mantan.

“Ya.. lagi pengen.”

“Emang ngga bisa kalau ngga dikeluarin?” (you know the function of masturbation is to produce something juicy kan?)

“Engga. Rasanya aduh…”

“Tidur aja kali.”

“Ngga bisa, ngga akan nyenyak…”

Orang 2.

Apel, lelaki 23 tahun, katanya sih baru hampir mau ML sama pacarnya.

“Udah penuh… Udah hampir sebulan ngga dikeluarin.”

“Lah emang kenapa kalo ngga dikeluarin?”

“Ngga enak….” (Gue hanya bisa meraba-raba dengan tidak pasti definisi enak menurutnya apa. Someone can help me maybe?)

Selanjutnya gue menanyakan, “Kenapa harus sambil chatsex, phonesex atau videosex?” 

Penjabarannya akan sedikit panjang, jadi dihayati ya haha.

Orang 1, Si Pepaya.

“Ya…Biar bisa ngebayangin.”

“Jadi kalau ngga ada suara-suaranya ngga bisa ngebayangin?”

“Bisa. Tapi jadi seakan lebih nyata.”

“Emang bisa kalau lewat suara doang?”

“Bisa banget.”

“Kok aku ngga bisa?”

“Nah itu imajinasi kamu bermasalah.”

“Oooh. Sambil ngebayangin apa?

“Ya.. Sambil ngebayangi ML beneran.”

“Kenapa sih denger suara aja bisa?” (Seriously gue ngga tahu letak imajinasi anak lelaki di mana, seliar apa sampai suara aja bisa membantunya)

“Ya bisa. Jadi kayak beneran.”

“Kayak beneran gimana?”

“Ya kayak ML beneran.”

“Lah kok bisa?”

“Bisa, lah.”

“Kenapa?”

“Ya karena sambil dibayangin.”

“Oh.”

Bukan hanya Pepaya, Apel pun beranggapan sama. Menurutnya, dengan adanya stimulasi suara desahan wanita akan sangat membantunya dalam menuntaskan gairahnya yang sudah di ujung.

Hal ini masih gue pertanyakan hingga barusan, ketika gue menemukan jawabannya dalam textbook berjudul ‘Sexuality Now: Embracing Diversity, Fourth Edition, International Edition’ karangan Janel L. Carrol yang gue temukan di Perpustakaan Kampus gue.

“Men’s sexual fantasies tend to be more active and aggressive than women’s (Zurbriggen & Yost, 2004). They are often more frequent and impersonal, dominated by visual images.

Fantasi seksual pria lebih aktif dan agresif dibanding wanita. Lelaki lebih sering berfantasi seksual, didominasi oleh gambaran visual (Carrol, 2013). Jadi, ketika lelaki sedang berfantasi seksual, seringkali yang dibayangkan itu gambaran tubuh wanita, posisi bercinta, dapet pasangan yang agresif, oral sex, melakukan hubungan seksual dengan pasangan baru, juga melakukan hubungan seksual di pantai (Maltz & Boss, 2001, dalam Carrol, 2013) dan banyak lagi yang tergambar dalam satu bayangan visual.

Itu sebabnya, for getting happily ever after orgasm with masturbation, akan lebih mudah baginya melakukannya sambil membayangkan yang ena-ena ditambah adanya stimulus yang membuatnya semakin kuat membayangkan sesuatu yang ena-ena itu. Makanya, banyak lelaki yang candu video porno, candu phone sex video sex… 

Kalau perempuan?

Gue pribadi, ketika berfantasi yang ena-ena, lebih membayangkan sesuatu yang emosional seperti: ketika pasangan gue membelai rambut gue lalu dia mengucapkan kata-kata manis yang membuat gue tersenyum geli lalu dia menciumi tubuh gue perlahan dari mulai kening, kedua mata gue, hidung gue, bibir, lalu leher…. sampai ke bawah-bawah.

Yang telah gue jabarkan di atas selaras banget sama kata-kata ini, “Overall, women’s sexual fantasies tend to be more emotional than men’s and include more touching, feeling, partner response, and ambiance (Zurbriggen & Yost, 2004, dalam Carrol 2013).”

Kalau pada perempuan, seringkali yang dibayangkan lebih ke hal yang romantis seperti ketika bercinta dengan pasangan, membayangkan pengalaman seksual sebelum-sebelumnya, pertempuran dalam berbagai posisi, having sex di ruangan lain selain kamar, dan having sex di atas lantai bercarpet (Maltz & Boss, 2001, dalam Carrol, 2013).

Such a romantic moment  gitu ngga sih? Menurut gue sih iya.

Next question, what is the function of masturbation?

Experts view masturbation as a strategy to improve sexual health, reduce unwanted pregnancy, and avoid sexually transmitted infections (STIs; Kaestle & Allen, 2011, dalam Caroll 2013).

Masturbasi diperuntukkan untuk memenuhi kebutuhan orang-orang dalam berbagai usia, dan itu merupakan cara yang ampuh untuk mengurangi ketegangan dan kecemasan serta menyalurkan fantasi seksual (Carrol, 2013). As you know, kalau kita lagi pengen kan bawaannya panas dingin tuh, dan masturbasi sangat efektif untuk membuat diri lega kembali.

Dengan masturbasi, kita juga dapat mengeksplor tubuh lebih dalam untuk mengidentifikasi bagian mana nih yang potensial alias bagian sensitif pada tubuh, untuk selanjutnya diinformasikan kepada pasangan kita, untuk diberi intervensi lebih. You know what I mean.

Yang sangat menarik, masih berdasarkan textbook dari Carrol, disebutkan bahwa ternyata eh ternyata, mayoritas pria dan wanita belajar masturbasi dari media sosial dan teman-teman dekatnya, bukan dari orang tua mereka (Kaestle & Allen, 2011, dalam Carrol 2013). Hal ini menjawab kebingungan gue, dan membuat gue mengangguk seketika. Iya juga, ya.

Terus… pertanyaan selanjutnya: apa efek dari masturbasi? 

NSSHB (National Survey of Sexual Health and Behavior) menemukan bahwa masturbasi tidak berhubungan dengan kesehatan seseorang atau status hubungan seseorang (Herbenick et al., 2010, dalam Carrol, 2013).

Jadi seringnya masturbasi bukan berarti seseorang akan semakin sehat, pun sebaliknya. Namun berdasarkan satu sumber, masturbasi bisa jadi satu cara untuk terapi penyembuhan bagi orang yang memiliki disfungsi seksual. Masturbasi juga bisa menjadi satu pelajaran penting untuk lelaki agar dia ngga mengalami premature ejaculation atau ejakulasi dini, karena dengan masturbasi, lelaki bisa belajar untuk mengontrol apa ya disebutnya… pokoknya mengontrol dirinya biar ngga terlalu cepat mengalami orgasm. 

Dan kalau ada yang nanya: jomblo sering masturbasi ya?

Sudah terjawab. Ngga ada hubungannya. Yang sudah menikah pun, kalau dia udah ngga kuat tapi pasangannya jauh, atau pasangannya lagi ngga mood atau lagi in period, bisa aja tuh masturbasi. 

Kalau keseringan masturbasi gimana?

Seringnya seberapa dulu. Kalau intensitasnya sampai 50 kali sehari jelas ngga sehat. Capek, brow, sist!

So, whaddayathink about masturbation? Chat me if you wanna ask and/or discuss about this.


Sources:

Carrol, L. Jannel. 2013. Sexuality Now Embracing Diversity, Fourth Edition, international edition. Canada: Wadsworth, Cengage Learning. | Are there any side effects of masturbation? (Sex query) | Thought: What Do You Think About Desire?

Advertisements

2 thoughts on “Thought: What Do You Think About Masturbation?

  1. terreitory says:

    Yang pasti sih kalo habis orgasme tuh (karena ena-ena dengan orang lain atau ena-ena dgn diri sendiri) langsung rileks aja badannya trus tidurnya nyenyak hahahaha…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s