Semakin Tua

Hampir pukul 12 siang, di gazebo depan gedung 2, tempat yang paling jarang gue kunjungi selama tiga tahun kuliah. Agak panas, tapi tak apa selagi listrik dan internet lancar. Gue suka siang ini. Sepi, gue bisa menulis.

Semakin tua.

Terlihat dari atmosfernya, yang membedakan dulu dan sekarang. Dulu, setahun yang lalu, gue dan kawan lain duduk di sana, di selasar gedung 3. Rapat. Gue sangat ingat betapa membosankannya, betapa rasanya ingin memindahkan bokong ke atas kasur di rumah. Gue, di tingkat dua, dengan beban kepanitiaa di pundak. Bukan hanya satu, tapi tiga, ditambah dua organisasi.

Satu beban sebagai staff yang bisa dibilang berat. Beban untuk upgrading diri dan jaga kesehatan. Latihan malam hari. Banyak. Suara perut, berpikir, membuat lembar observasi, membuat soal, kuda-kuda, tatap mata. Banyak.

Dua beban lagi sebagai koordinator, sebutannya. Di dua kepanitiaan berbeda. Satu, di kepanitiaan yang diharapkan, satu lagi tidak. Beban yang sama-sama berat, namun berbeda.

Ketiga ini membuat pusing, terutama di dua, karena waktunya hampir bersamaan. Beban menjadi koordinator dan staff yang harus upgrade dirinya dengan latihan full sama-sama berat, tidak dapat dibagi.

Ada lagi, dua organisasi. Satu tempat gue menyalurkan passion yang gue punya. Satu lagi tempat yang gue pikir bisa menunjang organisasi yang baru gue sebut sebelum kalimat ini. Tidak terlalu berat dan pusing. Gue dapat menjalaninya dengan sukses, meski belum sempurna.

Namun akhirnya berakhir juga.

Dua tahun yang lalu, lebih menyenangkan, mungkin. Hanya sebagai staff yang tinggal datang, kasih pendapat, dapat apresiasi, dan sudah. Tidak ada tanggung jawab moral untuk membuat yang lain senang. Tidak ada beban tugas birokrasi ke atasan pun ke bagian lain.

Akademik?

Dua tahun lalu, tidak merasa memiliki tanggung jawab berlebih, karena merasa selalu ada hari esok. Masih ada semester depan, masih ada tahun depan, masih ada esok dan esok. Masih menyenangkan. Tidak banyak beban tugas. Tubuh masih fit dan nyaman.

Setahun lalu, masih dirasa sama dengan beban tugas dan tuntutan kognitif yang meningkat. Namun masih dirasa santai. Masih dengan pemikiran yang sama. Masih ada hari esok, masih ada kesempatan perbaikan.

.

.

Sekarang.

Aku duduk bersila berteman kicauan burung yang terdengar lirih dari sebelah kanan, ditambah bunyi mesin kendaraan yang sesekali melintas di jalan di sebelah kiriku, ditambah lagi suara langkah dibarengi suara yang sayup-sayup kadang dengan tawa.

Beberapa menit lalu, di sana, tempat rapat setahun yang lalu, penuh tawa canda orang banyak. Posisi mereka sama seperti gue, setahun yang lalu.

Sekarang.

Gue duduk berteman realita. Semakin tua, semakin dituntut untuk berpikir. Semakin dituntut untuk menyelesaikan beban akademik yang boleh dibilang… membuat diri sedikit menyesal.

Andai, dulu ngga santai-santai. Andai, dulu pikira tidak dipenuhi kata, “Ah masih ada besok”. Andai, dulu memanfaatkan seluruh SKS yang ada untuk membuat semua ini cepat selesai. Dan andai-andai lainnya.

Gue semakin tua.

Teman gue, semakin tua juga, semakin berpikir juga. Mereka semakin berkurang. Satu per satu menghianati gue dengan keberhasilanya. Meninggalkan gue. Gue sendiri. Berjuang, dan berjuang. Bukan penghianatan seperti wanita yag selalu diselingkuhi prianya, bukan. Penghianatan berbuah kesepian, tepatnya.

Semakin tua, semakin sedikit gue berbagi kisah dengan sebaya, dengan mereka yang dulu seringkali bersama. Hidup yang kian sibuk, dan reminder tujuan di kepala masing-masing yang menjadi penyebab utamanya. Alarm kognisi dan afeksi juga. Semua sama. Mencari tempat bercerita yang sejenis dengan dirinya, yang dapat memenuhi kebutuhan afeksi pun membantu dalam segala kegiatan dan keinginannya.

Semakin tua, gue semakin bertanya banyak hal. Simple, membuat geli, lucu.

Siapa aja yang nanti akan datang ke wisudaan gue?

Apakah gue akan mendapat banyak ucapan selamat pun hadiah?

Lucu, memang.

Sudah memikirkan berapa banyak yang datang dan seberapa ribetnya memegang hadiah, padahal draft ajuan penelitian aja masih di sebelah laptop, belum gue kumpulkan.

Lucu, memang.

Bukan lagi gue berniat untuk mencari teman banyak, namun melihat manakah yang masih menganggap adanya gue. Manakah yang masih setia di samping gue. Manakah yang masih mengakui gue temannya yang mau mereka apresiasi.

Lucu, memang.

Gue, yang sejak semester awal ngga pernah bisa duduk tegak di kursi kuliah lantaran selalu kelelahan dan tidur, selalu ngga bisa diam di tempat yang gue senangi, di tempat gue menyalurkan passion gue, dan banyak yang gue kenal di sana, tapi gue ketakutan. Gue takut mereka ngga ada di hari bahagia gue. Gue takut anggapan mereka ke gue tidak sebaik itu. Gue takut ngga ada yang datang.

Lucu, memang.

Ketakutan ditinggal sekaligus bahagia itu beda tipis, di saat seperti ini. Bahagia melihat teman yang berhasil lulus, sekaligus sedih karena ia pergi untuk mencapai hari-harinya yang lebih baik, dan itu sangat menakutkan, sekali lagi.

Lucu, memang.

Semakin tua, semakin gue merasa tidak punya teman kecuali peers gue sendiri, Agen Hidup. Tanpa mereka, mungkin gue hanya akan menjadi sepeda ontel usang yang meski mahal harganya, tapi begitu terlihat menyedihkan jika sendiri di backgrund lusuh, apalagi jika ditambah sarang laba-laba yang menepel bak payet di kebaya.

Semakin tua, semakin gue merasa sendiri. Sendiri membuat keputusan apakah akan ambil skripsi semester depan atau depannya, sendiri di perpustakaan mencari-cari referensi yang sesuai dengan apa yang gue inginkan, sendiri di atas kasur kos yang begitu terasa kawat-kawat di bawahnya, sendiri ketika makan sendiri di kantin dan gue tidak sehebat itu untuk berani bergabung dengan yang lain kecuali dengan Agen Hidup.

Semakin tua, gue merasa tidak berarti. Gue tidak sehebat teman gue yang lain yang IPKnya jauh melampaui punya gue. Gue tidak sesupel teman gue yang lain yang temannya di mana-mana, yang tidak pernah kelihatan marah dan sedih, yang selalu bisa tertawa dengan yang lain.

Semakin tua, gue merasa segala beban begitu bertambah. Orang tua yang berharap putrinya bekerja dan dapat penghasilan layak. Adik yang nantinya harus merasakan betapa lelahnya bokong ketika duduk di bangku kuliah sambil mendengarkan dosen. Pasangan hidup yang… omygatt apakah akan ada yang sebaik itu menerima gue yang ngga ada apa-apanya?

Semakin tua, semakin burn out. Sekarang lagi burn out, tepatnya.

Semakin tua, satu per satu akan pergi meninggalkan diri. Satu per satu teman akan pergi dengan kebahagiaannya. Bukan gue takut dan iri. Tapi masa bahagia bersama yang mungkin ngga akan ada lagi. Ketawa-tawa, tidur umpel-umpelan kayak pindang, nonton film horror tiap malam, mungkin ngga akan ada lagi.

Semakin tua, orang tua pun semakin tua, semakin keriput, semakin lemah. Diri harus bersiap ditinggalkan kapan pun. Tanpa alarm, apalagi kata pamit. Semua orang punya masa yang sama, dan harus siap.

Semakin tua, bahagia bukan perkara ketika dikasih permen sama om dan tante, tapi apakah kita dapat membuat orang lai bahagia dengan adanya diri di tengah-tengah? Atau justru membuat susah.

Semakin tua, harus siap hidup sendiri, di atas kaki sendiri, menikmati kesulitan sendiri.

Semakin tua,

harus siap mengandalkan diri sendiri,

harus siap akan konsekuensi keputusan,

harus siap ditinggalkan dan meninggalkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s