Tidak seperti ceritaku, maka aku diam. Aku seegois itu.

Entah lebih puitis atau apa, gaya bahasa gue kini serasa semakin menohok. Kalau dibaca ulang, rasa-rasanya seperti gue digurui. Ya. Oleh tulisan sendiri. Oleh kata-kata sendiri. Well, tulisan gue memang buah penilaian dari diri sendiri, baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Dan itu rasa-rasanya cukup menyinggung.

Kalau bicara gue ‘saat ini’, tidak pernah sekalipun tidak terlintas gue di masa lalu. Pegasuhan, kelakuan gue dan bagaimana orang lain menanggapinya, sikap orang terdekat gue, dan banyak. Lalu gue kebingungan. Apakah se-berpengaruh-itu?

Terkait emosi. Marahnya gue sama seperti Papa dan Mama. Mereka beda tipe, tapi gue seperti mengikut keduanya. Mama, yang sukanya ngambek ngga jelas. Ketika marah, dapat sangat dideteksi dari diamnya, dari lekukan di lehernya, dari manyun bibirnya. Seperti gue ketika sedang badmood. Papa, yang jarang sekali marah, yang ketika marah dapat menghancurkan rumah pun isinya, serta terdengarnya kata kasar di mana-mana. Sama seperti gue yang ketika marah, bisa membanting apapun di dekat gue. Kecuali laptop dan handphone. Sayang.

Marah seperti mama, mungkin hampir semua teman gue, terutama para Agen, mengerti. Sangat hapal dengan pola ini. Diam, mata memicing, lipatan di dagu bertambah.. Cukup terlihat, tak dapat disembunyikan. Marah seperti Papa, yang mungkin kebanyakan orang tak tahu. Tak bisa gue keluarkan, demi menjaga diri untuk tetap selalu disukai banyak orang. Atau memang belum ada hal yang membuat gue se-marah-itu? 🙂

Bicara emosi, marah yang paling mudah gue definisikan. Banting pintu, lempat piring, bentakan, memaki diri sendiri, menyakiti diri sendiri. Rasanya hanya itu yang gue kenali. Sedih, sedikit tahu. Pun itu jika gue maupun orang di sekitar  gue terlihat  berbeda. Tatapan mata yang sayup menurun, lengkungan bibir yang berubah.. Sebatas itu.

Senang? Bagaimana gue menjelaskan ini? Sekarang, semakin gue besar dan mengerti akan suatu sikap sarat makna, semakin gue sulit mendefinisikan kata’senang’. Mungkin ada tingkatannya. Sedikit senang, cukup senang, senang, sangat senang, amat sangat senang. Dan ini yang sulit. Senang bisa jadi kamuflase. Senang bisa jadi topeng yang keluar saat emosi lain berusaha sedalam mungkin disembunyikan.

Gue pribadi tidak tahu ekspresi senang yang tulus. Karena gue pun tidak pandai mendefinisikannya. Bagi gue tertawa, senyum, terlihat sama. Orang tertawa, tersenyum, buan berarti itu yag ia ingin tunjukkan. Bisa jadi tuntutan norma atau apapun di belakangnya yang menjadi kepercayaannya.

Dipikir-pikir, sedih, kecewa, marah, pun sama. Tapi kerapkali orang tak gamblang mengekspresikan ini. Yang keluar senyum lagi, tawa lagi, diam tanpa ekspresi lagi. Gue yang termasuk ini, kadang.

Tapi gue egois. Gue begitu menuntut orang lain tahu apa yang gue rasakan. Lewat tulisan lebih sering. Dulu lewat status di facebook dan itu alay banget. Sekarang lewat blog yang gue share ke khalayak. Ke line, ke facebook, twitter, path, dan banyak. Gue begitu ingin rasa yang gue rasakan, yang begitu mudah gue ekspresikan lewat tulisan, diketahui orang banyak. Bisa sedikit dirasakan orang banyak. Gue ngga mau memendam rasa sendiri.

Lalu bagaimana dengan kisah orang lain yang secara langsung maupun engga mereka bagikan ke gue?

Gue egois, sekali lagi.

Terkadang cerita itu hanya masuk ke telinga dan memori gue, tidak ke hati gue. Sangat sulit untuk merasakannya, jika itu tidak terdengar seperti kisah yang gue alami. Kisah yang hanya sebatas bertemu cinta namun tak jumpa, kisah kelam masa lalu yang sebenarnya ngga kelam-kelam amat, kisah kesibukan sebagai orang yang berperan dalam sekumpulan orang lagi, kisah akademik yang ngga bagus-bagus amat… sebatas itu.

Bagaimana tentang kisah cinta bertepuk sebelah tangan? Masih masuk.

Kisah cinta yang tak jadi? Agak masuk.

Kisah cinta awal bahagia berakhir putusnya komitmen? Sedikit masuk.

Kisah dicintai orang lalu orang itu berpaling karena satu dan lain hal? Nampaknya agak memaska jika ingin masuk.

Begitu. Sulit sekali memosisikan diri dengan kisah (yang katanya) pedih bagi orang lain, pun yang sangat menyenangkan bagi orang lain, tapi kita tak merasakannya langsung. Kata “iya,” atau “kalo aku jadi kamu, sih.”, adalah kata andalan untuk menimpali. Tapi rasa-rasanya seperti tak setulus ketika ceritanya sama seperti cerita sendiri.

Gue egois, sekali lagi. Terkadang gue tidak peduli dengan rasa orang lain, dengan keluhan orang lain yang gue pikir ‘yaelah cuma gitu doang’, padahal saat itu gue tidak sedang merasakannya.

Gue tidak merelakan diri untuk menempati posisi orang lain ketika gue tidak ingin. Gue se-egois-itu. Ngga sering, namun ada satu dua kisah. Yang paling gue ingat, yang baru saja terjadi, ketika seseorang dengan gamblang mengeluhkan kekuranganya yang tidak dapat sepenuhnya membantu gue. Alasan, gue pikir. Gue se-egois-itu.

Terkadang, gue bukan pendengar yang baik. Itu yang gue nilai dari diri gue yang gue lihat dari sikap orang lain ke gue. Dari sedikitnya mereka yang berbagi kisah ke gue. Dari gue yang tidak sepenuhnya mengerti kisah mereka yang bercerita. Dari gue yang bodoh dalam menanggapi, tak seindah ketika orang lain menanggapi hal yang sama.

Perihal ini, gue sedang ingin egois, sejujurnya.

Mendapati segerombolan orang dengan kisah sama dan saling menimpali, se-egois-itu ue tidak ingin berkomentar. Bagi gue, ketika hal itu tidak gue rasakan sendiri, ketika itu pula gue angkat tangan.

Gue tidak mengerti, dan seperti tidak ingin mengerti.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s