Jangan Percaya Aku = Aku Tidak Siap Dipilih

Kisah klasik, lagi. Pekerjaan yang tidak mendapat insentif apapun kecuali intisari diri sendiri, apakah merasa berkembang atau sebaliknya. Berawal dari kenekatan diri yang berujung pusing sendiri. Karena over thinking, lebih tepatnya, memikirkan banyak. Ajuan penelitian, beban SKS,  kepanitiaan, peran di organisasi, peran sebagai anak…. Goddamnit! Gue seperti lemah karena pikiran ini.

No, i’m strong! Gue kuat seperti besi teralis yang dibakar. Ngga akan hancur. Paling menghitam aja. Iya. Anggaplah hitam adalah buah ego. Api, kebencian. Gue egois, lebih dari apapun, sejak gue mengerti bahwa hidup penuh keegoisan. Kepentingan pribadi, kesenangan diri sendiri. Gue membenci api yang meresahkan, tidak membantu apapun.

Ini perasaan gue selaku pemimpin, sekali lagi. Betapa banyak tulisan seperti ini, membuat gue bertanya-tanya, “Apakah gue pantas menjajaki peran yang sebegini penting?”

Lalu gue seperti berduka, seperti meyesal, dan gue membangun benteng lagi. Tidak, tidak. Diri ini bahagia sebagaimana mestinya. Diri ini bangga memerankan peran pengendali ini. Diri ini senang bukan main.

Buahnya? Berpura-pura, terkadang.

Pantaskah gue menuntut? Atau memang dituntut sudah posisi terbaik bagi gue?

“Jangan terlalu percaya padaku, takut kamu kecewa.”

Dan gue baru tersadar bahwa seolah kata itu artinya “Aku tidak siap. Aku tidak bersedia. Jangan pilih aku.”

Bagaimana mungkin aku tidak memercayai pilihaku di saat tugas serumit ini?

Kelangsungan hidup sebagai anak yang ingin berbakti dengan akademik yang harus meningkat atau konsekuensi buruk akan muncul, tuntutan kerja (yang sekali lagi) tidak memberikan insentif apapun kecuali naik tingkat dalam berperan, kepedihan hati yang ingin selalu terlihat baik padahal ia telah dikroyok habis-habisan.

Bagaimana mungkin aku tidak memercayai pilihanku, yang seyogyanya membantuku?

Bait ini akan mengisahkan kekecewaan yang mendalam.

“Aku akan mencoba semaksimal mungkin. Jika Tuhan mengizinkan (insyaallah artinya ini bukan?), aku akan membantu. Tapi jangan terlalu percaya, takut kamu kecewa.”

Gue resmi kecewa, jujur, dari hati terdalam yang serasa seperti bolong. bukan udara masuk, tapi terhempas kosong. Gue telah kecewa.

Janji memang menenangkan. Tak bisa kah?

Jika Tuhan mengizinkan?

Bagi gue sama saja bilang, “aku tidak yakin, aku tidak bisa, aku tidak mau.”

Perspektif? Ya. Katakanlah. Ngga ada yang benar pun salah dong?

Kalau begitu, silahkan berputar dalam perspektif masing-masing. Syukur, kalau bertemu pada satu titik temu yang indah. Kalau tidak? Bersiaplah meanggung rasa kecewa yang mendalam dan tegas.

Ya. Gue kecewa, sekali lagi. Bukan karena gue menyukai janji. Tapi gue ingin ketenangan. Dengan percaya gue akan tenang, demi apapun. Tapi apa? Diri ini malah dituntut untuk tidak percaya.

Mau memutar waktu?

Iya, maka kamu boleh berkata, “Aku tidak siap.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s